NU Ormas Islam yang Tidak Gampang Kafirkan & Sesatkan Kelompok Lain, Kenapa?

16 Februari 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – NU itu organisasi lslam berlatar tradisi dan etnik yang holistik, yang mengakomodasi aneka ragam disiplin ilmu agama dengan aneka macam pengaruh universalnya. Meski fiqih sangat dominan, namun ilmu tashawwuf, manthiq, kalam, falak, filsafat, bahasa, politik, tarbiyyah, ekonomi, pertanian, kesenian, kebudayaan, dan lain-lain tetap diakomodasi. Belum ada organisasi keagamaan yang seluas dan sebesar NU dlm mengakomodasi aspirasi umat beragama.

Lambang NUKenapa NU tidak gampang menuduh sesat dan mengkafirkan orang? Itu karena pertimbangan aspek-aspek lain selain fiqih, seperti kalam, tashawwuf, politik, budaya dan lain-lain.

Kenapa NU yang lahir dan tumbuh dari dan di pesantren-pesantren yang terletak di pedesaan, yang dianggap primitif, lokal, kuper dan ndeso bisa berkarakter sangat toleran terhadap keragaman dan perbedaan? Karena ilmu-ilmu yang berkembang di pesantren adalah ilmu-ilmu yang dikembangkan oleh ulama dari berbagai bangsa dan negara, yang dalam memaknai sesuatu saling berbeda tetapi disatukan oleh semangat yang sama dalam ijtihad. Silahkan dibaca kitab Abi Najah yang disusun Syekh Khalid Ashari; Akhlaq wal Wajibah karya Al-Maghriby; Bidayatul Mujtahid karya lbnu Rusyd; Shahih Bukhari oleh Al-Bukhari; Durusun Nahwiyah oleh Hafni Bek; Alfiyah oleh lbnu Malik; ljma’ud Dziroyah oleh al-lmam Suyuthi; Jauharo Tauhid oleh lbrahim al-Baqani, dll kitab karya An-Nawawi, As-Samarqandy, Al-Bashrawi, as-Sukandary dan sebagainya. (Baca: Wajah Islam Nusantara Menurut Prof Quraish Shihab dan Gus Mus)

Jadi dilihat dari aspek keilmuan, pesantren sudah global karena asal keilmuannya dari bermacam-macam bangsa dan negara. Ini tentu sangat berbeda misalnya dngan golongan Wahabi yang sangat fanatik dengan ulama Nejd seperti lbnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Bin Baz dan lain-lain ulama badui asal Nejd, yang tak segan mengkafirkan siapa pun yang beda faham.

Nah, dalam hal sejarah, meski memiliki sumber data sangat melimpah, faktanya pesantren sangat lemah akibat dominasi kolonial melalui sekolah-sekolah. Itu sebab, Lesbumi berkepentingan untuk ikut berjuang keras demi membangun paradigma, dogma, doktrin, dan mitos baru keilmuan sejarah dengan epistemologi yang bersifat emic, yang dapat diterima oleh dunia ilmu pengetahuan. (Baca: Sinergi NU dan Muhammadiyah Bangun Peradaban Islam Rahmatan Lil Alamin)

Insya Allah, dengan demikian sisa-sisa pandangan jahiliyah warisan kolonial akan dapat kita kalahkan. Sudah saatnya kita menghunus pisau ilmu untuk mengupas kulit palsu yang membusukkan sejarah aspal ciptaan kolonial, yang diperdagangkan musuh-musuh lslam untuk meneruskan kolonialisme di Nusantara. (Narasumber: KH. Agus Sunyoto, Ketua Lesbumi PBNU) (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: