Raja Saudi Harusnya Bisa Belajar dari Islam Nusantara yang Ramah

Kamis, 02 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Indonesia dan Saudi Arabia sudah memiliki hubungan sejak lama, sejak umat Islam mulai ada di negeri ini. Sebagai wilayah berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Jauh sebelum kerajaan Saudi Arabia terbentuk. Muslim di Nusantara berangkat menuju Makkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Secara emosional, Muslim Indonesia selalu merasa dekat dengan wilayah tempat di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan menyebarkan dakwahnya. Muslim Indonesia selalu merindukan untuk bisa mengunjungi dua masjid suci, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Pada 2017 ini, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 221 ribu. Ini merupakan kuota haji terbesar di kuota haji lokal bagi penduduk Saudi Arabia. Jika ditambah dengan jumlah jamaah umrah, maka warga Indonesia yang berkunjung ke Saudi Arabia semakin besar.

Sebagai sesama produsen minyak dunia, Indonesia memiliki hubungan erat dalam bidang ekonomi. Saat Indonesia masih menjadi anggota OPEC karena masih menjadi net exporter, bersama dengan Saudi Arabia, berbagai kebijakan perminyakan dunia dibahas bersama-sama. Kini, negeri dengan padang pasir yang luas tersebut menjadi salah satu pemasok terbesar kebutuhan minyak untuk memenuhi berbagai keperluan industri di Indonesia. Belum lagi jika bicara soal tenaga kerja Indonesia yang pergi mengais Real di negeri tersebut.

Bagi NU, hubungan emosional tersebut juga sangat kental. Para pelopor dan pendiri NU seperti KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah merupakan para ulama yang menghabiskan sebagian masa belajarnya di Makkatul Mukarraham. Tradisi tersebut masih terus berlanjut. Bahkan ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj merupakan alumni dari Universitas Ummul Qura Makkah.

Dengan kedekatan-kedekatan tersebut, wajar jika kunjungan Raja Salman yang kini menjadi penguasa tertinggi di Saudi Arabia ini mendapat sambutan yang antusias di Indonesia. Kunjungan terakhir raja Saudi dilakukan oleh Raja Faishal bin Abdul Aziz pada tahun 1970 atau 47 tahun lalu.

Besarnya jumlah anggota rombongan yang dibawa kali ini menunjukkan pentingnya makna yang akan dibangun. 10 orang menteri yang ikut, termasuk menteri energi Saudi Arabia, menandaskan adanya peluang besar kerja sama di bidang ekonomi. Kedua belah pihak memiliki kepentingan agar hubungan ekonomi ini terjalin lebih erat. Turunnya harga minyak belakangan ini telah menyebabkan anjloknya pendapatan pemerintah Saudi Arabia sehingga mengakibatkan terjadinya defisit anggaran tahunan. Dengan demikian, Saudi harus mempersiapkan diri untuk mendiversifikasikan sumber pendapatannya dari berbagai sektor. Indonesia bisa menjadi partner untuk kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.

Yang juga patut mendapat perhatian adalah pentingnya perlindungan bagi para pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia di berbagai sektor. Kasus-kasus penganiayaan yang sering terjadi telah melukai rasa kemanusiaan kita. Karena itu, Indonesia harus menekan pemerintah Saudi agar sistem ketenagakarjaan dibuat lebih baik sehingga para pekerja keselamatannya sekaligus menerima hak-haknya dengan baik.

Di samping hal-hal yang menarik terkait dengan bidang ekonomi, aspek keagamaan dari Saudi Arabia juga harus menjadi perhatian bersama, khususnya bagi NU. Pandangan keagamaan yang dianut oleh Saudi yang konservatif dengan paham wahabisme selama ini tidak selalu sejalan dengan pandangan mayoritas Islam di Indonesia. Ajaran wahabisme yang cenderung tekstual dan tumbuh di negeri yang tertutup tersebut memaknai secara kaku ajaran-ajaran Islam. Apa yang tidak sesuai dengan pandangannya dianggap bid’ah atau bahkan sesat. Apalagi dengan klaim posisi sebagai pewaris Nabi sehingga segala sesuatu yang berasal dari Arab Saudi dianggap sebagai tafsir paling otentik tentang Islam oleh Muslim awam. Bagi sebagian orang, apa yang datang dari Saudi Arabia masih dianggap sebagai sebuah kebenaran. Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam.

Kondisi Indonesia yang merupakan wilayah terbuka dan hidup dengan berbagai macam jenis keragaman memunculkan sikap keagamaan yang toleran dan menghargai harmoni hidup bersama. Perbedaan-perbedaan berusaha dicarikan jalan tengah tanpa menghilangkan hal-hal yang prinsip. Kemungkinan konsolidasi kekuatan wahabisme inilah yang harus kita waspadai dalam kunjungan kali ini mengingat klaim-klaim kebenaran tunggal yang selama ini selalu muncul dari kelompok tersebut telah memiliki potensi merusak harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Bukan hanya Indonesia yang harus belajar berbagai ilmu agama dari Saudi Arabia. Dengan melihat kondisi yang selama ini selalu hidup dengan tenang dan damai, Saudi bisa belajar Islam indonesia yang ramah yang sangat cocok dengan dunia yang semakin terbuka di era global. Penyelesaian persoalan di Timur Tengah yang selama ini identik dengan menggunakan kekuatan bersenjata dengan tingkat kehancuran yang massif bisa menggunakan pendekatan ala Asia Tenggara yang mengedepankan dialog antartetangga.

Akan ada selalu perbedaan jika kita mencarinya, tetapi Indonesia dan Saudi Arabia sebagai negara Muslim harus mengedepankan hubungan yang saling menghormati dan lebih melihat pada hal-hal besar untuk mencapai kemajuan bersama umat Islam dunia yang kini masih menghadapi berbagai tantangan besar. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: