Perjuangan NU untuk Indonesia Merdeka dan Damai

29 Maret 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Jika seseorang ingin menghancurkan rumah, maka hancurkanlah terlebih dahulu pagarnya, begitulah pepatah yang berbunyi. NU telah menjadi pagar Indonesia semenjak NU berdiri pada 31 Januari 1926, telah setia menjaga kedaulatan NKRI dan tetap konsisten kepada dasar negara yaitu Pancasila dan UUD. (Baca juga: Islam Nusantara Konsep Cerdas NU Perangi Gerakan Radikal)

PerjuanganMuslimat NU NU bukan hanya omong kosong, mulai dari santri dan para kyai ikut terjung langsung ke medan perang melawan penjajah yang telah merobek bangsa ini, bahkan Muslimatpun ikut berperang. Jika teman-teman tahu bahwa di NU Muslimat ialah perkumpulan ibu-ibu NU, mereka rela memegang senjata untuk melawan penjajah.

Pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa bahwa seluruh bangsa Indonesia harus berjihad melawan penjajah, sehingga pada hari pahlawan 10 November, berkat resolusi Jihad yang difatwakan KH. Hasyim Asyari, kemudian digaungkan oleh Bung Tomo, Surabaya mampu mengusir tentara sekutu. Inilah fatwa Jihad, Jihad melawan penjajah demi keutuhan bangsa bukan Jihad melawan bangsanya sendiri dengan cara keji untuk merebut kekuasaan.

Ketika Indonesia Merdeka, maka yang pertama dirumuskan ialah dasar negara. Salah satu panitia sembilan yaitu KH. Wahid Hasyim, ayahanda KH. Abdurrahman Wahid. Ketika ada keputusan untuk menghapus kata “Menjalankan sesuai Syariat Islam” KH. Wahid Hasyim setuju sehingga Indonesia tanpa lebel Islam harus bertoleransi kepada wilayah yang penduduknya mayoritas non Muslim. (Baca juga: Islam Nusantara Network, PBNU dan Habaib Serukan Persatuan dan Islam Damai)

KH Aqil Siradj

Perjuangan NU dalam sejarah sangat panjang. Mendapatkan kemerdekaan tidak semudah HTI demo dijalan untuk mendirikan khilafah, bukan seperti ISIS dan teroris lainnya dengan cara meneror bangsanya sendiri, bukan seperti FPI yang memaksakkan pendapatnya, tapi kemerdekaan didapatkan dengan tumpah darah dan persatuan anak bangsa dalam memerangi penjajah. (Baca juga: Nadirsyah Hosen: Jika Islam Itu Cinta Damai, Mengapa Rasul Berperang?)

Maka tak heran, slogan NU akan terus menmpertahankan NKRI. Bangsa akan kuat jika bersatu, maka NU mempunyai kewajiban menjadi tameng dalam perdamaian. Munculnya tokoh-tokoh Pluralis di tubuh NU seperti Gus Dur, Cak Nun, Gus Nuril, Gus Mus, Said Agil Siradj dan lain-lain, membuat orang yang benci persatuan marah. Semoga Indonesia damai selalu. (ISNU)

Sumber: Akun Facebook Ardiyansyah

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: