“Pendidikan Hitam” dalam Kasus Bima Arya, Walikota Bogor

JAKARTA, Islamnusantara.com – Bima Arya (Walikota Bogor, Alumni S2 dan S3 Australia). Beberapa waktu yang lalu menghebohkan masyarakat dan bangsa Indonesia. Beliau memberikan contoh praktis “Pendidikan Hitam” dalam Pembelajaran berbangsa dan Bernegara di Indonesia. Beliau memberikan respon yang over, serta tindakan yang diluar nalar, terhadap upaya Peringatan Asyura (memperingati kematian cucu Rasul SAW, Husein bin Ali ra) oleh Masyarakat Syiah Indonesia. Sungguh diluar batas nalar. Mengapa dia mendapatkan kritik disana-sini dan sangat keras?  Pertama, Respon dengan mengeluarkan surat itu, sebuah hal aneh. Bahkan tidak menggunakan kaidah kedinasan dan sebagai kepanjangan tangan pemerintah. Kedua, Keberpihakan kepada masyarakt tertentu (yang notabene sangat berseberangan dengan Syiah, yaitu Wahabi) sangat kental. Seakan dia sendiri sudah menjadi bagian modus operandi dari hal-hal itu. Ketiga, Sunnah dan Syiah memang memiliki perbedaan, sama dengan Sunnah dan Wahabi, dan seterusnya. Tetapi tidak ada alasan logis melarang acara itu, sebab Asyura diperingati juga oleh masyarakat Indonesia secara luas dan sejak dulu (walaupun berbeda dengan Syiah dalam peringatannya). Tetapi apakah peringatan Asyura meresahkan tidak ada indikasi hal itu.

Bima Arya

Marilah kita lihat problem ini dalam hubungannya dengan Pendidikan Hitam

Dalam paradigma pendidikan kontsruktifisme, dikatakan bahwa sesuatu itu diterima oleh pelajar, sesuai dengan konstruk mereka sebelumnya. Akan menjadi problem bila realita yang disodorkan sebelumnya itu diredusir sedemikian rupa, sehingga pelajar akan menerima ‘Pseudo-realitas’ (Realitas Semua, bukan realitas sebenarnya). Dari pesudo-realitas itulah mereka-mereka mengkonstruksi sesuatu yang masuk selanjutnya. Artinya, kesalahan demi kesalahan akan bertumpuk-tumpuk. Dengan tambahan bantuan media, gencarnya para citizen dalam medsos yang mengkampanyekan padagogi-hitam (untuk Syiah dan Asyura). Maka masyarakat akan dengan mudah mengatakan itu ajaran aneh, itu sesat dan menyesatkan serta kafir bahkan kita boleh melakukan apa saja termasuk membunuhnya.

Disinilah Paul Friere sampai mengatakan, karena sudah terbelenggu terhadap “Pendidikan-Hitam” itu. Karena Realita demi realita sudah teredusir, maka bahkan mereka tidak tau apa yang semestinya mereka terima dan apa yang semestinya mereka tolak. Sebab penolakan dan penerimaan itu dari konsepsi mereka, sementara konsepsi itu sudah terdistorsi sedemikian rupa oleh tawaran informasi dari pendidikan yang tidak memberikan realitas tetapi pseudo-realitas (realitas yang sudah di kontruksi) oleh pemberi informasi. Baik Guru, Da’I, Buku-buku, Medsos, dll.

Dalam karya besarnya pemikir Italia (Antonio Gramsci, 1891-1937) ‘Prison Notebooks’  mengatakan, “Hegemoni kekuasaan dapat dijadikan alat menjadi hegemoni makna”. Maknanya adalah, Memang manusia secara ontologi bebas (kebebasan secara fisik, bebas secara rohani). Kebebasan rohani kita bersumber dari akal budi kita, Kebebasan rohani kita seluas jangkauan fikiran dan bayangan kita. Makin luas jangkauan fikiran kita makin luas kebebasan kita. Sedangkan keluasan jangkauan kita, itu tergantung dari wacana, cakrawala berfikir, dan langit langit pikiran kita. Ini semua tergantung dari pengalaman kita, atau informasi yang kita miliki. Makin luas pengalaman dan informasi yang kita miliki makin banyak alternatif-alternatif yang kita punya dan makin besar pula kebebasan kita.

Bila informasi diredusir, pendidikan tidak diberikan cakrawala, medsos dan lainnya sudah bergerak bersama. Karena sebuah Investasi, Uang, dan kekuasaan yang berjalan. Maka Apa yang diterima masyarakat akan menjadikan itulah makna yang diterima. Sebab benar-salah itu tergantung apa yang disodorkan. Inilah berbahayanya dan sangat berbahaya, tindakan Bima Arya diatas. Dia sudah melakukan tindakan berdasarkan “Pendidikan-Hitam” dan mengupayakan kekuatan kekuasaan yang sedang dipegangnya dengan melakukan pembrangusan cakrawala, alternatif opini, nuasan pluralits dalam Informasi, berkebangsaan dan berkeyakinan. Kalau hal seperti ini tidak dicegah maka bukan urusan Asyura dan Syiah yang menjadi masalah. Tetapi cara berfikir, cakrawala berfikir, alternatif opini, kebhinekaan tidak diberikan ruang hidup lagi. Dan ini sangat berbahaya bagi Bangsa dan Negara kita, bagi Kebhinekaan kita. Sementara kita hidup dengannya. (ISNU/MM)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: