Penceramah Garis Keras

Senin, 26 Desember 2016

ISLAMNUSANTARA.COM – Kacaunya  kehidupan umat manusia beragama saat ini banyak terjadi akibat dangkalnya pengetahuan para penceramah tentang agama,  karena diperoleh secara instan dan tanpa sanad keilmuan (transmisi periwayatan)  yang jelas.

Para Penceramah jebolan “pesantren kilat” tersebut punya hobi menyampaikan ceramah agama bernada kekerasan,  hantam sana hantam sini,  kritik sana kritik sini, sambil meneriakkan pentingnya memusuhi siapa saja yang tidak satu alur fikrah (pemikiran,  ide) atau memusuhi benda-benda apa saja dari produk orang-orang  kafir. Tujuan pokok dari “bualan”-nya itu tiada lain kecuali mencari pengaruh,  memperbanyak pengikut,  dan memperkaya diri.

Dalam berpenampilan sehari-hari mereka menonjolkan keakuan,  bukan kekitaan,  menonjolkan ciri-ciri klaim kebenaran apa saja  yang bisa membedakan kelompoknya dari komunitas lainnya. Warna kopiah hitam pun yang sudah mentradisi tidak selamat dari gunjingan mereka karena juga dipakai “orang kafir” sehingga wajib diganti dengan kopiah haji berwarna putih karena hanya itulah yang islami.

Cara berpakaiannya pun harus seperti orang Arab asli karena berpakaian sesuai kebiasaan umumnya orang Indonesia itu tidaklah berpakaian syar’i. Mungkin mereka menyangka bahwa untuk menjadi Muslim dalam segala hal wajib sama dengan orang-orang Arab.

Padahal kini banyak masyarakat Arab yang agamanya juga beragam itu berwatak pasir seperti alamnya yang gersang tandus berpadang pasir, yakni sulit untuk dipersatukan satu sama lain karena tidak memiliki “semen pemersatu” Bhinneka Tunggal Ika seperti di Indonesia.

Kegemaran pembual garis keras adalah dengan mudah  mengkafirkan sesama kaum Muslim hanya karena beda penafsiran. Selain itu,  mereka juga bertindak sebagai hakim pemberi vonis apabila suatu amalan tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan pasti dibid’ahkan,  bahkan hingga persoalan fiqh yang dipenuhi khilafiyah (perbedaan pendapat ulama mujtahid)  pun terburu-buru disesatkan.

Mungkin mereka menyangka bahwa untuk menjadi Muslim sejati harus punya ciri-ciri keislaman yang seragam seperti dalam tampilan fisik wajib berjidat hitam sebagai atsarussujud (tanda bekas sujud) dan wajib tampil dengan ciri pembeda dari Muslim lain yang bukan kelompoknya.

Untuk menyampaikan dakwah Islam mereka lebih nyaman menempuh jalan kekerasan karena lebih berdaya paksa dan lebih menunjukkan superioritas atas Muslim lain,  lebih-lebih terhadap non Muslim yang dianggapnya “musuh abadi”, bukan saudara sesama manusia sebangsa yang wajib dihormati dan juga harus dijamin keamanannya.

Dalam mengkritik kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa pun para pembual garis keras itu sering mengabaikan sopan santun,  melecehkan, dan tanpa memahami duduk perkara yang sesungguhnya. Mereka menempatkan penguasa sebagai “thaghut” syetan-iblis yang terkutuk,  seperti sedang menghadapi Fir’aun yang dengan angkuhnya mengaku sebagai tuhan yang maha tinggi, sedangkan seolah-olah para juru dakwah “pembual” garis keras itu merasa lebih hebat dari Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam yang telah menyampaikan kebenaran dengan penuh kelemah-lembutan.

Padahal menurut al-Imam Abu al-Laits al-Tsamarqandi (wafat: 393 H.) dalam Bustan al-‘Arifin halaman 103, seorang pemberi nasehat haruslah bersikap rendah hati,  lemah lembut,  tidak sombong,  keras atau kasar,  karena rendah hati dan lemah lembut adalah akhlak Nabi shalla Allahu ‘alaihi wa sallama.

Sedangkan al-Imam al-Ghazali (lahir: 450 H.,  wafat: 505 H.) dalam al-Adab fi al-Din halaman 92-93, mengimbau agar setiap juru dakwah meninggalkan sikap sombong dan senantiasa menjaga rasa malu kepada-Nya. Selalu menampakkan rasa membutuhkan kepada Sang Pencipta.  Senantiasa terdorong untuk memberikan manfaat kepada para pendengar,  instropeksi diri untuk mengetahui kekurangan.

Memandang para pendengar dengan pandangan bersahabat,  berprasangka baik terhadap mereka,  membimbing mereka agar mau menjaga diri,  lemah lembut dalam mendidik,  bersikap halus terhadap para pemula,  dan nasihat yang disampaikan harus benar-benar meyakinkan agar manusia bisa mengambil manfaat dari apa yang disampaikan.

Semoga kita tidak menjadi pembual dalam urusan agama,  lebih-lebih pembual garis keras,  untuk tujuan memperoleh keuntungan duniawi. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: