Politisi Nasdem Sampaikan Ceramah “Ektremisme dan HTI”, Pendukung Prabowo-SBY Marah

Jum’at, 04 Agustus 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta  – Video ceramah berdurasi 2 menit 5 detik yang disampaikan Ketua Fraksi NasDem DPR RI, Victor Laiskodat, di Kupang NTT, tengah ramai dibicarakan di media sosial . Karuan isi pidato yang menyebut ekstremis dan khilafah berikut pendukungnya itu, membuat sejumlah pihak marah. Terutama pendukung Gerindra (Prabowo Subianto) dan Partai Demokrat (Susilo Bambang Yudhoyono) di mana partainya disebut secara jelas bersama PAN dan PKS.

Dalam penggalan pidatonya, Victor dianggap memprovokasi warga untuk melawan mereka yang menolak Perppu Ormas. Penggalan pidato itu dipublikasikan oleh akun Twitter @panca66 kemudian dishare ke banyak media sosial. Dari informasi yang diterima duta.co, pidato tersebut dilakukan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada hari Selasa, 1 Agustus lalu. Video berdurasi 2 menit 5 detik itu, tampak jelas tidak utuh. Begini di antara penggalan ucapan Victor dalam video tersebut:

“…Negara khilafah tidak boleh ada perbedaan semua harus salat. Saya tidak provokasi, tetapi orang Timur yang semua itu berarti tunggu nanti negara hilang kita bunuh pertama mereka, sebelum kita dibunuh (warga tertawa). Ingat dulu PKI 1965, mereka tidak berhasil, kita yang eksekusi mereka. Lu telepon lu punya ketua umum di sana, suruh jangan tolak-tolak itu Perppu yang melarang untuk.. Perppu Nomor 2 tahun 2017….”

Bila dilihat secara cermat, sepertinya ada isi pidato yang sengaja dipotong. Ini bisa menimbulkan multi tafsir. Tapi, walau hanya berisi potongan, video ini menyebar luas. Di video tersebut juga ada ucapan terkait Perppu Ormas. Isinya terkesan menuduh empat partai politik berada di belakang kelompok ekstremis dan gerakan khilafah yang ingin mengganti NKRI.

Dalam potongan pidato itu terdengar secara eksplisit bahwa Victor mengajak hadirin tidak memilih para calon kepala daerah atau calon legislator dari partai-partai yang ada di belakang ekstremis dan gerakan pro khilafah. Celakanya, partai-partai pendukungnya itu ada di NTT juga. “Yang dukung supaya ini kelompok ekstremis ini tumbuh di NTT, partai nomor satu Gerindra, partai nomor dua itu namanya Demokrat, partai nomor tiga itu PKS, partai nomor empat namanya PAN,” begitu kedengarannya.

Ia jelaskan, jika khilafah berhasil berdiri maka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak akan ada lagi. Bahkan, semua orang Indonesia akan diwajibkan melaksanakan salat.

Walau di tengah pidatonya ia mengaku tidak memprovokasi, tetapi Victor juga mengajak hadirin untuk melawan para pendukung ekstremis dan khilafah itu. Ia mengingatkan kepada Tragedi 1965 di mana orang-orang yang dianggap komunis atau pendukung PKI dibantai.

Dan rupanya, pidato itu sampai ke telinga DPP Partai Demokrat yang dalam Perppu Ormas cenderung menolak seperti Gerindra, PKS dan PAN. Ketua DPP Partai Demokrat Benny K Harman lalu menyampaikan protesnya.

“Tuduhan bahwa PD adalah salah satu parpol yang pada tingkat nasional tidak mendukung Perppu Pembubaran Ormas Radikal sehingga harus ‘dibunuh’ di NTT, adalah upaya sistematis dari kekuatan politik tertentu untuk menghancurkan kredibilitas PD di NTT khususnya, dan di tingkat nasional umumnya,’ ucap Benny dalam rilis kepada wartawan, Kamis (3/8).

“Pernyataan yang secara sederhana menyamakan sikap kritis terhadap Perppu dan pembubaran HTI dengan sikap mendukung HTI dan Ormas radikal sangat tendensius, menzalimi dengan maksud agar PD dijauhkan dari rakyat NTT,” imbuh Wakil Ketua Fraksi Demokrat itu.

Benny menyebut tuduhan yang disampaikan Viktor itu tak berdasar, keji dan tak pantas keluar dari seorang tokoh sekelas Victor Laiskodat. Tuduhan kejam tersebut justru mengerdilkan ketokohan Victor dan sangat mengadu domba masyarakat NTT yang selama ini dikenal harmonis dan cinta damai.

“Ajakan kepada rakyat NTT untuk tidak mendukung dan tidak memberi tempat kepada Partai Demokrat di NTT, pasti berkaitan dengan kontestasi demokrasi yang segera akan berlangsung di NTT baik terkait Pilkada Gubernur pun Pilkada sepuluh kabupaten,” lanjutnya.

Menurutya, ada keinginan dari keluatan politik tertentu agar kader-kader terbaik PD tidak memimpin dan tidak ikut kontestasi dalam Pilgub dan Pilkada 10 kabupaten. “Langkah ini sungguh kami sesalkan karena dapat menyesatkan dan hanya ingin menjauhkan PD dari rakyat NTT,” kata Benny.

Benny meminta seluruh rakyat NTT untuk tetap tenang bekerja, menjaga perdamaian dan keharmonisan dengan tidak gampang diprovokasi oleh pernyataan politik dari tokoh tertentu yang hendak mengganggu keharmonisan di NTT.

“PD tingkat nasional termasuk PD NTT mendukung setiap ikhtiar pemerintah untuk menutup pintu terhadap tumbuh kembangnya ormas-ormas radikal di masyarakat yang secara tegas menolak ideologi Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan anti kebhinekaan,” ujarnya.

Bagi Demokrat, di seluruh wilayah Indonesia, Pancsila, UUD 1945, NKRI dan kebhinekaan adalah harga mati. Karena itu adalah menjadi panggilan sejarah PD untuk terus mengawal Pancasila, NKRI, kebhinekaan dan melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen sebagai hukum negara tertinggi.

“Oleh karena itu, saya meminta saudara Victor Laiskodat segera mencabut tuduhan tak berdasar tersebut, dan meminta-maaf kepada Partai Demokrat atas pernyataannya yang menyesatkan dan dapat menimbulkan keresahan publik di masyarakat NTT khususnya,” tutupnya.

Hal yang sama disampaikan para pendukung Gerindra. Mereka menolak keras tuduhan Victor. Sementara itu, Victor Laiskodat, saat dikonfirmasi kumparan.com membantah ada pernyataan dia yang memprovokasi apalagi ada ajakan membunuh.  “Enggak ada, enggak ada itu,” ucap Victor.

Victor meminta agar siapapun melihat pidatonya secara utuh. Dia juga mempertanyakan bukti yang menjadi landasan Demokrat membuat sikap protes seperti disampaikan Benny di atas. “Saya menyoroti partai yang menginginkan adanya ormas anti-Pancasila. Enggak ada urusan bunuh bunuh seperti PKI. Kalau tidak layak hidup di Indonesia mungkin,” terangnya. “Silakan saja mereka (protes) kalau ada rekamannya. Biarin aja,” tegas Victor.

Ketua DPP Nasdem Irma Suryani Manik, mengatakan rekannya itu hanya berkelakar tentang bunuh membunuh dan mengumpamakannya dengan kasus PKI. Dalam pidato itu juga tidak menyebut nama partai. “Apa yang disampaikan Victor itu tidak memprovokasi. Mana ada dia menyebut Demokrat, PAN, PKS, Gerindra? Itu kan dia cuma dalam konteks bercanda menyebut Gerindra yang tak setuju Perpu Ormas,” ucap Irma. (ISNU)

Sumber: Duta.co

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: