Saksi Sejarah: PKI Paling Takut Pada Banser Bukan TNI

Selasa, 03 Oktober 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Wakil Ketua PCNU Jombang KH Taufiq Djalil (Gus Fiq) bercerita tentang peran Banser saat G-30 S PKI 1965. Cerita tersebut disampaikan saat ngaji dalam Jumat Bahagia PC IPNU IPPNU Jombang di PP Darussalam Ngesong Sengon Jombang (9/9/2016).

’’Panglima Kodam saat itu sempat meminta Ketua PWNU Jatim agar mengirim pasukan Banser ke Madiun,’’kata Gus Fiq. Saat itu, Madiun merupakan benteng kekuatan PKI. Tentu saja Ketua PWNU bertanya kenapa yang dikirim adalah Banser. ’’Jawaban Panglima Kodam saat itu sangat mengejutkan. Karena saat itu, yang tidak bisa disusupi PKI hanya NU,’’ tegas mantan Ketua PC IPNU dan Sekretaris PC GP Ansor ini.

Pasukan TNI sudah beberapa kali dikirim. Namun selalu tidak berhasil. ’’Karena selalu kesusupan PKI. Sehingga saling tembak antar anggotanya sendiri,’’ jelasnya. Saat itu, Banser paling ditakuti PKI karena tidak mempan dibacok dan ditembak. Walaupun senjata Banser hanya pedang. Akhirnya, dua ribu Banser dikirim ke Madiun. ’’Tapi tidak memakai seragam Banser. Sebab kalau pakai seragam Banser, PKI lari,’’ tuturnya.

Dua ribu Banser itu masuk Madiun dengan seragam hansip. ’’PKI sempat meremehkan, wong tentara saja gagal. Apalagi cuma hansip. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya yang berpakaian hansip itu adalah Banser. Sehingga akhirnya berhasil masuk Madiun dan bisa meringkus para pimpinan PKI,’’ tandasnya. Saat itu, kondisi di Jombang juga mencekam.

’’Saya dapat cerita dari KH Syamsul Huda (mantan ketua MUI Jombang) bahwa saat itu Banser Jombang juga menduduki tempat-tempat stragetis yang sebelumnya dikuasai PKI,’’ bebernya.

Termasuk yang diduduki adalah stasiun Jombang. ’’Namun setelah stasiun dikuasai, Banser kebingungan cari orang NU yang bisa jadi kepala stasiun. Wong NU akeh, tapi golek kepala stasiun ae gak enek sing iso. Makanya anak-anak NU itu harus ada yang jadi ahli matematika, ahli sejarah, dan ahli di bidang-bidang yang lain. Biar tidak bersaing di satu titik,’’ pesannya.

Nah, karena tak ada orang NU yang bisa jadi kepala stasiun, akhirnya dicarikan orang PNI. ’’Yang penting bukan PKI,’’ tuturnya. (ISNU)

Sumber: Muslimoderat

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: