PBNU: Nabi Muhammad SAW Sangat Menjunjung Tinggi Nilai Kebhinnekaan

Senin, 05 Desember 2016

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Rasulullah Muhammad SAW telah mencontohkan kepada umatnya bagaimana kehidupan yang penuh kebhinekaan dan pluralis Lima belas abad yang lalu. Itu terbukti dengan bersatunya penduduk muhajirin yang datang dari kota Mekah dengan penduduk ansor di kota Yatsib.

Penduduk kota Yatsrib pada masa itu sesungguhnya terdiri dari banyak perbedaan. Namun semua bisa hidup dalam damai dan kebersamaan. Rasul lalu menamakan Yatsrib dengan Madinah.  Kata madinah berasal dari kata tawadun, madaniyah.

Hal tersebut disampaikan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam taushiyah “Peringatan Maulid Nabi” di Masjid dan Halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat Sabtu (3/12) malam.

“Karena itu, rasul sampai mengeluarkan seruan, bahwa muslim pendatang, muslim pribumi, non muslim, asalkan satu visi, satu misi, satu perjuangan satu prinsip, sesungguhnya semua itu adalah satu umat,” terang Kiai Said.

Menurut Kiai Said, teladan itu sudah coba diterapkan Rasul dan berhasil, hingga terbangunlah konstitusi modern, padahal saat itu belum ada Amerika, belum ada PBB. Konstitusi negara madaniyah tersebut bukan berdasarkan agama, suku, etnik.  Bukan negara Islam, bukan negara Arab.

“Tetapi negara madaniyah dibangun berdasarkan penegakkan kebenaran kebersamaan, keadilan. Yang benar dilindungi, tidak pandang agamanya apa, sukunya apa,” lanjut Kiai Said.

Kiai Said menegaskan bahwa hal inilah yang harus dikembangkan. Oleh para kiai dan ulama, semangat itu dikuatkan dalam Muktamar  NU di Banjarmasin tahun 1936. Hal itu selanjutnya menjadi semangat  NU dalam kehidupan beragama dan bernegara dengan prinsip hubbul wathon minal iman (menjaga tanah air adalah bagian dari iman).  (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: