PAC GP Ansor Sumenep Kaji Sembilan Nilai Pemikiran Gus Dur

Jum’at, 05 Januari 2018
ISLAMNUSANTARA.COM, Sumenep – Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Pragaan Sumenep Jawa Timur memperingati delapan tahun wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan mengadakan diskusi pemikiran Beliau.

Kegiatan dilaksanakan di kantor Majlis Wakil Cabang atau MWC NU Pragaan, Kamis (4/1). Hadir pada kegiatan tersebut rais syuriyah dan ketua tanfidziyah NU setempat, Pimpinan Cabang Ansor Sumenep, Polsek Prenduan, pengurus ranting NU dan anggota Ansor Pragaan.

Dalam sambutannya, Mohammad Muhri mengatakan bahwa pemuda Ansor harus bangga dengan ideologi Ahlussunnnah wal Jama’ah atau Aswaja. Ideologi ini tidak hanya dianut warga Nusantara, bahkan dipelajari di belahan dunia.

“Sebagai pemuda, kita harus bangga karena NU telah go internasional,” kata Ketua PC GP Ansor Sumenep tersebut. Islam moderat tidak hanya milik NU, tetapi banyak negara merindukan damai, persaudaraan, dan itu bisa dijawab lewat ajaran ini. Bahkan Aswaja NU dapat memadukan konsep negara dan agama menjadi Islam yang ramah serta santun, lanjutnya.

Sementara Rais Syuriyah MWC NU Pragaan KH Zarkasyi Rokhim dalam pengakuannya tentang Gus Dur mengingatkan pemuda Ansor mewaspadai banyak gerakan trans nasional. Keberadaannya bergerak begitu cepat untuk memutus generasi muda dari akar kesejarahan bangsa.

“Idiom kebudayaan kita yang diperas dengan darah dan air mata akan dihapus oleh bentuk penjajahan modern,” katanya. Bahkan, empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI lahir dari akar budaya bangsa yang harus dijaga dan dipelihara.

Dalam paparannya, empat pilar itu oleh Gus Dur dijaga dengan sembilan nilai pemikiran. Yaitu nilai ketauhidan dalam kebangsaan, penghargaan nilai kemanusiaan, keseimbangan dengan tidak ekstrim kanan dan kiri. Juga nilai pembebasan, kesederhanaan yang ditempatkan secara wajar dan patut, tiga persaudaraan yakni islamiyah, wathaniyah dan basyariyah, kesatriaan, kesetaraan, serta kearifan lokal, urainya.

“Kalau budaya kita sudah tercerabut dari akarnya, maka putuslah ketersambungan dengan para pendiri bangsa, dan pada saatnya hancurlah bangsa ini,” kata Kiai Zarkasyi yang juga putra pejuang NU Pragaan KH Abdurrahiem di akhir penjelasannya.

Haul juga diisi deklarasi dimulainya kajian kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratussyekh KH. Hasyim Asyari yang kajiannya dipandu Drs. KH. Warits Anwar selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban Laok.

Kegiatan diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin Kiai Luqman Hamdi. (ISNU)
Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan