Para Ulama Itu “Menyirami Api dengan Air”

Rabu, 25 Oktober 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Amatir memang tak bisa diandalkan. Bahkan untuk dirinya sendiri. Seorang maling begitu cerobohnya memilih rumah Kiai Muslih Zuhdi rahimahullah sebagai sasaran, hanya karena rumah itu kelihatan gampang dimasuki. Tapi ia segera kecewa mendapati terlalu sedikit yang bisa dipetik dari isi rumah yang serba sederhana itu. Dan, gawatnya, entah kenapa, ia tak bisa keluar! Sungguh aneh bahwa dari dalam, rumah itu seolah tak ada pintunya! Si Maling bingung dan ketakutan. Kiai Muslih keluar kamar tidur pada jadwal bangun malamnya, dan mendapati maling itu mendoprok di ruang tamu, linglung dan pucat pasi.

Kiai Muslih membiarkannya begitu. Baru setelah usai ibadah malamnya, beliau menyapa Si Maling, mengajaknya menemani makan sahur, lalu memberi uang dan menyuruhnya pulang.

Tapi seorang profesional pun terkadang cukup sial hingga salah sasaran. Seorang perempuan nakal merayu Kiai Soleh Darat rahimahullah saat beliau sedang berjalan sendirian malam-malam. Kiai Soleh mengajaknya pulang ke rumah dan menyuruhnya menunggu di ruang tamu, sementara beliau menunaikan tahajjud dan sholat hajat.

Konon, kaifiyah sholat hajat beliau sama dengan ijazah yang saya terima dari jalur paman saya, Kiai Mujab Shoimuri, dari gurunya, Kiai Bisri Mustofa, dari Kiai Ma’ruf, Kedung Lo, Kediri, dari Kiai Kholil, Bangkalan:

Wudlu sempurna dengan rukun, sunnah dan adabnya;

Sholat hajat dua raka’at sempurna dengan rukun, sunnah dan adabnya –sholat hajat dapat dilakukan kapan saja, tidak harus tengah malam seperti tahajjud, karena datangnya hajat pun  sewaktu-waktu;

Mewiridkan “Yaa Syakuur” seribu kali dalam keadaan duduk usai sholat, didahului hadiyah Fatihah kepada Kanjeng Nabi Muhammad Shollallaahu ‘Alaihi Wasallam dan ashhaabis sanad –dari jalur saya berarti sekurang-kurangnya kepada Kiai Mujab Shoimuri, Kiai Bisri Mustofa, Kiai Ma’ruf Kedung Lo dan Kiai Kholil Bangkalan;

Doa memohon apa pun yang menjadi hajatnya.

Wa katabtu haadzihi biniyyati ijaazatil munaawalah liman waqa’a ‘alaihi haadzihil kitaabah muushiyan linafsii wa liman qabilahaa bitaqwallaah.)

Dalam doa hajatnya, Kiai Soleh memohonkan hidayah untuk si perempuan nakal.

“Jadi enggak?” perempuan itu bertanya tak sabar ketika akhirnya Kiai Sholeh muncul dari ruang dalam.

“Berapa taripmu?”

Perempuan itu menyebut angka.

“Nih”, Kiai Sholeh mengulurkan uang, “Sudah. Pulang sana!”

“Lho?”

Kiai-kiai itu menyiram api dengan air.

Tabiat itulah yang oleh Gus Mus ingin dijadikan prinsip pribadinya.  Beliau tidak setuju ketika saya mengusulkan sikap yang lebih keras menghadapi kaum kemlinthi seperti Wahabi, MTA, HTI, FPI, dan sebangsanya.

“Jangan melawan api dengan api”, kata beliau.

“Tapi mereka sudah kebangetan! Mereka mengkafir-kafirkan kita, menentang NKRI dan berbuat semena-mena terhadap siapa saja! Siapa yang menghadang mereka kalau bukan NU?” saya berapi-api.

“Itu tugas Pemerintah. Pemerintah sudah diserahi mandat berikut segala kekuasaan yang diperlukan untuk menegakkan hukum, menjaga konstitusi dan mempertahankan keutuhan NKRI”.

Saya tak mampu membantah.

Tapi, ditunggu sekian lama, Pemerintah ganjen ini makin parah saja, sehingga Gus Mus pening.

“Rasa-rasanya, saya mulai gamang”, katanya kepada Michael Maas, koresponden koran Volkskrant, sebuah harian Belanda, “kalau Pemerintah tidak juga bertindak, apakah kami yang harus bertindak? Saya sendiri saja mulai kuatir tidak bisa menahan marah. Apalagi anak-anak muda NU…”

“Sekarang ini sudah saatnya dilancarkan penggalakan Banser!” kata seorang tokoh muda NU.

“Frekuensi kegiatannya ditingkatkan?”

“Bukan cuma itu!”

“Jadi?”

“Bansernya dibikin galak!“  (ISNU)

Ditulis oleh Oleh Yahya Cholil Staquf

Sumber: Dutaislam

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: