Nadirsyah Hosen: Metode Islam Nusantara Bisa Disebarkan Secara Global

22 April 2016,

AUSTRALIA, ISLAMNUSANTARA.COM – Visi Islam Nusantara yang sekarang dikembangkan oleh Ketua NU Said Agil Siraj bisa berkembang secara global, bila yang disebarkan adalah metodenya, dan bukan produk.

Demikian pendapat Nadirsyah Hosen, Dosen Universitas Monash, Melbourne dalam seminar yang digelar oleh Pusat Studi Asia Tenggara Universitas tersebut hari Senin (18/4/2016) di kampus Caulfield.

Seminar yang juga menampilkan Dr James B. Hoesterey dari Universitas Emoroy (Amerika Serikat) mengambil judul Indonesia’s Big Quandari: Islam dan Moderation (Kebingungan Besar Indonesia: Islam dan Moderasi).

Dalam seminar tersebut, Nadirsyah Hosen yang sejak awal 2016 pindah dari Universitas Wollongong (New South Wales) untuk mengajar di Fakultas Hukum Monash University membawakan topik: Islam Nusantara: between local and global Islam.

Sementara itu, Dr Hoesterey membicarakan penelitian yang sedang dilakukannya mengenai “Islam Moderat” di Indonesia.

Dalam awal penjelasannya Dr Nadirsyah Hosen yang juga adalah Ra’is Syuriah pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru menjelaskan latar belakang konsep Islam Nusantara yang dikembangkan oleh Ketua NU sekarang ini Said Agil Siraj.

Menurut Nadirsyah, konsep Islam Nusantara bukanlah menjadikan Islam mengikuti budaya di Jawa atau budaya di Indonesia.

“Islam Nusantara adalah konsep mempromosikan budaya lokal. Jadi dimanapun Islam berada, maka dia bisa berinteraksi dengan budaya setempat. Jadi misalnya akan ada Islam Australia, atau Islam Eropa, atau Islam Amerika. Jadi ditekankan adalah metode bahwa Islam itu bisa berinteraksi dengan budaya lokal.” kata Nadirsyah.

Bila hal tersebut tidak dilakukan dan penekanan dilakukan untuk menyebarkan produk dari Islam Nusantara sebagai hal yang harus dicontoh oleh penganut Islam di tempat lain, maka pemikiran tersebut akan tidak mendapat sambutan, kata Nadirsyah lagi.

Dia mencontohkan misalnya mengenai kebiasaan mudik yang bisa dianggap menjadi ciri khas Islam Nusantara atau kebiasaan melakukan tahlilan.

“Di Pakistan, kebiasaan mudik menjelang Lebaran juga ada, dan di Maroko, kebiasaan tahlilan juga dilakukan. Jadi ini tidak bisa dikatakan sebagai produk Islam Nusantara saja.” tambahnya.

Diakui oleh Nadirsyah Hosen sejak konsep ini dibicarakan dalam Muktamar NU tahun 2015, perdebatan mengenai apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan Islam Nusantara masih terjadi di kalangan pengikut NU sendiri, baik yang setuju maupun yang tidak.

Menurut Nadirsyah, Islam Nusantara adalah kelanjutan dari konsep pribumisasi Islam yang dicetuskan oleh pemimpin NU sebelumnya, mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid, yang kemudian dilanjutkan oleh pemimpin berikutnya Hasyim Muzadi.

“Pribumisasi Islam ini adalah bentuk dari perlawanan terhadap visi Islam transnasional yang sekarang kita lihat yang dilakukan organisasi seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin ataupun ISIS sekarang ini bahwa corak Islam dimanapun harus sama.” kata Nadirsyah. “Konsep pribumisasi Islam ini oleh Agil Siraj sekarang diubah menjadi Islam Nusantara.”

Nadirsyah menggambarkan contoh budaya lokal seperti kebiasaan makan siang di hari Natal (Christmas Lunch) yang banyak dilakukan oleh warga Australia. “Yang harus kita lihat adalah makan siangnya, bukan Hari Natalnya karena yang menjadi tuan rumah juga mungkin tidak ke gereja untuk merayakan Natal. Jadi itu bukan perayaan keagamaan semuanya, sebagian kebiasaan. Jadi kita boleh hadir di sana.” katanya. (ISNU)

Sumber: DetikNews

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: