Perdamaian dengan Cara Toleransi, Bukan Kompromi

Senin, 30 Mei 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Ketika elit-elit kafir Quraish seperti al-Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin Abd al-Muthallib dan Umayyah bin Khalaf, suatu ketika sowan kepada Muhammad SAW untuk menawarkan kompromi ibadah. Mereka terganggu oleh dakwah putera Abdullah dan Aminah, yang kian hari kian diminati dan disenangi oleh masyarakat jahiliah kala itu.

“Wahai Muhammad, kenapa tidak, kami menyembah Tuhanmu beberapa saat dan kamu menyembah tuhan kami beberapa saat juga?” kata mereka menawarkan. Tawaran yang sungguh unik sekaligus menawan.

Apa harapan mereka?

“Fa yahshul al-shulh bainana wa bainaka wa tazul al-‘adawah min bainina. Fa in kana amruka rasyidan akhadzna minhu hadhdhan wa in kana amruna rasyidan akhadzta minhu hadhdhan,” kata mereka berargumen.

Dengan kompromi ibadah, mereka berharap, akan terjadi perdamaian (al-shulh) antara pihak mereka dan pihak Muhammad. Andai Muhammad yang dalam kebenaran, mereka akan mendapat bagiannya. Dan, andai mereka yang dalam kebenaran, Muhammad juga akan mendapat bagiannya. Semacam bagi-bagi kebenaran.

Atas usulan yang unik itu, maka turunlah Qs. al-Kafirun: 1-6. Surah Makkiyah (turun sebelum Hijrah Nabi dari Makkah ke Yatsrib) ini ingin menganulir tawaran kompromi ibadah itu. Surah ini menegaskan tidak perlunya kompromi ibadah, karena masing-masing umat telah Allah Swt berikan jalan dan caranya sendiri-sendiri (syir’ah wa minhaj, Qs. al-Maidah: 48) dalam beribadah.

Biarkan perbedaan-perbedaan itu lestari dan menjadi khazanah peribadahan yang tidak perlu dipersamakan. Persamaan untuk yang sama dan perbedaan untuk yang berbeda. Maka jangan sekali-kali menyamakan atau mengompromikan yang berbeda. Untuk itu, Allah SWT menegaskan, Muhammad tidak akan menyembah sesembahan mereka. Mereka juga tidak perlu menyembah sesembahan Muhammad. “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku,” (Qs. al-Kafirun: 6).

Tawaran kompromi ibadah yang diceritakan oleh Syeikh Nawawi Banten dalam al-Tafsir al-Munir li Ma’alim al-Tanzil/Marah Labid (II/468) ini unik sekaligus menarik, apalagi dilakukan di zaman jahiliah.

Pelajaran apa saja yang patut kita petik? Pertama, gagasan kompromi beribadah. Cara pandang “modern” yang gado-gado itu nyatanya sudah muncul jauh-jauh hari sebagai tawaran solusi perdamaian dan pencarian kebenaran. Amaliah gagasan ini, kini banyak dijalankan aktivis perdamaian. Gagasan perdamaiannya patut diapresiasi. Namun lebih baik melalui cara toleransi, bukan kompromi.

Kedua, semua ingin meraih kebenaran dan surga. Orang terbaik tentu mengharap kebaikan yang diidealkan dengan surga (lebih khusus para pecinta/sufi mengharap Allah, bukan surga). Orang terburuk, juga tetap mengharapkan kebaikan. Hanya saja, cara mendapatkannya terkadang melampaui batas, hingga menghalalkan segala cara. Misalnya, mendaku dirinya paling benar (truth claim) sekaligus berhak mengkapling dan menunjuk pihak lain salah pun lebih layak menjadi kayu bakar neraka. Kadang juga dengan membunuh atau menebar teror. Agama-agama cinta tentu tidak menghendaki cara ini.

Ketiga, semua ingin hidup berdampingan secara damai. Dalam batinnya terdalam, semua manusia ingin hidup aman, tenteram dan rukun. Tak perlu ada pertikaian. Diantara tawarannya, adalah menghilangkan riak-riak permusuhan. Perbedaan dan keragaman tak mungkin dihilangkan, karena ini sunnatullah; baik keragaman budaya, etnis, agama, kepentingan dan sebagainya. Tugas manusia adalah mengamalkan falsafah Binneka Tunggal Ika dan menghargai perbedaan, supaya tercipta kehidupan sosial yang saling mengenal/li ta’arafu (Qs. al-Hujurat: 13).

Keempat, keyakinan dibangun di atas pondasi yang kokoh, bukan sikap plin-plan apalagi keraguan. “Tinggalkan yang membuatmu ragu menuju yang membuatmu tidak ragu, karena kejujuran itu menghadirkan ketenangan dan kedustaan itu mendatangkan keraguan”, demikian sabda Rasulullah Saw (HR. Imam al-Tirmidzi). Dan Allah Swt ingin disembah secara konsisten dan penuh keyakinan, karena  keyakinan bukan hal bisa dipermainkan. Kendati ibarat baju yang melindungi tubuh, keyakinan tetap tidaklah seperti baju yang bisa diganti-ganti sesuka hatinya.

Kelima, Allah Swt mengajarkan toleransi dan bukan kompromi. Jika toleransi menghadirkan sikap saling mengerti dan memahami, maka kompromi justru mengaburkan identitas dan batas-batas beragama. Kompromi juga akan meleburkan keragaman. Dan Allah Swt ingin merawat keberagaman sebagai kekayaan ciptaan-Nya. Dengan keragaman, Allah Swt mengharap umat-Nya berlomba-lomba dalam kebaikan/fastabiqul khairat (Qs. al-Baqarah: 148). (ISNU/JalanDamai)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: