Pergunu Bandung Desak Pemerintah Perhatikan Madrasah Diniyah

Kamis, 10 Agustus 2017
ISLAMNUSANTARA.COM, Badung – Kritik dan kontra terus menghantam kebijakan lima hari sekolah atau five day school. Pasalnya, kebijakan tersebut akan berakibat terhadap keberlangsungan penyelenggaraan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), dan Madrasah Diniyah (Madin).
Menanggapi hal itu, Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Badung, Bali menggelar Diskusi Publik pekan lalu brtajuk Optimalisasi Pesan Pergunu dalam Meningkatkan Kesejahteraan Guru untuk Pendidikan Berkualitas.
Bertempat di Aula MI Raudlatul Mustarsyidin Kuta, acara dihadiri oleh Bapak I Gusti Ngurah Sudiarsa (anggota DPRD Badung), Jumari (Ketua Umum PW Pergunu Bali), dan guru-guru NU yang berjumlah kurang lebih 200 orang.
Dalam sambutan pembukaan Ketua PC Pergunu Badung, Ispandi menjelaskan bahwa terkait kesejahteraan dan masa depan guru TPQ dan Madin sama sekali belum tersentuh oleh kebijakan-kebijakan pemerintah daerah.
“Pahadal tugas dan pengabdian guru TPQ dan Madin sangat strategis, terutama dalam menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai kemandirian, Islam toleran, pemahaman tentang kebinhekaan, dan budaya ke-Indonesia-an lainnya,” terangnya.
Kepada pemerintah daerah Badung, Ispandi mengimbau agar guru TPQ dan Madin diperhatikan nasibnya. Menurutnya, jangan sampai di Badung yang merupakan salah satu Kabupaten terkaya di Indonesia lahir stigma bahwa guru TPQ, Madin dan guru swasta ditakdirkan untuk menjadi orang miskin.
Dalam waktu dekat, Ispandi juga berharap kepada I Gusti Ngurah Sudiarsa, selaku wakil rakyat, untuk mulai memikirkan solusi meminimalisir perkembangan faham fundamentalism dengan memberikan bantuan pengadaan al-Qur’an terjemah dengan bahasa Bali yang direkomendasikan oleh kementerian Agama kepada semua TPQ dan Madin.
Dalam forunm yang sama, Jumari, Ketua PW Pergunu Bali menuturkan bahawa banyak kebijakan atau program yang paradoks di negeri ini, misalnya; guru dituntut untuk profesional tapi dikesampingkan kesejahteraannya.
Pria yang akrab disapa, Pak Jum juga mengatakan tidak sedikit guru yang masih bekerja sambilan sebagai tukang ojek atau pekerjaan lain dengan tujuan dapur tetap bisa mengepul.
“Maka, salah satu langkahnya pemerintah harus memberikan jaminan program pengembangan diri guru yang berimbang dengan peningkatan kesejahteraan,” jelasnya.
Sementara itu, I Gusti Ngurah Sudiarsa menjelaskan, ia secara garis keturunan sebagai keturunan puri pemecutan memiliki kewajiban untuk menjaga hubungan baik dengan umat Islam, dan secara politik kepartaian juga memiliki kewajiban untuk menyampaikan dan mengawal aspirasi guru-guru NU dan selalu siap menjadi penyambung lidah dari seluruh warga secara adil dan merata.
“Kami akan berusaha merealisasikan aspirasi dari guru-guru yang tergabung dalam Pergunu, bantuan pengadaan al-Qur’an ke TPQ, dan Madin. Hari ini kami aka serahkan dana spirasi untuk pengembangan pergunu Badung, mohon dapat digunakan untuk penguatan kelembagaan organisasi, sehingga keberadaannya dirasakan manfaatnya untuk masyarakat, khususnya bagi Guru,” ujar Sudiarsa. (ISNU)
Sumber:

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: