Pemuda NU Bentengi NKRI dari Gerakan Wahabi

Islamnusantara.com, JOGYAKARTA – Halaqoh yang terwujud musyawarah Kubro Anak Muda NU 2015 ini merupakan rangkaian acara yang sudah dimulai sejak akhir tahun lalu. Halaqoh ini merupakan fase yang ke-4, dan akan di akhiri pada Muktamar Kaum Muda NU di Jombang menjelang Muktamar ke-33. Halaqoh pertama di selenggarakan di Pesantren Hidayatul Mubtadiin Kota Gedhe, yang kedua di selenggarakan di Yogjakarta dengan memecah menjadi 9 kali pertemuan, yang ketiga di Muntilan, dan yang keempat di Mlangi ini. Diharapkan Halaqoh ini dapat menghasilkan berbagai pemikiran yang Naafingah (manfaat. Red.), yang ikut mewarnai sejarah perjuangan NU ke depan, yang dihasilkan oleh kalangan generasi Muda NU.
Sebagaimana diketahui, NU bukanlah semata-mata organisasi tanpa makna. Kelahiran NU merupakan buah pertanda kelahiran perjuangan panjang yang diakui berbagai kalangan eksternal. Makna kelahiranya, menurut KH.HM.Dachlan (feilladr: 1999: 15), berakar pada perjuangan antikolonial. KH.Saifudin Zuhri (A.Ghaffar Karim, 1995: 5) mengatakan bahwa dorongan yang melahirkan konsolidasi NU adalah kesadaran bertanggung jawab kepada Islam, umat Islam, dan Tanah Air. Peneliti Jerman, Manfred Ziemek (1986: 64-65), menyimpulkan bahwa NU mewakili tradisi perlawanan ratusan tahun terhadap kekuasaan kolonial Belanda, dengan kedudukan mandiri, bebas, dan terdesentralisasi pada masyarakat pedesaan yang para kyainya orang-orang paling berpengaruh dan tak diperintah siapapun. Yang di maksud Manfred adalah tradisi perlawanan terhadap kolonial yang dipimpin oleh para Ulama sejak 1500-an, yakni sejak Untung Suropati (putra menani Raden Fattah, salah satu leluhur Nahdliyyin), mengangkat senjata,enyisun barisan, dan mengorganisasi perlawanan terhadap penjajah.
Musyawarah Pemuda NUAkan tetapi setiap zaman selalu memiliki dinamika ya. Konjungtur zaman selalu naik-turun dan turun-naik. Saat ini, daya transformasi NU masih jauh di bawah kapasitas potensial. Karena itu, dibutuhkan untuk merevitalisasi-dinamisasi, merembuk Jam’iyyah, untuk kemaslahatan Agama, Bangsa, dan Dunia. Berbagai problem kemasyarakatan, kebangsaan, dan dunia global, membutuhkan kontribusi, solidaritas, dan kepedulian NU. Dalam konteks strategi inilah, diselenggarakan Musyawarah anak Muda NU 2015. Diharapkan anak muda NU yang tidak terlalu memikul beban sejarah atau limpahan kompleksitas problem internal NU, dapat menyambungkan pemikiran-pemikiran strategi untuk kebangkitan NU.
Dengan Halaqoh ini di harapkkan muncul tiga prasyarat kebangkitan di kalangan kaum muda NU: Ittihadul Qulub (kesatuan hati, kesatuan ideologi); Ittihadul Afham ( kesatuan pemahaman, kesadaran, persepsi terhadap realitas kekinian dan masa depan), serta Ittihadul Harokah (kesatuan gerak, sinergi, gotongroyong, kolektivitas, dan action-plan yang programatik, terarah, dan terkendali).
Pemuda NUHarapan ini sebagai benang merah yang di harapkan dalam Musyawarah Kubro Anak Muda NU 2015 yang di adakan di Pondok Pesantren Mlangi yang di ikuti kurang lebih 120 peserta dari berbagai daerah di indonesia, dimulai dari tgl 22-23 mei 2015, acara sidang Pleno pertama yang di buka di Masjid Jami’ Pathok Negara oleh beberapa Kyai-kyai dan di buka oleh Bpk. Imam Aziz selaku ketua panitia Muktamar ke-33 NU di jombang Agustus nanti, begitu juga hadir Mba Alissa Wahid (putri almarhum Gusdur-sekaligus ketua jaringan Gusdurian Nasional), dan selaku ketua penyelenggara Musyawarah ini Kyai Muhammad Mustafied. S.Fil pengasuh ponpes Mahasiswa ASWAJA Nusantara Mlangi.para hadirin berasal dari berbagai daerah dan perwakilan banom-banom NU seluruh Indonesia. Baca Musyawarah Kubro Anak Muda NU 2015
Pernyataan penting Jam’iyah NU Yogjakarta
Kami Jama’ah Nahdliyin Yogyakarta, bagian dari warga NU, pecinta ulama, santri yang pernah dibesarkan di dan dari pesantren, penganut Ahlusunnah Waljama’ah, warga bangsa Indonesia, dan yang mempunyai rasa memiliki terhadap Jam’iyah Nahdlatul Ulama, terpanggil untuk melakukan refleksi terhadap kondisi Jam’iyah dan kepemimpinan NU, utamanya sejak Muktamar Makassar 2010:
Mengingat:
  1. Bangsa Indonesia masih dilanda kemiskinan akut, tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka gizi buruk, indeks pembangunan manusia yang rendah, korupsi yang masih merajalela, sumber daya alam yang terus dikuras, dan semakin mengguritanya sistem ekonomi monopolistic sampai ke desa-desa.
  2. Liberalisasi ekonomi yang telah merambah ke desa-desa, lewat bentuk waralaba-waralaba yang monopolistic yang mengancam pasar-pasar rakyat dan inisiatif-inisiatif rakyat kecil.
  3. Banyaknya sengketa tanah antara masyarakat dengan perusahaan-perusahaan besar, termasuk di basis-basis masyarakat NU, baik dalam soal pendirian maupun pengelolaan sumber daya alam, migas dan nonmigas ( perusahaan migas, perusahaan air minum, perusahaan semen, pembangkit listrik tenaga nuklir, penambangan pasir besi, dan lain-lain) yang mengakibatkan masyarakat bawah terancam keberlangsungan harapan hidupnya.
  4. Semakin dekatnya pemberlakuan ASEAN Community 2015 yang akan berdampak luas pada masyarakat bawah NU, sementara tidak ada persiapan memadai yang dilakukan oleh elit-elit pengambil kebijakan ekonomi dan politik, termasuk elit-elit kalangan NU.
  5. Bangsa Indonesia ada di dalam wilayah geopolitik internasional di antara kekuatan-kekuatan besar dunia; Tiongkok dan Amerika Serikat, yang memungkinkan Indonesia menjadi kepanjangan tangan perebutan kekuatan sengketa perbatasan Laut Cina Selatan, pertarungan perebutan sumber daya alam dan energy, dan pemanfaatan kelompok-kelompok garis keras berbaju agama seperti yang terjadi di Timur Tengah.
  6. Pertumbuhan kelompok-kelompok Islam berbasis Wahabisme dengan jubah salafi semakin besar dan masuk ke desa-desa yang membangun pesantren dan jaringan transnasionalnya, mengakibatkan di berbagai tempat terjadi kontestasi dan benturan keras dengan tradisi dan warga NU yang menganut Ahlusunnah Waljama’ah, yang perlu disikapi secara arif dan bijaksana, tanpa melupakan ketegasan. Baca NU Minta Ormas yang Sebarkan Khilafah Dibubarkan
Kebangkitan para pemuda NU disebabkan makin banyaknya serangan-serangan sektarian dan anti pati kepada pemerintah yang dibawa oleh ormas atau kelompok radikal yang mengatas namakan pendukung “KHILAFAH”. Semoga para pemuda NU dapat membendung dan ikut menjaga Stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. (ISNA)
Sumber : majlisittihad

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: