Saatnya Rayakan Perbedaan

pertemuan-tokoh-agama-dengan-jokowi-640x420

Presiden Joko Widodo berfoto bersama (dari kiri) Pendeta Bambang Wijaya, Pendeta Khrisye Gosal, Pendeta Gomar Gulfon (Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/PGI), Pendeta Henriette TH Lebang (Ketua Umum PGI), Mgr Ignatius Suharyo (Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia/KWI), Romo Edy Purwanto (Sekretaris Eksekutif KWI), Romo Benny Susetyo, dan Romo Agus Ulahanayan seusai bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa 22 Desember 2015 – Foto: Kompas Print

Rabu, 23 Desember 2015

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 Hijriah dan perayaan Natal 2015 yang hampir bersamaan menjadi momentum meneguhkan kembali semangat persaudaraan. Inilah saatnya merayakan keberagaman yang menjadi pengikat sosial kebangsaan Indonesia.

Ikatan sosial dari keberagaman suku, agama, ras, dan golongan harus tetap dipertahankan untuk menjaga kelangsungan Indonesia. Demikian benang merah pendapat Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Henriette TH Lebang, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Haji Said Aqil Siradj, Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yusnar Yusuf, dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia Suhadi Sendjaja yang ditemui dan dihubungi terpisah pada Selasa 22 Desember 2015.

Said mengatakan, pada hakikatnya perbedaan merupakan hal lumrah di Indonesia. Justru karena perbedaan itulah Indonesia lahir dan terus bertahan hingga saat ini. “Untuk itu, tidak ada alasan kita mempermasalahkan perbedaan itu,” ujarnya.

Menurut Said, akhir-akhir ini persatuan Indonesia yang sudah terjaga itu coba diganggu oleh ideologi asing. Ideologi itu ingin memecah belah persatuan Indonesia.

Menyongsong peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 24 Desember dan Natal pada 25 Desember ini, Said mengatakan bahwa inilah momentum yang sangat tepat untuk menguatkan kembali persatuan Indonesia dan semangat kebersamaan yang selama ini telah terjalin. “Tunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang bisa menerima perbedaan. Hal ini penting untuk melawan atau menangkal perkembangan ideologi radikal yang sudah mulai masuk ke Indonesia,” tutur Said.

Dia berharap pemerintah dan para pemuka agama terus mengarahkan umat agar tidak mudah terlena dengan ajakan bergabung dengan kelompok berideologi radikal. Sebab, ideologi radikal, terutama yang mengusung suatu agama, merupakan tindakan keliru.

Sejalan dengan Said, Haedar menuturkan bahwa perbedaan adalah bagian dari spirit ilahiah. Namun, di atas semua perbedaan itu, antarumat harus menjunjung semangat kemanusiaan yang memancarkan nilai-nilai umat yang ihsan. “Makna ihsan dalam hal ini ialah berbuat dan berbagi kebaikan atau kebajikan kepada sesama tanpa melalui sekatan apa pun. Sekat itu bisa berupa suku, agama, ras, dan antargolongan. Namun, nilai-nilai ihsan melebihi itu semua,” ungkap Haedar.

Sumber: Kompas Print

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: