Prof Yudian: Ikut Gerakan Menentang Negara Berarti Ciderai Jasa Pengorbanan Leluhur NU

14 Februari 2016,

WONOSOBO, ISLAMNUSANTARA.COM – Prof Dr Yudian Wahyudi, guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengemukakan, setidaknya ada dua prestasi umat Islam Indonesia yang tidak dapat ditandingi dalam sejarah manapun. Prestasi pertama, kendati dahulu dijajah lebih 350 tahun lamanya oleh penjajah kolonial yang non-Islam, tetapi tidak berpengaruh pada akidah dan keislaman penduduknya.

Wejangan Gus Mus 2Dengan kata lain, umat Islam Indonesia tetap menang secara akidah. Padahal, dalam sosiologi politik, kata Yudian, agama rakyat itu mengikuti agama penguasanya. Namun tesis tersebut tidak berlaku dalam sejarah umat Islam Nusantara. (Baca: Sinergi NU dan Muhammadiyah Bangun Peradaban Islam Rahmatan Lil Alamin)

Prestasi kedua, lazimnya negara-negara besar Islam yang mengalami penjajahan pada perang dunia II dari negara nasional sebagai akibat dari perang dunia I, pecah dan terbagi-bagi menjadi banyak negara kecil-kecil, contohnya kekhalifahan Turki Ustmani yang akhirnya pecah menjadi Syiria, Palestina, Mesir, dan Arab Saudi. India pecah menjadi Pakistan, Banglades. Namun sejarah Indonesia lain, dijajah 350 tahun lebih tapi justru mampu menyatukan pelbagai suku, adat, bahasa, dan kepulauan di Nusantara menjadi satu bangsa dan negara republik Indonesia.

Yudian menyebut hal itu saat menyampaikan orasi ilmiah acara wisuda XXI STAINU Temanggung di Pendopo Pengayoman Temanggung, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu). Penulis buku “Jihad Ilmiah dari Tremas ke Harvard” ini juga menyinggung soal maraknya radikalisme dan terorisme dalam kehidupan keberagamaan akhir-akhir ini. (Baca: Wawancara Ekslusif I dengan Ketum PBNU KH Aqil Siradj “Radikalisme Hancurkan Persatuan Islam” )

Yudian mengajak kepada warga agar tak terlibat dalam gerakan-gerakan yang melawan negara. Menentang negara, katanya, sama artinya merusak jasa perjuangan dan pengorbanan para leluhur NU termasuk Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari.

“Jangan sampai kita terseret ke dalam gerakan yang menentang negara. Maka pernyataan warga NU bahwa NKRI harga mati itu betul. Apa kita mau mengulang perang lagi seperti dulu. Kita itu sekarang tugasnya tinggal bersyukur. Bersyukur itu apa? Memaksimalkan apa yang sudah diberikan para pejuang-pejuang republik ini dalam semua bidang kehidupan. Itu namanya syukur nikmat,” katanya. (Baca: Wawancara Bagian 2 dengan Ketum PBNU: Aliran Dana Gerakan Radikalisme di Indonesia)

Maka, agar pelajar NU, utamanya mahasiswa NU, terhindar dari gerakan-gerakan radikalisme dimaksud, Yudian Wahyudi mengingatkan supaya mereka juga menguasai perkembangan terbaru tentang gerakan keagamaan yang sedang berkembang belakangan ini dengan jalan membaca dan menggali informasi. Selanjutnya, perlu mengadaakan komunikasi dengan berbagai pihak secara persuasif ketika menyampaikan aspirasi.

Selain itu, ketika menyinggung ranah pendidikan, Yudian Wahyudi yang sempat menjadi anggota American Association of University Professors itu juga mengimbau supaya NU mendirikan SMA IPA. Menurutnya kebanyakan pelajar dan mahasiswa NU itu memilih belajarnya di IAIN atau STAIN, tidak di jurusan ilmu eksak. Sementara banyak anak di luar NU yang konsentrasi mengambil jurusan umum dan eksak itu yang pengetahuan agamanya kosong.

Akhirnya, tambah Yudian, ketika mereka menerima ajakan sikap militan dalam beragama mereka mudah ikut begitu saja tanpa pertimbangan kritis. Diharapkan nanti pelajar dan mahasiswa NU yang menguasai bidang eksak dan umum bisa membimbing dan mengarahkan mayoritas mahasiswa eksak yang lemah pemahaman keagamaannya tersebut. (ISNU)

Sumber: Duta

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: