Penjelasan Gus Anam Tentang Dua Jenis Ilmu yang Diwariskan Nabi

Jum’at, 25 November 2016

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – KH Zuhrul Anam, Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Leler, Banyumas, Jawa Tengah menjelaskan bahwa ilmu yang diwariskan Nabi Muhammad SAW ada dua macam. Pertama, ilmu yang tertuang pada lembaran kertas, yaitu ilmun fil auwraq, sebuah kajian syari’at yang tak akan diperoleh oleh seseorang tanpa melalui belajar dan mengaji.

“Tanpa mengaji, ilmu ini tak akan diperoleh,” tandas menantu KH Maemun Zubair ini pada Haflah Khatmil Qur’an ke-28 dan Haul almaghfurlah Kiai Syamsuri Dahlan ke-29 yang digelar Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, di kompleks pesantren setempat, Rabu (23/11).

Kedua, kiai muda ini menyebutkan ilmu fil adzwaq  yaitu ilmu indra perasa, meliputi malu kepada Allah, takut Allah, cinta rasul, menjauhi gemerlap dunia dan lain sebagainya. Ilmu ini hanya dapat diperoleh melalui metode berteman bersama orang-orang shalih.

“Nah, siapa orang shalih itu? Mereka adalah para kiai dan guru. Gurunya mendapat ajaran dari gurunya, dari gurunya lagi hingga sampai Baginda Nabi Muhammad SAW,” imbuh pria yang akrab disapa Gus Anam ini.

Selain Gus Anam, terdapat KH Ulin Nuha Arwani yang memberikan pesan bahwa orang yang hafal Al-Qur’an tidak boleh merasa bahwa ia hafal Al-Qur’an karena kemampuan dan kecerdasan otak yang ia miliki. “Hati kita semua hendaknya berkeyakinan bahwa hafal Al-Qur’an itu murni fadlal (anugrah) dari Allah Ta’ala. Bukan karena kepandaian serta kelincahan kita,” tegas putra Kiai Arwani Amin Kudus ini.

Atas nama panitia, Camat Tanggungharjo Joko Mulyono mengatakan, perhelatan yang dihadiri sekitar 10 ribu orang ini mewisuda 355 orang santri yang telah khatam Al-Qur’an baik pada tingkat Juz Amma, Bin Nadzor maupun Bil Ghaib. “Ada sekitar 355 orang peserta yang diwisuda tahun ini,” ujarnya.

Sejumlah kiai, tokoh dan ulama dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah turut hadir dalam acara tahunan ini, di antaranya KH Ulin Nuha Arwani (Kudus), KH Syarofudin, KH Hadlor Ihsan (Semarang), dan KH M Dian Nafi’ Wakil Raisy Syuriyah PWNU Jawa Tengah.  (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: