Parlemen Indonesia di Kanada: Islam Bisa Sejalan Dengan Demokrasi

Selasa, 19 Januari 2016

VOUNCOVER, ISLAMNUSANTARA.COM – Delegasi Parlemen RI menyebarkan kabar ke dunia bahwa Indonesia telah berhasil menjalani konsolidasi demokrasi dengan sukses. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia bisa menjadi bukti bahwa Islam dan Demokrasi bisa hidup bersama.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, di hadapan delegasi Parlemen negara lain yang menghadiri sidang tahunan Asia Pacific Parliamentary Forum (APPF) ke-24 di Vancouver, Kanada, Selasa (19/1/2016)

Dijelaskan Fadli, dalam 17 tahun terakhir sejak Reformasi 1998, konsolidasi demokrasi dilakukan baik secara prosedural maupun substansial. Secara institusional-prosedural beberapa perkembangan dapat dilihat pada adanya Amandemen Konstitusi yang memastikan dilaksanakannya pemilu presiden dan legislatif secara langsung.

Selain itu, dipastikan penghargaan pada hak asasi manusia, lalu dibentuknya lembaga pemberantasan korupsi. Yang terakhir, kata Fadli, Indonesia bisa melaksanakan pilkada serentak di 269 daerah secara tertib dan sukses.

“Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi bukti bahwa Islam dan Demokrasi dapat tumbuh harmonis,” kata Fadli.

Kini, Fadli Zon menyatakan bahwa Indonesia terus menyempurnakan sistem demokrasinya. Sebab dirasakan kemendesakan bahwa demokrasi di setiap negara harus dibangun berdasarkan budaya dan sejarahnya masing-masing.

“Democracy is not one size-fit all solution. Oleh karena itu, demokrasi Indonesia tidak hanya menekankan pada demokrasi politik saja, tetapi juga demokasi ekonomi dan demokrasi sosial,” tandasnya.

Wakil Ketua BKSAP DPR RI, Teguh Juwarno, yang juga menjadi anggota delegasi Indonesia, menyatakan, harus diakui bahwa negara dan bangsa Indonesia memang berhasil menumbuhkembangkan demokrasi seiring modernisasi dan Islam.

“Selama ini dikesankan Islam itu antidemokrasi. Tapi Indonesia adalah bukti sekaligus contoh bagi negara lain, bahwa Muslim Moderat adalah keniscayaan Bangsa indonesia, yang harus menjadi sistem nilai yang harus dimiliki masyarakat Islam dimanapun,” jelas Teguh.

Sidang APPF ke-24 berlangsung di Vancouver sejak 17-22 Januari 2016. Pada pertemuan tahun ini, dibahas tiga sektor isu: Politik dan Keamanan, Ekonomi dan Perdagangan, serta Kerjasama Kawasan Asia Pasifik.

APPF adalah forum Parlemen negara-negara Asia Pasifik yang dibentuk pada 1991 oleh 9 negara, dimana Indonesia adalah salah satu negara pendiri. Pada pertemuan ini hadir 20 delegasi negara, seperti Jepang, Australia, Malaysia, Rusia, Korea Selatan, China, Australia, dan New Zealand  

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: