Perjuangan Para Ulama dan Santri Jihad Membela Tanah Air

Senin, 15 Agustus 2016,

ISLAMNUSANTARA.COM, JAKARTA – Perjuangan yang dilakukan oleh ulama-santri ialah jihad membela tanah air, sebagai bentuk cinta tanah air (hubbul wathan) yang dimaknai sebagai jihad fi sabilillah. Tapi tetap agama sebagai dasarnya. Karena upaya mempertahankan dan menegakkan negara Republik Indonesia dalam pandangan Hukum Islam merupakan bagian dari kewajiban agama yang harus dijalankan umat Islam. (hlm. 208). Hukum tersebut sudah menjadi keputusan para kyai, yang akhirnya melahirkan “resolusi jihad”. Resolusi ini menjadi pegangan ampuh para pasukan santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah maupun Laskar Sabilillah.

Di sinilah buku ini memperoleh “Klimak” nya, karena berhasil mengungkap begitu besarnya peran ulama-santri dalam perjuangan kemerdekaan RI. Resolusi jihad tidak hanya sebagai pengobar semangat ulama-santri, tapi juga bertujuan “mempengaruhi” pemerintah agar segera menentukan sikap melawan kekuatan asing yang ingin menggagalkan kemerdekaan (hlm. 210). Jauh sebelumnya, yaitu masa pendudukan Jepang, kaum ulama-santri sudah bersiap-siap menyusun kekuatan. Diplomasi KH. Wahid Hasyim (putra Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari), berhasil meyakinkan pemerintah militer Jepang untuk memenuhi permintaan kalangan Islam dengan membentuk barisan pertahanan dan pembelaan tanah air dalam wujud Hizbullah.

Sebagai wakil ketua Masyumi KH. Wahid Hasyim melakukan langkah dengan menggelar rapat di Taman Raden Saleh, Jakarta pada 13-14 September 1944. Sebulan kemudian, Masyumi mengadakan rapat khusus dengan kesepakatan untuk mengajukan resolusi kepada Jepang agar segera mempersiapkan umat Islam Indonesia untuk siap menerima kemerdekaan (hlm. 137). Di saat tentara Negara belum efektif terutama jalur komandonya, Laskar ulama-santri telah sigap menghadapi berbagai ancaman yang akan terjadi. Bahkan konsolidasi dan jalur komando laskar Hizbullah dengan dukungan struktur NU dan Masyumi begitu massif hingga ke pedesaan.

Sebagai bentuk dukungan, Laskar tetap loyal terhadap Negara. Ini ditandai dengan meleburnya Laskar Hizbullah dan Sabilillah ke dalam TNI dan terus aktif terlibat dalam berbagai serangan umum terhadap markas Belanda. Kegigihan para pejuang menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia tetap eksis meskipun ibu kota sudah diluluhlantahkan kolonial Belanda. Perjuangan ini akhirnya membuahkan hasil dengan diakuinya kedaulatan RI dalam perundingan KMB. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: