Pengasuh Pesantren Al-Asy’ariyah KH Ahmad Faqih Muntaha Meninggal Dunia

Minggu, 22 Mei 2016

ISLAMNUSANTARA.COM,  WONOSOBO   –  Innalillahi wa Innailahi rajiun, kabar duka datang dari pesantren Al-Qur’an Al-Asyariah Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah. KH Ahmad Faqih Muntaha, pengasuh pondok pesantren yang memiliki nilai historis perjuangan kebangsaan tersebut pada Jumat (20/5) sekitar pukul 19.00 wafat dalam usia 61 tahun, setelah dirawat selama sepekan di rumah sakit Islam Wonosobo akibat menderita komplikasi sakit jantung.

Menurut penuturan keluarga, sekitar pertengahan April lalu, kiai kelahiran 1955 ini masih menunaikan ibadah umrah. Hanya saja pada saat berada di tanah suci beliau sempat merasakan sakit dan mendapat perawatan di rumah sakit setempat. Sebenaranya pasca pengobatan dari tanah suci hingga pulang kembali ke tanah air keadaannya sudah membaik.

Putra sulung almaghfurlah KH Muntaha Alhafidz ini meningglkan lima orang putra dan satu putri. Jenazah akan dimakamkan Sabtu pukul 10.00 Wib di pemakaman Desa Karangsari Mojotengah Wonosobo, atau sebelah utara kampus UNSIQ Wonosobo.

Menurut pantauan NU Online, pukul 21.00 Wib jenazah Abah Faqih, demikian para santri memanggilnya, sudah berada di masjid pesantren. Sejak itu secara bergelombang para pentakziah melaksanakan shalat jenazah untuk memberikan penghormatan terakhir. Sementara para santri dan alumni masih terus membacakan Al-Qur’an di dalam masjid baik secara sendiri-sendiri ataupun bergantian dengan menggunakan pengeras suara.

Di mata para santri, Abah Faqih dikenal sebagai sosok dermawan. Selain itu pengasuh generasi kelima di Pesantren Al-Asyar’iah yang didirikan KH. Muntaha bin Nida Muhammad ini juga merupakan sosok sederhana dan bersahaja meskipun bisa saja bergaya mewah jika mau. Tapi pilihan kemewahan demikian tidak dikehendakinya.

Menurut salah satu pengurus pondok yang ikut menunggui di rumah sakit selama Abah Faqih menjalani perawatan, sebenarnya pihak rumah sakit telah menawarkan dan memberikan kepada beliau fasilitas dan pelayanan istimewa untuk ditempatkan di kamar pasien dengan kelas VIP, tetapi atas permintaan beliau sendiri justru minta agar ditempatkan di ruang pasien yang standar biasa.

“Sikap demikian (mengambil pilihan sederhana) memang telah menjadi karakteristik dari kepribdian beliau. Seperti itu bukan karena tidak mampu. Sangat mampu, hanya lantaran kepribadian beliau yang memang tidak senang berlebih-lebihan dalam menjalani apa saja,” kata salah satu Ketua Pesantren Al-Asyariah (IslamNusantara/NU-Online)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: