Quraish Shihab dan Gus Mus, Dua Ulama Hebat yang Selalu Menjadi Air di Tengah Api

Kamis, 22 Juni 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Acara televisi Mata Najwa pernah mendatangkan dua tokoh Kharismatik, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Dr. Quraish Shihab. Kedua tokoh tersebut bagaikan obat di tengah tengah umat yang sedang ‘mabok agama’. Semua permasalahan dikaitan dengan agama mulai dari Pilkada sampai kasus Kriminal agama di bawa bawa seakan akan Indonesia dalam terancam, terutama Islam. Padahal tak ada yang perlu ditakuti, Islam menjadi mayoritas Muslim dan dilayani dengan baik.

Sudah sekitar 50 tahun Gus Mus dan Quraish Shihab telah bersahabat, semenjak mereka sama sama di Mesir untuk menuntut ilmu, membuat mereka berdua sering bertukar pikiran mengenai agama dan umat. Terkadang, pendapat yang berbeda mereka sikapi dengan arif dan bijaksana.

Gus Mus mengatakan, bahwa para sufi terkadang setelah mengucapkan Allahu Akbar langsung pingsan, karena mereka mengerti, bahwa kalimat takbir ialah kalimat suci yang mana kita harus merendahkan diri dan mengecilkan diri ketika mengucapkan takbir. Bukan petantang petenteng merasa paling benar, setiap orang disalahkan hanya karena berbeda, apalagi takbir untuk demo. Allah ko di ajak kampanye.

Pak Quraish Shihab pun memberikan komentar mengenai kata kafir. Kata kafir banyak artinya, jangan mudah mengucapkan kata kafir kepada saudaranya. Apabila salah maka kekafirannya balik ke dirinya sendiri.

Dua Ulama ini yang seharusnya di tampilkan di publik. Ulama itu seharusnya menjadi air di tengah api, bukan menjadi bensin di tengah api atau jangan menjadi api. Ulama tak pernah berkata kasar, keji dan kotor. Ulama adalah pewaris Nabi, lantas apakah ada Nabi dari Adam sejak Nabi Muhammad yang berkata kasar?

Pak Quraish Shihab sudah tidak diragukan lagi keilmuwannya tentang Al Quran. Beliau mendirikan pusat studi Al Quran, menulis tafsir Al Misbah, dan buku buku lain mengenai tafsir Al Quran. Tapi tidak satupun beliau menyuruh orang untuk membunuh atau membenci orang. Jika Pak Quraish Shihab tidak dianggap ahli tafsir, lantas siapakah lagi yang harus dipercaya? Atau kita percaya dengan Ulama yang sama sekali tidak menulis kitab tafsir langsung disebut Ulama hanya karena teriak Allahu Akbar?

Betapa miris, pemuda jauh dari dua Ulama ini karena Ulama ini sering di tuduh liberal, kafir, Syiah, munafik dll. Memang kekurangan mereka berdua, mereka tidak bisa teriak takbir di jalan, tidak bisa mengumpulkan masa untuk turun ke jalan, yang mereka lakukan adalah menulis, mendidik, dan mengajarkan kepada manusia bahwa kita adalah manusia maka pandanglah orang dari kacamata manusia. (ISNU)

Sumber: Muslimoderat

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: