NU dan Menhan Adakan Pertemuan

Selasa, 07 Juni 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan Nahdlatul Ulama (NU) adakan pertemuan. Dalam pertemuan ini, keduanya menyampaikan harapan tentang institusi masing-masing.

Acara yang dilangsungkan di Aula Bhinneka Tunggal Ika di Kantor Kemenhan ini bertema “Silaturahmi Menhan Bersama Warga NU dalam Rangka Menyongsong 1 Abad NU”. Hadir dalam acara para sesepuh NU dan Menhan Ryamizard Ryacudu.

Sambutan pertama disampaikan oleh Ahmad Bagja dari perwakilan NU. Bagja mengatakan bahwa agenda pertemuan diskusi ini sudah dijalankan secara rutin.

“Pertemuan ini berlangsung empat tahun. Pada kesempatan ini kita bersyukur dapat pandangan Menhan yang punya kedekatan dengan NU,” ujar Bagja di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (6/6/2016).

Kemudian Bagja meminta kepada Menhan menyampaikan pendapatnya tentang NU dan harapan kepada NU di masa depan. Ryamizard menyampaikan bahwa NU harus tetap mempertahankan karakter yang ada sebagaimana dulu dicitakan.

“Saya ingin NU tetap setia bahwa NKRI harga mati. Bagaimana NU berjuang, semuanya untuk bangsa dan negara. Jadi nasionalisme NU itu luar biasa. Kondisi ini yang saya tidak ingin ini berubah,” ungkap Ryamizard.

Pada kesempatan yang lain, pertemuan ini juga membahas tentang isu kebangkitan komunisme di Indonesia. Ryamizard menyampaikan bahwa Indonesia tidak membenci komunisme. Sebab Indonesia sendiri masih menjalin hubungan dengan negara yang berhaluan pada komunisme.

“Saya bilang, kita tidak benci komunis. Kita tetap teman Tiongkok, Rusia dan Vietnam. Bukan komunis yang kita benci, tapi PKI,” ujar Ryamizard.

Ryamizard menyampaikan hal tersbut di sebuah forum internasional. Ketika itu, ia bersama perwakilan Korea Utara dan Inggris menjadi pembicara.

Kemudian ia menjelaskan dasar sikapnya tersebut bukan didasarkan atas penilaian suka atau tidak. Tapi karena PKI yang suka melakukan pemberontakan seperti di tahun 1948 dan 1965, sebutnya.

“Sekarang, ini saya rasa mengganggu. Jadi itu tidak boleh terulang kembali. Ini bukan masalah suka tidak tidak. Tapi karena mereka berontak,” ujar Ryamizard.

“Harusnya yang berontak yang minta maaf. Kok dia yang bunuh orang, kita yang minta maaf. Jadi kalau dia tidak berontak, tidak bunuh jenderal, tak akan ada nama Jl Ahmad Yani, Jl Suparman. Kalau saya sih yang masuk akal saja,” tambahnya.

Sementara dari NU, turut menjadi pembicara As’ad Ali Said yang pernah menjadi Wakil Ketua BIN dan Wakil Ketum PBNU. Sebagai bahan pembahasan, As’ad berbicara masalah PKI ini berdasarkan buku “Benturan NU-PKI 1948–1965”.

Buku ini merupakan buku putih NU karena disusun oleh tim untuk penelusuran sejarah persinggungan NU dan PKI. Menurut As’ad, komunisme adalah harapan utopia. Maka, seperti perkembangan di negara lain, PKI pun tidak akan tumbuh subur di Indonesia.

Namun As’ad mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh hanya terfokus pada isu kebangkitan PKI. Persoalan paham yang menyimpang lainnya juga harus terus diwaspadai. Sebab, tidak kalah berbahaya bagi keutuhan NKRI.

“Jadi menurut saya, budaya Indonesia tidak cocok dengan komunis, tapi waspada pasti. Agar tidak ada yang lewat seperti khilafah, radikal. Jadi enggak cuma satu saja yang fokus sehingga yang lain terlewatkan,” ujar As’ad. (ISNU)

Sumber: Detik News

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: