Puluhan Pakar Dunia Bahas Filsafat Nusantara

puluhan-pakar-dunia-bahas-filsafat-nusantara-di-ugm-640X420

Puluhan Pakar Dunia Bahas Filsafat Nusantara di UGM – Foto: ugm.ac.id

Minggu, 27 Desember 2015

YOGYAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Tradisi gotong royong sudah semakin tergerus oleh arus globalisasi yang semakin kuat saat ini. Ketika tradisi ini semakin sulit ditemukan di tengah masyarakat Indonesia, sekitar 100 pakar filsafat dunia berusaha menggalinya dalam kajian pengetahuan.

Mereka hadir dalam The 3rd International Conference on Nusantara Philoshopy di Kampus UGM yang diselenggarakan di University Club pada 10 hingga 11 November 2015 lalu. Para pakar itu antara lain berasal dari negara Aljazair, Belgia, dan Malaysia.

Kehadiran mereka untuk mendiskusikan hasil penelitian tentang ilmu pengetahuan dan warisan budaya yang bersumber dari kearifan lokal masyarakat Indonesia, salah satunya terkait dengan tradisi gotong royong.

Kajian tradisi itu diharapkan menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan dalam memberikan solusi bagi permasalahan bangsa. ” Pasalnya, tradisi ini sudah semakin tergerus oleh arus globalisasi yang semakin kuat saat ini,” kata Dekan Fakultas Filsafat UGM, M. Mukhtasar Syamsuddin.

Mukhtasar mengatakan, menghadapi globalisasi ini semestinya jangan sampai kehilangan akar tradisi bangsa. Karenanya penting untuk mengembangkan pengetahuan yang tetap bercorak humanisme yang digali dari nilai-nilai masyarakat Indonesia.

Globalisasi, lanjut dia, telah menimbulkan disorientasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Pengembangan keilmuan saat ini justru lebih banyak condong pada pengutamaan material dalam skala luas. Akibatnya, pragmatisme menjadi pilihan bangsa Indonesia.

“Sangat memprihatinkan karena ilmu pengetahuan yang dikembangkan sudah semakin pragmatis,” kata Mukhtasar.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat ilmu pengetahuan belum bisa secara maksimal membantu penyelesaian persoalan bangsa. Ilmu pengetahuan hanya menjadi instrumen penyelesaian kebutuhan manusia yang bersifat material. Sementara aspek kemanusiaan tak hanya sisi meterial belaka, melainkan ada aspek non-materinya.

Selain itu, ilmu pengetahuan juga dianggap belum memperhatikan aspek keberlanjutan karena tidak memiliki landasan keilmuan yang kuat dan belum berpihak pada kemanusiaan.

Untuk itu, Ilmu Filsafat pun diperkenalkan sebagai kerangka dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini filsafat bangsa, Pancasila, dijadikan sebagai orientasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

“Fakultas Filsafat berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu di UGM berdasar pada nilai-nilai bangsa,” tegasnya.

Dalam konferensi ini, dipresentasikan sebanyak 69 makalah terkait filsafat nusantara yang terbagi dalam delapan sub tema diskusi.

Adapun sub tema diskusi tersebut meliputi ideologi, pancasila, nasionalisme; budaya dan media; globalisasi dan multikulturalisme, gender dan gerakan sosial; pariwisata budaya; industri, bisnis, dan ekologi; agama dan tradisi ritual; etika dan pendidikan; serta politik dan diplomasi.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: