Pancasila YES, Khilafah NO

Sabtu, 14 Mei 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Indonesia memliki Ideologi Pancasila dan ini adalah ideologi terbaik bagi bangsa, bahkan terbaik seantero bumi ini. Sebab di dalamnya mencakup semua sendi kehidupan manusia mulai dari ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan.

Bangsa Indonesia wajib menjalankan dan terus mendalami falsafah Pancasila demi untuk menciptakan Indonesia yang adil, tenteram, damai, dan kuat.

“Jadi kalau ada orang atau kelompok yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain, maka mereka bukan warga negara Indonesia dan silakan keluar dari NKRI,” kata Wakil Rektor Bidang Kerjasama UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Murodi di Jakarta, Kamis (12/05/2016).

Murodi menjelaskan, ideologi Pancasila itu juga mencakup agama islam sebagai agama yang komprehensif dan mengandung ajaran yang sangat moderat serta rahmatan lil alamin. Artinya, islam itu tidak hanya membawa keberkahan kepada alam dan manusia saja, tapi seluruh makhluk ciptaan Tuhan seperti binatang, tumbuhan, dan lain-lain, juga membawa kedamaian, kesejahteraan, keadilan. (Baca juga: Ketum PBNU: Jika Ada yang Mengingkari Pancasila NU Siap Lawan)

“Semua sudah tercakup. Jadi apalagi yang mau diganti? Semua sudah ada dalam Pancasila yaitu ketuhanan, kemanusiaan, keadilan. Makanya saya mendorong agar generasi muda kita kembali belajar falsafah Pancasila demi membangun karakter manusia Indonesia yang baik dan bermartabat,” ujar Murodi.

Terkait propaganda paham radikalisme dan terorisme, menurut Murodi, radikalisme itu sudah ada sejak manusia ada. Sekarang tugas bangsa Indonesia adalah menangkal gerakan radikalisme dan terorisme. Dalam pandangannya, radikalisme dan terorisme itu terjadi akibat banyak faktor, tetapi dari banyak faktor itu, paling banyak persoalan ideologi agama.

Dari situlah para penganut paham radikalisme dan terorisme tidak saja mengkafirkan dan menganggap orang yang tidak seagama sebagai musuh, bahkan yang seagama pun seringkali tetap dianggap musuh dan harus dimusnahkan.

Menurut Murodi, upaya-upaya mengkafirkan itu sudah muncul sejak abad 7-8 masehi. Saat itu, terjadi konflik internal dan perebutan kekuasan di banyak negara yang menjadi akar munculnya radikalisme.

Selain itu, tujuan mereka adalah menggulingkan kekuasaan politik, makanya gerakan radikal itu muncul di negara-negara islam, termasuk di Indonesia.

“Mereka ingin mengganti ideologi negara dengan ideologi islam. Itulah salahnya, mestinya yang harus diajarkan ke masyarakat adalah bahwa negara ini didirikan oleh para pahlawan yang berideologi Pancasila yang digali dari sumber-sumber agama itu sendiri,” tutur Murodi.

Selain itu, Murodi menggarisbawahi tujuan kelompok radikal yang ingin mengganti NKRI menjadi khilafah. Ia justru mempertanyakan khilafah yang mana? Menurutnya, khilafah itu sudah habis dan sudah tidak ada. (Baca juga: Bela NKRI, Lupakan Negara Khilafah)

Khilafah itu sudah hancur pada abad ke-8 masehi, saat munculnya dinasti Bani Umayah. Tapi saat itu bukan khilafah, tapi kerajaan (mulk). Menurutnya, khilafah itu sebenarnya terjadi saat era sahabat nabi, Abubakar, Umar, Usman, dan Ali yang sistemnya demokrasi. Tapi setelah Muawiyyah, itu kerajaan monarki yang absolut.

“Mau diganti yang mana? Khilafah sudah selesai, tidak ada lagi. Bahwa model-modelnya boleh ditiru. Karena modelnya yang baik seperti equality (kesamaan), justice (keadilan), dan kebebasan. Itu doktrin agama,” jelas Murodi. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: