NU Temanggung Pentingnya Sebarkan Islam Nusantara Lewat Media

22 April 2016,

TEMANGGUNG, ISLAMNUSANTARA.COM – Menyadari betapa pentingnya peranan media dalam efektivitas penyampaian berita dan informasi, wacana, gagasan dan informasi,  PCNU Temanggung bekerja sama dengan Radio Santika FM, STAINU Temanggung, dan PC IPNU-IPPNU Temanggung menggelar seminar penguatan media bertajuk Peran Media dan Civitas Akademika dalam Pengejawantahan Islam Nusantara, Kamis (21/4).

Seminar yang dihelat di aula kampus STAINU Temanggung dan menghadirkan narasumber tunggal, Asep Cuantoro dari KPID Jawa Tengah ini merupakan salah satu rangkaian dari peringatan Harlah ke-93 NU dan ulang tahun ke-2 Radio NU, Santika FM.

Dalam kesempatan ini, Asep Cuantoro secara umum memaparkan materi tentang media dakwah dan berdakwah di media. Namun bagian yang kedua itulah yang lebih banyak dia eksplorasi lebih detil.

Menurut mantan aktivis PW IPNU Jawa Tengah ini, media dakwah kini makin luas dan beragam. Dakwah selain lewat media konvensional seperti ceramah, bisa pula melalui berbagai kanal media yaitu radio, televisi, twitter, facebook, blog, dan media sosial lainnya. Intinya media yang dapat dipakai untuk menyampaikan materi dakwah. Dan media yang berbasis online itulah saat ini yang lebih efektif.

“Dakwah di media hari ini sangat efektif. Mengampanyekan apapun cukup efektif melalui media. Sekarang ini informasi dari media konvensional maupun situs berita online kalah cepat dengan berita yang diperoleh dari media sosial,” kata Asep

Hari ini, lanjut asep, kita dijejali dengan media yang sangat banyak, juga dijejali informasi berjibun segala rupa. Itulah kekuatan media.

Pria yang pernah berkiprah di PMII Jawa Tengah ini menilai bahwa selama ini perhatian kalangan NU akan pentingnya penggunaan media online dalam mengekspos dan mempublikasikan kajian-kajian Islam Nusantara misalnya, masih tergolong rendah. Dalam hal ini orang NU Masih kalah dengan apa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok fundamentalis. Orang NU masih saja gandrung berdakwah dengan media oral atau ceramah. Padahal sudah jamak diketahui bahwa media ceramah ini terdapat banyak kelemahannya lebih-lebih pada masa sekarang.

“Sikap yang keliru bila kita hanya berteriak menyalahkan media-media yang dipunyai orang Wahabi misalnya, karena mereka memiliki banyak media yang beragam itu sudah secara legal,” ujar Asep.

Maka dia mengimbau agar NU perlu mengimbanginya dengan media serupa yang juga legal. Karena dalam mengenalkan suatu ajaran dan misi tertentu ibaratnya seperti  warung yang menyediakan makanan yang menarik. Supaya gagasan Islam Nusantara bisa disajikan secara menarik dan diminati orang, maka menggunakan media online menjadi begitu urgen.

Selanjutnya Asep menyatakan, kalangan NU supaya ebih masif lagi berdakwah lewat media sosial. Begitu pula pengajian-pengajian para kiai NU mulai tingkat MWCNU harus direkam kemudian diunggah di Youtube agar bisa diakses lebih luas.

Seminar yang diikuti dengan cukup antisias oleh ratusan peserta ini makin hidup ketika sesi diskusi. Menjawab pertanyaan peserta,  Asep mengingatkan bahwasanya media itu selain memuat kepentingan bisnis dan politik, di dalamnya tidak lepas pula memiliki agenda kepentingan moral dan agama. Maka NU dengan berbagai media yang sudah dimilikinya supaya gencar pula mengampanyekan di antaranya ajaran Islam Nusantaranya.

Dia menegaskan bahwa saat ini konglomerasi media, yaitu kepemilikan berbagai jenis media yang tersentral hanya pada segelintir nama memang menjadi PR bersama.  Menurutnya semestinya yang mampu mengatasi bahaya yang ditimbulkan dari konglomerasi media  adalah ketegasan pemerintah dan DPR. Karena otoritas yang mengatur masalah itu ada pada pemerintah.

“Secara global, ranah peran KPI hanya mengawasi program siaran yang berjalan. Mana yang layak dan mana yang tidak layak, untuk menjaga martabat dan akhlak anak bangsa supaya tidak rusak,” pungkasnya. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: