Renungan Gus Mus di Bulan Rajab

Senin, 24 April 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Bulan Rajab termasuk salah satu bulan yang Mulia. Kitab I‘anatut Thalibin menyebutkan, “Rajab” adalah turunan dari kata “tarjib” yang berarti mengagungkan atau memuliakan. Dulu, masyarakat Arab memuliakan Rajab di atas bulan lainnya. Rajab biasa juga disebut “Al-Ashabb” yang berarti “yang mengucur” atau menetes”. Dijuluki begitu sebab derasnya tetesan kebaikan pada bulan ketujuh dalam kalender hijriah ini.

Bulan Rajab bisa juga dikenal dengan sebutan “Al-Ashamm” atau “yang tuli”, karena tidak terdengar gemerincing senjata pasukan perang pada bulan ini. Julukan lain untuk bulan Rajab adalah “Rajam” yang berarti melempar. Dinamakan demikian karena musuh dan setan-setan pada bulan ini dikutuk dan dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh.

Rajab juga istimewa karena pada bulan ini pula Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad dilakukan. Jika Isra’ merupakan perjalanan dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsha, maka mi’raj adalah perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Kewajiban shalat lima waktu bagi umat Rasulullah adalah di antara buah dari peristiwa ajaib tersebut.

Bertepatan dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj pada 27 Rajab 1438 yang jatuh pada 24 April 2017, Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri menuliskan sebuah refleksi yang ia unggah di Facebook pribadi, Ahad (23/4) malam. Berikut tulisan yang ia beri judul “Renungan Rajab” itu:

:: Renungan Rajab ::

Bisakah kita menjumpai penguasa tertinggi negeri ini, presiden misalnya, atau setidaknya petinggi tertinggi propinsi kita, gubernur, kapan saja kita mau?

Kalau pun bisa, paling setahun sekali, pada saat diadakan acara open house.

Nah ini Penguasanya petinggi yang Mahatinggi, Penguasa segala, mengadakan open house sehari lima kali. Bukankah ini Kemurahan yang luar biasa bagi hamba sekecil kita ini? Bahkan tidak itu saja. Ia bahkan membuka pintu untuk kita kapan saja. Tengah malam atau dini hari sekali pun, Ia menerima pesowanan kita. Malah menawarkan, “Adakah yang punya hajat? Adakah yang memohon ampun? Adakah yang ingin meminta sesuatu?”

Lalu bagaimana kita yang kerdil ini menyikapi KemahamurahanNya itu? Apakah kita penuh semangat menghadap, sebagaimana misalnya bila kita diterima presiden atau gubernur? (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: