Prof. Quraish Shihab, Ulama yang Pantas Ditiru Ustad Lainnya

Kamis, 22 September 2016

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Muhammad Quraish Shihab, seorang Ulama senior nan tersohor. Ia dilahirkan di daerah pedalaman Sulawesi Selatan, tepatnya di Sidenreng-Rappang Sinreng, Rappang pada 16 Februari 1944. Usianya yang menjelang senja 68 tahun, beliau masih bersemangat sekali menjalankan tugasnnya sebagai ahli agama Islam khususnya ahli tafsir.

Beliau terkenal sejak menjabat sebagai dosen dan dekan di  IAIN Makassar. Kemudian pada tahun 1984 ia pindah ke IAIN Jakarta hingga akhirnya menjadi rektor, menteri, dubes untuk Mesir dan berbagai kegiatannya sebagai mubaligh atau ahli ilmu agama islam yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini.

Sosok bersahaja ini pernah menjadi Menteri Agama era presiden Soeharto pada tahun 1998 meskipun dalam usia jabatan hanya 3 bulan sebelum pak Harto lengser  sebagai presiden akibat tekanan reformasi.

Selain meniti karier dalam pemerintahan dan kenegaraan, Qurasih Shihab juga terlibat dalam berbagai kegiatan misalnya penulis buku, penceramah handal cendekiawan muslim Indonesia.

Berkaitan dengan ceramah-ceramahnya yang singkat tapi padat dan menggelegar pendengarnya, kita dapat melihat sosok yang satu ini memang lain dari kebanyakan ustad atau kiyai yang kita temukan sekarang ini  yang “gemana gitu” model dan tingkahnya.

Lihat, dengarkan dan cermati suara dari rangkaian kata demi kata Quraish Shihab tatkala memberi ceramah legendarisnya di RCTI dengan tajuk “Kultum” atau Kuliah Tujuh Menit. Acara ini sangat dinantikan pemirsa sampai kini dengan nama acara yang sama. Ratingnya selama hampir 5 tahun mengalahkan tayangan Opera van Java (OVJ) yang baru tayang selama 4 tahun.

Pendengar ceramah ustad ini pun berasal dari seluruh lapisan masyarakat menandakan ia adalah penceramah yang bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat di dalam negeri dan luar negeri.

Gagasannya, buah pikirannya, kajian ilmiahnya penuh logika dalam tafsir yang dikarangnya sendiri berdasarkan hasil bejajar puluhan tahun di Mesir senantiasa menjadi rujukannya dalam membedah topik masalah pada materi yang sedang dibahas.

Dengarkan suara indahnya. Rasakan kefasihan tutur kata dan penyampaian ayatnya dalam tatanan arti yang mudah didengar, mudah dicerna dengan intonasi bahasa yang mudah dipahami dan sederhana.

Adakah Quraish Shihab lantas menjadi bintang iklan dan berkacak pinggang dan slengengan seperti beberapa ustad dan kiyai kita yang sering tampil di telvisi akhir-akhir ini?

Apakah Quraish Shihab tidak terkenal, kurang terkenal atau tidak berwajah kamera? Tentu tidak. Bukan itu yang jadi ukuran. Ukurannya adalah manusia harus bersikap atau berakhlakul qarimah. Dalam konteks akhlak beliau memberi statemen ringkasnya :

Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang angkuh lagi membanggakan diri. (QS Luqman [31]: 18). (Sumber : http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Akhlaq2.html).

Dalam pandangan Quraish Shihab  soal akhlak ini menjadi ukuran paling mendasar sehingga mampu memberi contoh teladan kepada alam sekitarnya. Jadi tak heran seorang ustad harus mampu memberi contoh teladan bagi sesamanya.

Tak terlalu penting mahzab apa beliau anut saat ini. Terlepas dari aliran apa yang dipakai oleh Quraish Shihab intinya adalah beliau telah memberikan contoh semangat belajar mendalami ilmu agama dengan kajian yang obyektif dan konsisten, menyentuh ke akarnya, saling terkait dalam satu dalil secara utuh. Tentu saja semua itu disampaikan dengan bahasa yang sederhana, tingkah yang sederhana dan jauh dari keangkuhan, takabur, ujub dan tidak menyemai permusuhan SARA.

Jika dibandingkan kualitas antara kelompok ustad dan ustadzah gaul yang sering menghiasi media cetak dan eletronik dalam 3 tahun terakhir ini  dengan tokoh-tokoh sekaliber KH Buya Hamka dan Quraish Shihab dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu -yang menjadi panutan akhlakul karimah di tiap kota dan provinsi se tanah air- siapakah yang lebih berhak jadi panutan?

Mudahkah menjadi ustad? Apakah dengan hanya berkemampuan menghafal ayat-ayat al-quran lantas menasbihkan seseorang langsung (otomatis) menjadi Ustad atau Kiyai lantas begitu mudahnya menjadi ustad hebring atau gaul?

Semoga kita semua akan memperoleh kiyai dan ustad-ustad yang mempunyai nilai moral yang patut ditiru ketimbang mempunyai sosok-sosok yang mengaku ahli agama tapi menjadi bahan tertawaan setiap hari.

Jika masih ada ustad yang lebih baik untuk belajar dan ditiru, bagaimana mungkin kita berguru pada seseorang ustad yang hanya lebih cocok jadi  bahan tertawaan saja ketimbang ia memberi bekal ilmu dan amalan untuk kita semua, bukan? (ISNU)

Sumber: Kompasiana.com

 

One Response

  1. kanjeng23 September 2016 at 6:52 amReply

    nah ini ustadz hebat…
    dr dulu aku ka

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: