Peringati Maulid Nabi, Majelis Dzikir Shalawat Rizqiyyah Safari Keliling Jawa

majelis-shalawat-tegal-maulid-nabi-640x420

Pendiri Majelis Dzikir Shalawat Rizqiyyah KH.Mustholimin Al Wiyani didampingi Pengurus pusat Majelis Dzikir Shalawat Rizqiyyah Ustadz Ahmad Ilyas

Rabu, 6 Januari 2016

TEGAL, ISLAMNUSANTARA.COM – Bertempat di Pondok Pesantren Al Munawwaroh Margadana Tegal Jateng digelar perayaan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal Minggu (3/1/2016).

Peringatan Maulid Nabi ini dihadiri spesialis bedah Aura sekaligus Pendiri Majelis Dzikir Shalawat Rizqiyyah KH.Mustholimin Al Wiyani didampingi Pengurus pusat  Majelis Dzikir Shalawat Rizqiyyah Ustadz Ahmad Ilyas.

Kehadiran mereka dalam rangka safari keliling Jawa. Peringatan Maulid di Tegal, selain pendiri, jajaran Pengurus  Majelis Dzikir Shalawat Rizqiyyah, diikuti pula santriwan atau santriwati. Pendiri Ponpes Al Munawwaroh KH. Mukhtar Khudhori S.Pdi  pun hadir dalam acara tersebut.

Dikutip dari kicaunews.com, dalam tausiyahnya Ustadz Ahmad Ilyas mengajak kepada jamaah untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan bertaqwa di jalan Allah SWT dan mengupas isi surat Al Ahzab Ayat 21 sesuai dengan tema Maulid Nabi “Meneladani Perjuangan Nabi Besar Muhammad SAW”.

Berikut isi tausiah Ustadz Ahmad Ilyas.

Tidak ada teladan sebaik Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wassalam . Barangsiapa meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, niscaya ia akan menjadi teladan Seribu lima ratus tahun yang silam, siapa yang tidak mengenal sosok Abu Bakar, khalifah pertama pengganti Rasulullah sebagai imam umatnya.

Dialah pribadi paling mulia di antara umat Muhammad. Siapa pula yang tidak mengenal Umar bin Khathab, orang terbaik setelah Abu Bakar. Demikian juga dengan Utsman bin ‘Affan, orang terbaik setelah Umar, serta Ali bin Abu Thalib, yang merupakan orang terbaik setelah Ustman.

Semuanya merupakan keutamaan Allah Subhanahu wa ta’ala , di mana Ia telah memilih mereka menjadi orang-orang terbaik dari umat Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wassalam. Mereka menjadi teladan generasi setelah mereka dikarenakan mereka menjadikan Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wassalam sebagai suri teladan dalam seluruh aspek kehidupannya. Keberadaan Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wassalam di tengah-tengah mereka, telah mewarnai kehidupan mereka yang penuh kemuliaan, kebaikan, kebahagiaan, ketentraman, ketenangan, kenyamanan, kejayaan, dan sebagainya. Tidak hanya itu, mereka bahkan berada di akhir kehidupan dan mengakhiri perjuangannya dengan keberhasilan yang gemilang, yaitu membuka pintu segala kenikmatan yang ada di sisi Allah di dalam surga-Nya.

Rasulullah telah menjadi teladan para shahabatnya, serta menjadi panutan dalam melangkah dan mengarungi samudera yang dahsyat dengan gelombangnya. Ini merupakan sinyalemen keberhasilan mereka dalam menjadikan dan mempraktikkan bimbingan Allah di dalam Al Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Imam As Sa’dy mengatakan di dalam tafsirnya hal. 609, “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik yaitu dari sisi di mana beliau menghadiri sendiri suara hiruk pikuk dan langsung terjun ke medan laga. Beliau adalah orang yang mulia dan pahlawan yang gagah berani. Lalu bagaimana kalian menjauhkan diri kalian dari perkara yang Rasulullah bersungguh-sungguh melaluinya seorang diri? Maka jadikanlah dia sebagai panutan kalian dalam perkara ini dan sebagainya.”

Kemudian dikatakan oleh Imam As Sa’dy: “Suri teladan itu ada dua macam yaitu yang baik dan yang buruk. Suri teladan yang baik itu ada pada diri Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wassalam karena orang yang menjadikannya sebagai suri teladan, sungguh dia telah menempuh jalan yang akan menyampaikan kepada kemuliaan yang ada di sisi Allah. Itulah jalan yang lurus.

Adapun menjadikan selain Rasulullah sebagai suri teladan, apabila orang tersebut menyelisihi beliau, maka itu adalah suri teladan yang jelek seperti ucapan orang musyrik ketika diseru untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami telah menemukan bapak-bapak kami di atas satu ajaran dan kami di atas agama mereka mengikut.’ Suri teladan yang baik ini akan ditempuh dan akan mendapatkan taufiq atasnya, oleh orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan kebahagiaan di hari akhir.

Yang mendorongnya untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan yang baik adalah iman, takut kepada Allah, berharap pahala dari-Nya, dan takut terhadap adzab-Nya.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: