Politik Arab Dibalik Kisah Penyembelihan Ismail

Jum’at, 09 September 2016

ISLAMNUSANTARA.COM – Kepatuhan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih Ismail, putranya, dan kerelaan Ismail untuk dikorbankan. Al-Qur’an menekankan aspek ketaatan mereka dalam berserah diri kepada Tuhan. Untuk memperingati itu Kaum Muslim merayakan hari lebaran Idul Adha, festival kurban.

Dalam kitab Suci kaum Muslim sesungguhnya tidak menyebut secara eksplisit identitas anak yang dikorbankan Ibrahim: Ismail atau Ishak? Para ahli tafsir (mufassir) modern memang berasumsi bahwa Ismail adalah anak yang dimaksud, kendati sumber-sumber tafsir awal mengindikasikan adanya perbedaan pendapat dalam soal tersebut.

Tulisan singkat ini hendak membongkar dimensi ideologi Arab dalam penisbatan anak yang dikorban (dzabih) sebagai Ismail. Namun, sebelum bicara propaganda Arab itu, kita tengok dahulu perbedaan pendapat dalam literatur tafsir awal.

Siapa yang Dikorbankan: Ismail atau Ishak?

Sumber-sumber Yahudi dan Kristen menyebut secara eksplisit bahwa Ishak adalah putra yang dikorbankan Ibrahim. Pengorbanan Ishak sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kejadian pasal 22 telah dikomentari begitu detail dalam sumber-sumber Yahudi seperti Talmud, dan mengilhami pemuka-pemuka Kristen, dari Origen dan Ambrose hingga Gregory, Cyril (dari Alexandria) dan Agustinus (dari Hippo).

Berbeda dengan Alkitab, al-Qur’an tidak menyuguhkan kisah Ibrahim dan putranya secara detail. Barangkali al-Qur’an mengasumsikan audiensnya sudah mengetahui detail kisah tersebut, sehingga tujuan menarasikannya bukan untuk menyampaikan sebuah cerita. Namun demikian, fakta bahwa al-Qur’an tidak menyebut nama anak yang dikorbankan itu telah memunculkan beragam tafsir di kalangan Muslim awal.

Menarik dicatat, para mufassir awal cenderung menyebut Ishak sebagai anak yang dikorbankan, bukan Ismail. Muqatil b. Sulaiman (w.150/767), ahli tafsir paling awal yang karya utuh tafsirnya sampai kepada kita sekarang, secara tegas menyebut Ishak sebagai dzabih (anak yang disembelih).

Bahkan, hingga abad kesepuluh (atau keempat Hijriyah) jumlah riwayat yang pro-Ishak dan pro-Ismail masih berimbang. Hal itu dapat dilihat dalam tafsir al-Tabari (w.310/923), yang merekam beragam pendapat para ulama terdahulu. Dalam magnum opus-nya, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, Tabari mencatat 17 riwayat yang mengidentifikasi Ishak sebagai korban. Dari sekian riwayat tersebut, misalnya, terdapat pernyataan para sahabat dan Tabi’in yang menyebut “al-dzabih huwa Ishaq” (yang disembelih ialah Ishak).

Pada sisi lain, Tabari menyebut 24 riwayat pro-Ismail, termasuk pernyataan yang dinisbatkan pada Nabi Muhammad. Yang menarik ialah Tabari sendiri memilih pendapat yang mengakui Ishak sebagai korban. Ia memulai pendapatnya dengan kalimat “awla al-qaulain bi al-shawab” (pendapat yang paling mendekati kebenaran di antara keduanya). Pertimbangan Tabari semata didasarkan pada makna tekstual dari al-Qur’an (‘ala dhahir al-tanzil).

Baru pada masa Ibnu Taimiyah (w.726/1328) dan dikukuhkan oleh muridnya, Ibnu Katsir (w.774/1373), pada abad keempat-belas, identifikasi korban sebagai Ismail mendapat pengakuan luas, dan diikuti kaum Muslim hingga sekarang.

Untuk mendukung pandangannya, Ibnu Taimiyah bukan hanya mengaitkan berbagai kisah Ibrahim dalam al-Qur’an, tapi juga merujuk pada Alkitab. Misalnya, ia berargumen bahwa Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan anak satu-satunya (Kitab Kejadian 22:2), tapi orang-orang Yahudi dan Kristen menambahkan nama Ishak. Tidak dijelaskan dari mana penambahan nama Ishak itu diperoleh.

Di tangan Ibnu Katsir, pandangan pro-Ismail dipromosikan sebagai paham ortodoksi. Pendapat yang berbeda dituduh “kidzb wa buhtan” (bohong dan dusta), yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dan diambil dari cerita-cerita ahli kitab (isra’iliyat).

Di Balik Kemenangan Pro-Ismail

Tidak sulit untuk menelusuri adanya intrik politik Arab di balik pergeseran dari pro-Ishak menjadi pro-Ismail. Sebagaimana umum diketahui, dalam agama Yahudi dan Kristen, Ishak merupakan figur penting yang darinya lahir nabi-nabi. Ia juga diagungkan melebihi saudara-saudaranya, Ismail dan anak-anak Keturah, istri Ibrahim yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an.

Dalam tradisi Islam, Ismail memainkan peran lebih menonjol dan penting dari figur Ishak. Sebenarnya keberadaan Ismail dalam al-Qur’an tidak terlalu signifikan, terkecuali bahwa ia digambarkan sebagai anak yang membantu Ibrahim membangun fondasi Ka’bah (Q. 2:127). Keduanya mengajarkan ritual haji yang kelak menjadi bagian dari rukun Islam. Walaupun peran Ismail masih berada di bawah Ibrahim, sumber-sumber Muslim di luar al-Qur’an menekankan keutamaan garis genealogi Ismail sehingga Nabi Muhammad pun diyakini sebagai keturunannya.

Salah satu aspek cukup menonjol dalam perkembangan identitas Ismail dalam sumber-sumber Muslim ialah posisinya sebagai bapak orang-orang Arab. Menurut ahli nasab, seluruh kaum Arab berasal dari keturunan satu di antara dua pendahulu mereka: Qathan dan Adnan. Yang pertama dianggap sebagai Arab asli, sebuah sebutan yang meliputi suku Jurhum.

Dalam sistem nasab yang disusun oleh Ibnu al-Kalbi (w.206/821) pada abad kesembilan dan kemudian diterima luas, Ismail disebut sebagai kakek-moyang suku-suku Arab utara yang dikenal dengan Adnan. Ismail kawin dengan wanita dari suku Jurhum, yang berafiliasi dengan kota Mekkah. Perkawinannya dengan wanita Jurhum telah menjadikan Ismail sebagai seorang Arab karena Jurhum termasuk dari Qathan, Arab asli dari selatan.

Rentetan genealogi di atas hendak memperlihatkan bahwa dalam figur Ismail bersatu suku-suku Arab kutub utara dan selatan, yang menjadi asal-muasal Quraisy – suku Arab yang melahirkan Nabi Muhammad. Walaupun Ismail berasal dari suku Adnan, proses Arabisasi Ismail menjadi sempurna melalui perkawinannya dengan wanita suku Jurhum.

Sistem nasab tersebut juga menggambarkan skema Arabisasi figur Bible Ismail yang tak lain adalah putra patriakh Ibrahim yang berasal dari kota Ur di lembah Babilonia. Para ahli nasab Muslim Arab telah menggabung-gabungkan sistem genealogi Arab pra-Islam dan narasi Alkitab untuk meng-Arab-kan Ismail dan menjadikannya kakek-moyang Nabi Muhammad.

Lalu, kapan “Ismail Arab” itu menjadi sentral dalam tradisi Islam? Berikut saya kutipkan pandangan Carol Bakhos dari Universitas California Los Angeles (UCLA), dalam The Family of Abraham (2014):

“It was when Islam traversed the borders of the Arabian peninsula and established itself in Persia that Ishmael’s prominence as the father of the Arabs became more intricately incorporated into the Islamic metanarrative.”

Gambaran tentang Ismail yang bias Arab itu, disadari atau tidak, juga memasuki ranah tafsir terkait anak Ibrahim yang dikorbankan. Ini sekadar satu contoh bagaimana penafsiran Kitab Suci juga bisa menjadi arena kontestasi ideologis guna mendukung tujuan teologis dan bahkan politik. Identifikasi Ismail sebagai anak Ibrahim yang dikorbankan jelas sarat muatan ideologis untuk meneguhkan superioritas Arab atas lainnya, yang dibungkus dengan argumen keagamaan.

Propaganda Arab itu membentuk dimensi keagamaan tertentu vis-à-vis Yahudi dan Kristen ketika rivalitas antar-agama semakin mengeras pada masa pertengahan, yang mencapai kulminasinya pada masa Ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir. Jika dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Ishak merupakan figur penting bagi kesinambungan masyakarat kovenan, kaum Muslim menonjolkan Ismail sebagai putra kesayangan Ibrahim dalam kisah pengorbanan.

Demikianlah masyakarat diskursif terus berdebat apakah Ibrahim mengorbankan Ismail atau Ishak. Tapi, saya kira, semua orang sepakat, daging hewan kurban tetap enak rasanya, baik dimasak gule ataupun opor. (ISNU)

Sumber: Geotimes.co.id

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: