Saiful Huda Ems: Aswaja dan Islam Nusantara

** Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)

ISLAMNUSANTARA.COM – Ahlusunnah wa al-Jama`ah (diindonesiakan menjadi Ahlusunnah Wal Jama`ah), atau yang setelah diformulasikan ajarannya oleh para pendiri NU di Indonesia kemudian namanya menjadi lebih singkat yakni ASWAJA, pada hakikatnya adalah suatu ajaran dalam Islam yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad Rasulullah saw dan para sahabatnya. Atau dapat pula dikatakan ASWAJA adalah sebuah ajaran yang bertumpu pada ittibaus sunnah (mengikuti As Sunnah) dan menuruti apa yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw, baik dalam masalah aqidah, ibadah, petunjuk, tingkah laku, akhlak dan selalu mengikuti jamaah kaum muslimin.

Saiful hudaAliran atau faham ini mulai muncul pada akhir abad ke 3 Hijriyah, yang berarti muncul sesudah wafatnya Nabi Muhammad Rasulullah saw, dan sesudah wafatnya Tokoh Khawarij atau Tokoh Generasi Pertama Wahabi Takfiri, Abdul Wahab bin Abdrurrahman bin Rustum al-Khoriji al-Abadhi yang wafat Thn 197 H. Atau Abad ke 2 Hijriyah. Namun perlu diingat, meskipun aliran atau faham Ahlusunnah Wal Jamaah ini muncul pada abad ke 3 Hijriyah, akan tetapi karena ajaran Ahlusunnah Wal Jama`ah adalah ajaran Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, dengan demikian secara embrional faham Ahlusunnah Wal Jama`ah sudah muncul sejak munculnya Islam itu sendiri, hingga siapapun tidak bisa menyebutnya sebagai sebuah ajaran yang syarat dengan bid`ah.

Definisi ASWAJA sebenarnya tidaklah jauh dengan definisi Salaf, yakni mereka yang mengamalkan Al-Qur`an dan berpegang teguh pada As-Sunnah. Jadi, Salaf adalah Ahlusunnah yang dimaksudkan oleh Nabi Muhammad saw., sedangkan ASWAJA adalah Salafus Shaleh dan orang yang mengikuti jejak langkah mereka. Lawan dari ASWAJA adalah golongan Ahli Bid`ah dan orang-orang yang menegikuti hawa nafsunya, dan lawan kata dari Sunnah adalah Bid`ah, sedangkan lawan kata dari Jamaah adalah Firqoh (Golongan).

Berbeda dengan Gerakan Neo Khawarij, yakni Wahabi Takfiri, Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja) adalah suatu ajaran yang membawa kesejukan dalam kehidupan umat beragama. Ajaran ini diakui oleh banyak pihak sebagai ajaran yang mampu bertahan hidup lama karena kesanggupannya untuk dapat hidup berdampingan dengan berbagai aliran ataupun bahkan dengan yang berlainan agama atau kepercayaan dengannya. Hal ini sesuai dengan khashaish atau karakteristik doktrin Ahlusunnah Wal Jama`ah, yakni Fikrah Tawassuthiyyah (pola pikir moderat), artinya pengikutnya senantiasa bersikap tawazun (seimbang) dan i`tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan, serta Fikrah Tasamuhiyyah (pola pikir toleran), artinya para pengikutnya dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun aqidah, cara pikir dan budayanya berbeda, dlsb.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu Ormas Keagamaan di Indonesia yang memformulasikan ajaran ASWAJA dan yang menjadikannya sebagai dasar ajaran agamanya. Kerangka pemahaman ASWAJA yang dikembangkan oleh NU memiliki karakteristik khusus yang mungkin juga membedakan dengan kelompok muslim lainnya, yaitu: Bahwa ajaran ASWAJA yang dikembangkan berporos pada 3 ajaran pokok dalam Islam yang meliputi bidang: Aqidah, Fiqh dan Tassawuf.

Islam Nusantara

Di Bidang Aqidah, yang diikuti oleh NU adalah model pemikiran aqidah yang dikembangkan oleh Abu Hasan al-Asy`ari dan Abu Mansur al-Maturidi.

Di Bidang Fiqh, mengikuti model pemikiran dan model istinbat hukum yang dikembangkan oleh empat madzhab (aimmat al-madzahib al-arba`ah), yaitu Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hanbali.

Di Bidang Tassawuf, NU mengikuti model yang dikembangkan oleh Abu Hamid al-Ghazali dan Al-Juwaini al-Baghdadi.

Sudarno Shobran—setelah membaca bukunya Nurcholish Madjid yang merujuk pada pernyataan KH. Achmad Siddiq dan Risalah PBNU Kembali ke Khittah 1926– dalam bukunya “Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Pentas Politik Nasional pada hal. 61, menyebutkan bahwa karakteristik Keagamaan NU adalah sebagai berikut:

  1. Tawasuth dan I`tidal, yaitu sikap tengah yang berintikan tentang prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan prilaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama.
  2. Tasamuh, yakni sikap toleran terhadap perbedaan-perbedaan pandangan, dalam soal keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu` atau khilafiyah, dan dalam soal kemasyarakatan serta kebudayaan.
  3. Tawazun, yakni sikap seimbang dalam berkhidmat kepada Allah Swt., manusia, lingkungan hidupnya, dan menyelaraskan kepentingan masa lalu, kini dan mendatang.
  4. Amar ma`ruf nahi munkar, yakni sikap selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Faham Ahlusunnah Wal Jamaah sebenarnya merupakan faham yang banyak diikuti oleh Kaum Muslimin di dunia, olehnya sebenarnya ASWAJA bukanlah faham yang semata hanya diikuti oleh Nahdlatul Ulama (NU) seperti yang ada di Indonesia. Meski demikian, berbeda dengan yang lainnya, NU secara khusus telah mampu merumuskannya sendiri faham ASWAJA secara lebih spesifik seperti yang penulis jelaskan di atas. Bahkan, akhir-akhir ini, NU menjadi semakin populer dengan mengusung gagasan ISLAM NUSANTARA nya. Sebuah gagasan yang menjadi trobosan baru disaat Negara-Negara berpenduduk mayoritas Islam sedang terbakar karena konflik aliran.

Islam Nusantara yang “ruh” nya sebenarnya sudah mulai dihembuskan oleh para pendiri NU dan bahkan jauh sebelum itu, yakni oleh para Wali Songo dan sempat tidak begitu diperhatikan mulai dihembuskan kembali oleh para Aktivis NU dan para pegiat keagamaan (Islam) lainnya. NU dengan Islam Nusantaranya bertekad menjadi semacam kiblat peradaban, budaya, akhlak dan moral masyarakat di Indonesia bahkan di dunia. Hal yang demikian tidaklah menjadi mustahil, mengingat Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam dan merupakan jumlah muslim terbanyak di seluruh dunia, mayoritas pemeluknya agama Islamnya juga merupakan Warga Nahdliyin. Konon menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI) jumlah Warga NU di Indonesia sudah mencapai 84 juta. Sebuah angka fantastis yang dapat mengalahkan jumlah warga negara di beberapa negara-negara yang mayoritas Islam, seperti negara-negara di Timur Tengah. (ISNU)

(BERSAMBUNG).

Tulisan ini adalah tulisan Bagian II dari III Bagian tulisan saya yang saya beri judul: WAHABI, ASWAJA DAN KITA.

** Penulis: Saiful Huda Ems (SHE) adalah Alumnus Pesantren Tebuireng Jombang (1984-1991). Salah Satu Pendiri dan Mantan Ketua Organisasi KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) Jawa Barat Thn. 2003-2006.Sebuah organisasi yang beranggotakan Mahasiswa dan Para Sarjana NU dari berbagai Universitas/Perguruan Tinggi.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: