NU: Penebar Isu SARA itu Primitif, Sekarang Zamannya Kehidupan yang Beradab dan Berbudaya

Jum’at, 16 September 2016

ISLAMNUSANTARA.COM  – Menjelang pilkada Jakarta, isu SARA makin gencar beredar di masyarakat, sehingga membuat risau sebagian kalangan. Isu SARA dianggap tidak relevan dan dianggap ketinggalan zaman.

“Kita ini hidup di abad yang sangat modern. Ini abad 21. Isu SARA itu produk masyarakat abad lampau. Kini saatnya kita berpikir untuk memperkuat kehidupan yang beradab dan berbudaya. Kita harus mampu berpikir obyektif dalam segala hal,” ujar Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta Taufik Damas dalam keterangannya, Selasa (13/5/2016).

Menurutnya, momen pemilihan pemimpin seharusnya dilihat sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk ikut memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

“Masyarakat harus diajak untuk berpikir obyektif dan kritis. Dengan demikian, akan lahir pemimpin yang benar-benar memperjuangkan kesejahteraan hidup orang banyak. Pemimpin yang bertanggungjawab pada masyarakat, bukan pemimpin yang culas dan penuh kebohongan,” tegas Taufik

Seorang pemimpin itu tergantung kemampuan untuk memberikan dan menjamin kemashlahatan atau kesejahteraan warga. “Gubernur di negara Indonesia beda tanggung jawabnya seperti auliya atau wali yang dimaksud dalam negara-negara Islam. Ini negara Pancasila. Ada kesetaraan dalam hukum publik,” ujarnya.

Tidak hanya itu, pemilu atau pilkada jangan sekadar dijadikan ajang untuk menang-kalah, tapi harus dijadikan kesempatan untuk menegakkan pola hidup yang sesuai dengan akal sehat.

“Karena kehidupan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akal sehat akan bermuara pada kesejahteraan jiwa dan raga kita semua. Dan itu cita-cita para pendiri negeri ini,” tutupnya.(ISNU)

Sumber: Indoheadlinenews.com

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: