Pemuda NU Tebar Islam Ramah di Medsos Halau Radikalisme

Islamnusantara.com, JAKARTA – Merebaknya situs Islam di dunia maya yang menawarkan paham radikal sangat mengganggu kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Situs-situs ini selain berisi tulisan-tulisan radikalisme agama, juga kerap menebar kebencian terhadap kelompok atau tokoh tertentu yang tidak sepaham dengannya.

Pemimpin redaksi situs resmi PBNU (nu.or.id) Syafi ‘Ali el’ha, menuturkan, organisasi keislaman yang kerap dijadikan sasaran penyesatan adalah Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki kekhasan ajaran ramah terhadap budaya setempat. “NU yang sering menjadi sasarannya, karena NU eklektik kultural. Dari dulu NU sering disesatin, katanya takhayyul, bid’ah, khurafat atau TBC. Itu udah biasa. Tapi persoalannya di dunia maya sekarang, sudah pada batas yang membahayakan, karena isinya menebar kebencian dan memfitnah,” katanya dalam pembukaan ‘Workshop Penguatan Jaringan Anti-Radikalisme di Dunia Maya Untuk Ulama Muda’ di The Acacia Hotel Jakarta, Senin (15/6) malam.

Melalui kegiatan yang akan berlangsung selama 3 hari ini (15-17/6), Syafi’ berharap anak-anak muda NU turut aktif di media sosial untuk memperkenalkan ajaran Islam ahlissunnah wal jama’ah yang menebar kasih sayang kepada semua umat manusia (rahmatan lil ‘alamin). Jika situs-situs Islam sudah didominasi warga nahdliyin, maka paham-paham radikal di dunia maya akan tergantikan dengan paham keislaman yang toleran dan merukunkan.

“Insyaallah generasi NU ini akan memenangi gagasan sebagaimana orang dahulu memenangi perdebatan dalam TBC. Jika dahulu para kiai menang melawan tuduhan TBC, maka anak-anak muda NU kalau semuanya bergerak akan bisa melenyapkan radikalisme,” tegasnya.

Solusi Radikalisme

Dalam kegiatan yang diadakan oleh pengelola situs resmi PBNU bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Drs KH As’ad Said Ali, menyatakan, Negara Indonesia akan tetap terjaga selama NU masih diikuti oleh mayoritas umat Islam Indonesia. Karenanya, kerjasama antara BNPT dan NU merupakan langkah yang tepat untuk menghalau radikalisme.

“BNPT mewakili negara, antum (kalian, red) mewakili Nahdlatul Ulama. NU hancur, NKRI hancur. NKRI hancur, NU hancur. Jadi kita ini menjaga negara,” paparnya.

Menurut penulis buku al-Qaeda itu, langkah pertama dalam melawan terorisme adalah menghilangkan radikalisme. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menghidupkan aktivitas NU di semua tempat, terutama yang menjadi basis merebaknya paham-paham yang mengancam keutuhan NKRI ini.

“Cara menghilangkan radikalisme dan terorisme harus menghidupkan NU. Kita niati menjaga negara, agama, dan ini hukumnya wajib. Jihad kita, laisa an namuta fi sabilillah, tapi an nahya fi sabilillah (jihad bukan mati di jalan Allah, tapi hidup di jalan Allah, red),” tuturnya. [ISNA/NuJateng]

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: