MUI Pecat Gus Ishom karena Menyampaikan Tafsir yang Benar dalam Sidang Ahok

Sabtu, 25 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Majlis Ulama Indonesia (MUI) sudah memecat Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, Ahmad Ishomuddin, sesuai Keputusan yang diambil dalam rapat pimpinan MUI pada Selasa (21/3). Hal itu ditegaskan oleh Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid.

“Berkaitan dengan berita tentang pemberhentian Saudara Ishomuddin dari kepengurusan MUI, dengan ini kami sampaikan bahwa berita tersebut benar,” ujar Zainut melalui pesan singkat yang diterima merdeka.com, Jumat (24/3).

Dia menjelaskan, pemberhentian Ishomuddin sebagai pengurus MUI bukan semata-mata karena menjadi saksi meringangkan bagi terdakwa penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok), namun karena dinilai tidak aktif dalam MUI.

“Perlu diketahui bahwa secara berkala Dewan Pimpinan MUI melakukan evaluasi kepengurusan untuk memastikan bahwa semua anggota pengurus MUI agar dapat melaksanakan amanat dan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya,” jelasnya.

Evaluasi tersebut berlaku untuk semua pengurus. Kriteria ketidakaktifan itu dinilai dari kehadiran dalam rapat-rapat dan kegiatan MUI lainnya. Pemecatan terhadap Ishomuddin juga karena melanggar disiplin organisasi.

Pernyataan ini berbeda dari yang disampaikan Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas. Sebelumnya, Anwar membantah telah resmi melakukan pemecatan. Namun, dia mengakui banyak desakan untuk melakukan pemecatan. Alasannya, Ishomuddin dianggap tak sejalan dengan MUI karena terkesan membela Ahok dalam persidangan.

“Yang mengusulkan Ishomuddin dipecat bukan hanya MUI, orang di jalan juga mengusulkan dipecat, karena pandangannya tidak sejalan dengan MUI,” kata Anwar saat dikonfirmasi, Jumat (24/3).

Anwar menjelaskan sampai hari ini dia belum menandatangani surat pemecatan. Setiap pemecatan di MUI harus ditandatangani oleh Sekjen dan Ketua Umum.

“Kalau pecat pakai SK, saya sebagai Sekjen belum pernah menandatangani SK pemecatan,” katanya.

Mesi demikian, Anwar mengakui internal MUI telah melakukan pembicaraan untuk melakukan pemecatan terhadap Ahmad Ishomuddin yang juga menjabat sebagai Rais Syurian PBNU tersebut. “Memang sudah dibicarakan di MUI,” katanya.

Ahmad Ishomuddin tak ambil pusing dengan ancaman pemecatan usai jadi saksi meringankan Basuki T Purnama. Dia dihadirkan sebagai saksi oleh kuasa hukum Ahok dalam kasus penistaan agama.

“Saya menyadari betul dan sudah siap mental menghadapi risiko apa pun, termasuk mempertaruhkan jabatan yang sejak dulu saya tidak pernah memintanya,” ujar Ishomuddin dalam keterangan tertulis, Jumat (24/3).

Dia menjabat Rais Syuriah PBNU periode (2010-2015 dan 2015-2020) maupun Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (2015-2020). Dia bersedia memenuhi permintaan kuasa hukum Ahok untuk bersaksi demi menegakkan keadilan.

Ishomuddin mengaku hadir di persidangan bukan atas nama PBNU, MUI, maupun IAIN Raden Intan Lampung, melainkan sebagai pribadi. Dia mengaku mau menjadi saksi ahli karena banyak orang berpikir ulang karena merasa takut.

“Tentu saya juga berharap agar seluruh rakyat Indonesia tenang dan tidak terus menerus gaduh apa pun alasannya hingga vonis dewan hakim diberlakukan,” tuturnya.

Menyampaikan Tafsir yang Sebenarnya

Adapun statemen/tulisan yang asli dari Kiai Ahmad Ishomuddin adalah sebagai berikut:

_________

“Saya meneliti dengan cermat sejumlah banyak kitab tafsir al-Quran khusus terkait QS. al-Maidah ayat 51 dari yang paling klasik hingga yang terkini. Kata awliya’ yang disebut dua kali nyata merupakan kata yang musytarak. Yakni memiliki beragam makna, sehingga mufasir bebas memilih yang akibatnya multitafsir, bukan monotafsir (hanya berarti pemimpin).

Konteks ayat tersebut berbicara mengenai larangan terhadap orang-orang beriman, termasuk orang munafik yang pura-pura beriman, pada masa Nabi Muhammad Saw. agar tidak berteman dekat, tidak menjadi sekutu, tidak saling membantu dan menolong, terhadap orang Yahudi dan Nasrani, dimana sebagian Yahudi menjadi penolong yang bekerjasama terhadap orang Yahudi lainnya, demikian juga sebagian orang Nasrani menolong sebagian Nasrani lainnya dalam memusuhi Nabi Muhammad Saw., ajaran Islam yang beliau bawa, dan para sahabat yang mengikutinya.

Jadi, ‘illat (motif hukum, causa legis, alasan) pelarangannya adalah ghayat al-‘adawah wa al-khiyanah (karena ada permusuhan yang sangat dan dikhawatirkan terjadi pengkhianatan) oleh orang beriman yang munafik dalam suasana perang/tidak damai pada masa itu. Jadi, ayat tersebut konteks aslinya tidak ada kaitannya secara langsung dengan pemilihan gubernur.

Diantara kitab-kitab tafsir al-Quran yang sempat saya teliti dengan cermat adalah:

  1. Tafsir ath-Thabari Juz 8
  2. Tafsir al-Qur’an al-Adzim (Ibn Katsir) Jilid 3
  3. Tafsir al-Ma’mun Juz 2
  4. Tafsir Hadaiq ar-Ruh wa ar-Raihan fi Rawabi ‘Ulum al-Qur’an Jilid 7
  5. Tafsir al-Baghawi Ma’alim at-Tanzil Jilid 3
  6. Hasyiyah al-Qunawi ‘ala Tafsir al-Imam al-Baidhawi Juz 7
  7. Hasyiyah Muhyiddin Syaikh Zadah ‘ala Tafsir al-Baidhawi Juz 3
  8. Al-Kasysyaf ‘an Ghawamidh at-Tanzil Juz 2
  9. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (al-Qurthubi) Juz 8
  10. Tafsir al-Fahr ar-Razi Juz 12
  11. Fath al-Qadir al-Jami’ Baina Fannai ar-Riwayat wa ad-Dirayat min ‘Ilm at-Tafsir (asy-Syaukani) Juz 2
  12. At-Ta’wilat an-Najmiyyah fi at-Tafsir al-Isyariy ash-Shufiy
  13. Ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur (as-Suyuthi) Juz 5
  14. Tafsir al-Mulla ‘Ali al-Qariy Jilid 1
  15. Tafsir Ruh al-Ma’ani Jilid 2
  16. Al-Kasysyaf wa al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Tafsir ats-Tsa’labi) Juz 2.

Silakan membacanya dengan teliti, semoga yang saya tulis ini bermanfaat untuk menambah ilmu dan pemahaman yang benar terkait tafsir QS. al-Maidah ayat 51 yang di Indonesia sangat terkenal itu. Segalanya akan baik jika berdasarkan ilmu, bukan atas dasar dorongan hawa nafsu. Semoga Allah menjaga kita dari ketergelinciran dan kemaksiatan kepadaNya. Terimakasih.” (ISNU)

Sumber: Muslimoderat

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: