Perbedaan HTI dan NU dalam Menghukumi Nasionalisme di Indonesia

Senin, 22 Mei 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah mengharamkan demokrasi dan system Nasionalisme di Indonesia dengan menyebut bahwa system Nasionalisme bertentangan dengan Islam, racun mematiakan, serta kufur dan beracun. Hal itu tertulis dalam situs resmi HTI dalam link http://hizbut-tahrir.or.id/2012/11/19/nasionalisme-bertentangan-dengan-islam/, juga dlam link http://hizbut-tahrir.or.id/2013/03/31/nasionalisme-racun-mematikan dan dalam link http://hizbut-tahrir.or.id/2013/07/09/demokrasi-dan-nasionalisme-kufur-dan-beracun/ .

Hal ini jelas bertentangan dengan Misi pejuang bangsa Indonesia dahulu, justru Nasionalisme lahir dari para Ulama untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap Agama dan Tanah Air.

Para ulama berusaha membangunkan semangat nasionalisme melalui berbagai kegiatan keagamaan dan pendidikan, yang maksud dan tujuannya adalah untuk melepaskan belenggu penjajah yang telah berhasil mencengkeram tanah air Indonesia selama hamper tiga setengah abad.

Salah satunya Nahdlatul Wathon tempat / wadah para pemuda NU dijadikan markas penggemblengan pemuda-pe muda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air, setiap akan dimulai kegiatan belajar , para murid diharuskan terlebih dulu  menyanyikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab, yang telah digubah oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah (salah satu Pendiri NU) dalam bentuk sya’ir seperti berikut ini :

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon

Hubbul Wathon minal Iman

Wala Takun minal Hirman

Inhadlu Alal Wathon

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon

Hubbul Wathon minal Iman

Wala Takun minal Hirman

Inhadlu Alal Wathon

Indonesia Biladi

Anta ‘Unwanul Fakhoma

Kullu May Ya’tika Yauma

Thomihay Yalqo Himama

wahai bangsaku

Cinta tanah air bagian dari iman

Cintailah tanah air ini wahai bangsaku

Jangan kalian menjadi orang terjajah

Sungguh kesempurnaan itu harus

Dibuktikan dengan perbuatan

Dan bukanlah kesempurnaan itu hanya

Berupa ucapan

………………..

Wahai bangsaku yang berpikir jernih

Dan halus perasaan

Kobarkan semangat

Jangan jadi pembosan.

Jika dikatakan ulama adalah warisan atau penganti nabi, maka sudah seharusnya suri tauladan kecintaan ulama seperti KH. Wahab Hasbuallah kepada agama dan negara menjadi hal yang pantas kita lanjutkan. Karena pada dasarnya mencinta tanah air/Nasionalisme bagian dari iman. (ISNU)

Sumber: Muslimoderat

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: