Pribumisasi Mencegah Radikalisme

Islamnusantara.com – Radikalisme agama telah menjadi kekhawatiran bangsa karena praktik keberagamaan tersebut merapuhkan kebhinekaan dan kedamaian. Gerakan purifikasi itu mengingkari unsur lokalitas yang turut membentuk Islam Indonesia. Karenanya keberagamaan ini menafikan pluralisme sedemikian rupa; cenderung intoleransi, eksklusifisme, anti-keragaman (multikulturalisme) dan pada titik kritis bisa melahirkan terorisme.

Said Aqil Siradj berpendapat dalam artikel berjudul “Kebutaan Budaya” menyatakan bahwa puritanisme yang akhirnya membibit radikalisme agama dan terorisme, terkait dengan persebaran keberagamaan yang ternyata berangkat dari sentimen antibudaya. Mereka tidak melihat bahwa persenyawaan Islam Indonesia adalah metamorfosis yang tidak bisa terlepas dari khazanah lokalitas keindonesiaan. Said Aqil menyebutnya sebagai Kebutaan Budaya.

terorism-has-not-religionSentimen antibudaya inilah yang mengikat psikologis mental keagamaan kalangan radikal menjadi tertutup (ekslusif) dan garang, sehingga mudah terkontaminasi oleh induksi teror. Teror dalam bentuk stimulasi semangat jihad perang dan martir bom bunuh diri sebagai dampak subliminal message seseorang atau kelompok yang menamakan gerakan ini ‘mati syahid’.

Sebagai langkah mengantisipasi perkembangan radikalisme dan terorisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah mengagendakan perspektif afirmatif,  dengan memperkuat program-program deradikalisasi guna menjadikan sikap praksis keberagamaan ini lebih ramah bagi kehidupan kebangsaan dan mencegah lahirnya martir terorisme. Namun, jika mengacu ke historisitas keberagamaan nusantara, program deradikalisasi itu ternyata tidak terlalu mengakar ke basis komunitas beragama, tanpa memahami akar sejarah islam di nusantara.

Jejak Historis

Tulisan ini ingin memantik kembali gagasan Gus Dur tentang “Pribumisasi Islam” yang muncul tahun 1980-an (Anwar, 2006, dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita, The Wahid Institute). Gagasan itu merupakan jawaban yang mampu memberikan perspektif terhadap pencegahan praktik radikalisme agama. Penghargaan Gus Dur terhadap metamorfosis Islam Nusantara yang menempatkan Islam secara kontekstual; bagian dari proses budaya. Kalau boleh disadari, meskipun sedikit terlambat, tempo itu dapat ditempatkan sebagai cara pandang futuristik Gus Dur perihal Islam Indonesia ke depan agar tidak terperangkap dalam radikalisme dan terorisme. Dua hal yang mencerabut Islam dari akar nusantara.

Pribumisasi Islam menampik bahwa praktik keislaman “tidak selalu identik” dengan pengalaman Arab (Arabisme). Ia adaptif dengan lokalitas. Akar “Pribumisasi Islam” sebenarnya tidak asing jika dilihat dari historisitas NU.

Pribumisasi merupakan semangat lanjutan dari perjuangan kakek Gus Dur, KH. Hasyim Asy’ari yang berusaha tetap mempertahankan praktik ritual dan beragama mazhab Syafi’i Indonesia dengan corak tradisionalis. Perjuangan ini membidani kelahiran NU (1962) karena tidak sejalan dengan kaum modernis yang mendukung kepemimpinan baru Wahabi di Makkah, di bawah reformis Ibnu Saud. Naiknya Saud dikhawatirkan akan merongrong keberagamaan Mazhab Syafi’i.

Gerakan ini tidak semata-mata aksi pembelaan kaum tradisionalis dari serangan modernis, yang mengatakan kaum tradisionalis musyrik karena praktik TBK (Takhayul, Bid’ah dan Khurafat). Ia telah mengilhami praktik kultural Islam nusantara yang menyelamatkan Indonesia ketika puritanisme telah menjadi hipotesis mula lahirnya gerakan Islam radikal dan terorisme.

Menyelematkan Indonesia

Gus Dur secara eksplisit berusaha mentransformasi perlawanan kakeknya ini dengan semangat di zamannya melalui gagasan “Pribumisasi Islam”. Gerakan melawan puritanisme telah menyadarkan kita, bahwa pilihan perjuangan tersebut tidak semata-mata demi kalangan tradisionalis (NU). Di hari ini ketika Islam Indonesia di bawah ancaman gerakan radikal dan terorisme, gerakan itu justru dapat dikatakan menyelamatkan Indonesia.

Pribumisasi adalah cara mujarab untuk memerangi radikalisme agama. Gagasan ini menjadi entitas asli mengembalikan Islam Indonesia yang lebih membudaya, rahmatan li al ‘alamin, sesuai konteks keindonesiaan. Islam kultural inilah yang sebenarnya telah dipelihara NU sebagai bagian dari upaya pendekatan keberagamaan. Dalam konteks ini, NU memahami bahwa nilai-nilai historis perkembangan Islam tidak bisa lepas dari ketegangan dan persinggungan dengan budaya. Seperti halnya Sunan Bonang dan Kalijaga dengan  menggunakan seni lokal sebagai instrumen dakwah.

Perspektif Walisanga ini selain melestarikan budaya nusantara, Islam dikembangkan menggunakan “kecerdasan artistik”. Islam dikomunikasikan ke orang lain dengan makna keindahan. Doktrin digubah menjadi spirit yang dapat dengan mudah dipahami oleh orang awam dengan cara persuasif. Spirit itu telah menyinari alam bawah sadar masyarakat awam.

Islam seperti ini menambah eksotisme kemanusiaan dan mampu mereduksi (menghindari) konstruksi jihad sebagai eskalasi psikologis-mental perang. Islam mengedepankan kehalusan budi dalam membawa pesan-pesan doktrin dan tetap menghidupkan ekspresi lokalitas.

Pribumisasi Islam memungkinkan praksis keberagamaan mengambil sisi kearifan lokal. Islam dapat ditafsirkan untuk memaknai kearifan local. Bahkan mampu menghidupkan komoditas budaya lokal menjadi semangat zaman di tengah liberalisasi budaya dan komoditas “Arabisme”.

Pribumisasi Islam adalah psikologi indigenious yang mengembangkan spiritualitas keberagamaan berangkat dari akar kearifan lokal. Khazanah kearifan lokal itu ditafsirkan membentuk variasi keberagamaan yang dapat dimaknai ke dalam pelbagai unsur budaya.

Islam ditafsirkan kedalam jantungnya kearifan lokal. Ia mampu menggubah substansi spiritualitas (Tauhid) tanpa mengubah bentuknya. Tanpa teriak Allahu Akbar tauhid mampu dibangun bersama narasi-narasi lokalitas. Islam telah menyatu ke jantung masyarakat yang beragam latar budaya. Di sinilah Islam rahmatan li al-‘alamin dipraktikkan tanpa menyakiti manusia.

Oleh karena itu, pencegahan praksis keberagamaan untuk mencegah lahirnya kader radikalisme dan teroris pada akhirnya akan jauh lebih mengakar ketika gagasan “Pribumisasi Islam” dilestasikan sebagai praksis Islam Nusantara. Ia menjadi pendidikan kultural yang dilestarikan melalui langgar, surau, musholla, dan masjid di desa-desa. Ia mewadahi dinamika kolektif masyarakat lokal, diwariskan dari generasi ke generasi, dikonservasi melalui praktik budaya lokal.  (ISNA)

Sumber : Mohammad Mahpur, Nu.online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: