Prof Nasaruddin Umar: Memahami Islam Rahmatan Lil Alamin

Sabtu, 15 Juli 2017

ISLAMNUSANTARA.COM,  Jakarta – Islam rahmatan lil ‘alamin adalah tidak lain dari Islam yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Islam mewajibkan umatnya untuk menghargai manusia dan kemanusiaannya, sebagaimana ditegaskan di dalam Allquran: Walaqad karramna bani Adam… (Allah memuliakan anak cucu Adam/QS al-Isra’/17:70).

Ayat ini tidak mengatakan Allah Swt memuliakan umat Islam, tetapi siapa pun yang merasa anak-cucu Adam, tanpa membedakan jenis ke lamin, etnik, bahasa, dan kewarganegaraannya, wajib bagi umat Islam untuk memuliakannya.

Islam tidak mentolerir segala bentuk kekerasan. Atas nama apa pun dan untuk tujuan apa pun, kekerasan tidak ada tempatnya di dalam Islam. Allah SWT menegas kan di dalam Alquran: La ikraha fi al-din (Tidak ada paksaan dalam kehidupan beragama/QS al-Baqa rah/2:256).

Islam juga tidak menolerir segala bentuk usaha memperjuangkan kebenaran dengan cara mencelakakan diri sendiri atau orang lain, seperi melakukan bom bunuh diri demi memperjuangkan sebuah idealisme, sebagus apa pun idealisme itu, sebagaimana firman Allah: Wa la tulqu bi aidiyakum ila al-tahallukah (jangan menceburkan diri kalian ke dalam kehancuran QS al-Baqarah/2:195).

Namun demikian, kita juga tidak boleh melakukan pembiaran kebatilan itu berlanjut terus-menerus. Kita tetap dituntut untuk bertanggung jawab memberikan pencerahan terhadap orang lain, baik sebagai individu maupun melalui berbagai kapasitas yang kita miliki.

Kita tetap diminta untuk mencari opsi-opsi ideal di dalam menawarkan setiap misi ideal yang kita emban. Kita memerlukan berbagai strategi di dalam mencapai misi ideal tersebut. Allah SWT berfirman: La tadkhulu min abwabin wahidah, wa adkhulu min abwabin mutafarriqah (QS Yusuf/12:67).

Salah satu strategi itu ialah mengajak berbagai kalangan untuk bermusyawarah dan berdialog. Jika jalur musyawarah ini menemui ke sulitan tidak lantas kita diminta menempuh jalan kekerasan, tetapi kita diminta untuk menyerahkan urusan itu kepada Allah SWT, sebagaimana dalam firmannya: Wa syawiruhum fi al-amri fa idza ‘ad zam ta fatawakk (Bermusyawa rah lah dalam setiap urusannya, fa idza ‘azamta fatawakkal ‘ala Allah QS ali-Imran/3:159).

Alquran lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan serta ke ber samaan ketimbang perbedaan, apalagi permusuhan, sebagaimana seruan Allah SWT: Qul ya Ahl al- Kitab ta’al ila kalimatin sawa’ (QS ali-Imran/3: 64). Isyarat ayat ini senada dengan rumusan yang telah dirumuskan oleh the founding fa ther bangsa Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika, bercerai berai tetapi te tap satu, karena adanya common platform yang sama, yaitu kepen ting an untuk menjadi sebuah nega ra bangsa yang ideal, baldatun thayyibah wa Rabbun gafur (negri yang indah penuh ampunan Tuhan).

Tugas kita hanya menyampai kan dan memperkenalkan Islam melalui cara-cara bijaksana. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada orang lain, sungguhpun itu untuk meluruskan akidah dan kepercayaan orang yang nyatanyata menyimpang dari ajaran Islam. Allah Swt menegaskan: In na ka la tahdi man ahbabta wa (QS al-Qashash/28:56).

Namun demikian, kita juga ti dak boleh melakukan pembiaran ke batilan itu berlanjut terus-mene rus. Kita tetap dituntut untuk ber tang gung jawab memberikan pen cerahan terhadap orang lain, baik sebagai individu maupun melalui berbagai kapasitas yang kita miliki. Kita tetap diminta untuk mencari opsi-opsi ideal di dalam menawar kan setiap misi ideal yang kita em ban. Kita memerlukan berbagai stra tegi di dalam mencapai misi ideal tersebut. Allah Swt berfir (QS Yusuf/12:67).

Salah satu strategi itu ialah mengajak berbagai kalangan untuk ber mu syawarah dan berdialog. Jika jalur musyawarah ini me ne mui kesulitan tidak lantas kita diminta menempuh jalan kekeras an, tetapi kita diminta untuk menyerahkan urusan itu kepada Allah SWT, sebagaimana dalam firmannya: Wa syawir hum fi al-amr, fa idza ‘azamta fa tawakkal ‘ala Allah (QS ali-Imran/3:159).  (ISNU)

Ditulis oleh Prof Dr Nasaruddin Umar, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Sumber: Republika

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: