Pesan Toleransi di Peringatan Maulid Nabi Timika

maulid-nabi-timika-640x420

Sumber: NU Online

Jumat, 18 Desember 2015

TiIMIKA, ISLAMNUSANTARA.COM – Di acara peringatan Maulid Nabi SAW di Timika, Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Prof. Dr. Ahmad Thib Raya dalam ceramahnya menyatakan pentingnya meneladani akhlak Rasul yang sangat mulia.

Di antara akhlak Rasul yang sangat penting diteladani dalam kehidupan nyata sehari-hari adalah sikap jujur, penuh empati, toleransi, cinta damai, gemar silaturahim dan senang mengembangkan ilmu pengetahuan.

Kondisi kelompok dalam masyarakat Papua yang sangat hetrogen, penting bagi umat Islam Timika mengedepankan sikap toleransi untuk membangun relasi yang baik dengan penduduk lokal, khususnya non-Muslim.

“Senang sekali menyaksikan acara maulid dengan banyak improvisasi (bid’ah) yang positif dan konstruktif. Berharap agar pesan-pesan moral maulid sungguh-sungguh dapat diaktualisasikan dalam kehidupan nyata masyarakat Muslim,” katanya.

Ia mengaku lebih senang lagi melihat kondisi umat Islam yang berkembang pesat di Timika. Sebab, 15 tahun lalu ia pernah ke sini, jumlah mereka masih kecil dan tingkat ekonomi ekonomi masih sangat rendah.

“Di lubuk hati terdalam, saya berdoa semoga damai bersemi dalam masyarakat Papua, mereka lapang dada dapat menerima kehadiran banyak pendatang yang sangat beragam asal-usulnya. Saya lebih berharap lagi, para pendatang, khususnya kelompok Muslim, senantiasa menjaga hubungan baik dengan mereka dan selalu menghormati eksistensi mereka sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Hidup bhinneka tungal ika,” pungkasnya.

Peringatan Maulid Nabi digelar di Pondok Pesantren Darud Dakwah wal Irsyad Nurul Islam (DDI) digelar 16 Desember 2015 bertempat di Timika, Kabupaten Mimika, Papua. Pondok Pesantren ini merupakan salah satu cabang DDI, pesantren tertua di Sulawesi Selatan.

Dikutip dari NU Online, Hj. Musdah Mulia yang hadir pada kesempatan tersebut mengatakan,  ccara diadakan di gedung Tongkonan, milik jemaat Gereja Toraja yang di dalamnya bertaburan simbol-simbol kekristenan.

“Sangat menyenangkan melihat kerja sama konkret antaragama, bukan sekadar wacana verbal yang penuh dengan nuansa politis,” kata Musdah Mulia melalui akun Facebooknya Kamis 17 Desember 2015.

Peserta yang hadir, kata dia, membludak sehingga gedung Tongkonan yang letaknya di depan sebuah gereja tua tampak sesak. Umat Islam Timika sangat antusias merayakan peringatan maulid Rasul.

“Semoga kesemarakan dalam beragama ini berbanding lurus dengan tingkat spiritual mereka sehingga nilai-nilai Islam yang mengedepankan keadilan, kejujuran, kesetaraan dan kemashlahatan dirasakan semua manusia, tanpa kecuali,” kata mantan Sekjen Fatayat NU ini. 


Ia mengaku sudah lama tidak mengikuti acara maulid di pesantren tradisional karena itu kehadirannya menangkap berbagai hal baru. Mulai dengan dekorasi panggung yang gemerlap dengan lampu-lampu hias berwarna, mirip panggung untuk lomba lagu-lagu dangdut.

Hiasan lain, beraneka bunga yang terbuat dari telur-telur yang diwarnai sering dijadikan ikon peringatan maulid dalam masyarakat tradisional Sulawesi Selatan. Juga ratusan ember kecil berwarna-warni, isinya nasi ketan lengkap dengan telur dan lauknya untuk dibagikan kepada para tamu seusai acara.

Acara dimulai dengan suguhan hiburan dari para santri sangat mengasyikkan. Bukan hanya lagu-lagu qasidah, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, shalawatan dan Asmaul Husna, tapi juga tarian Melayu yang indah menawan. Tak kalah menariknya ketika sejumlah santri duduk bersama dan bergantian membaca kisah hidup Rasul mulia.

“Mata saya tidak berkedip mengikuti gerakan para santriwati yang meliuk-liuk indah penuh energik mengikuti irama lagu yang sangat dinamis. Saya sungguh mengapresiasi panitia dan juga pengurus ponpes membolehkan para santriwati belajar kesenian, termasuk berlatih menari. Seni merupakan media penting untuk menghaluskan jiwa dan melatih sikap sportif yang diperlukan dalam kehidupan sosial,” tambah Musdah.

Hal itu, menurut Musdah adalah bid’ah karena semua ditemukan di masa Rasul. Bid’ah adalah semua hal baru yang tidak pernah dijumpai pada masa Rasul. Namun, tidak semua hal yang dikategorikan bid’ah itu haram atau terlarang, melainkan hanya yang menimbulkan mudharat saja. Jika, bidah itu menghasilkan hal-hal positif dan konstruktif, tentu perlu dikembangkan.

Acara ditutup dengan doa dan pembagian ember warna-warni penuh hiasan yang berisi makanan tradisional. Makanan itu untuk dibagi kepada seluruh sanak keluarga, khususnya mereka yang tidak hadir dalam acara maulid.

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: