Salafy-Wahabi Menyoal Islam Nusantara

Kamis, 19 Mei 2016

ISLAMNUSANTARA.COM  – Pemunculan istilah Islam Nusantara yang diklaim sebagai ciri khas Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak belakang dengan ‘Islam Arab’ telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan penganut Islam di Indonesia.

Walaupun dianggap bukan istilah baru, istilah Islam Nusantara belakangan telah dikampanyekan secara gencar oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, NU.

“Yang paling berkewajiban mengawal Islam Nusantara adalah NU,” kata Kiai Said Aqil,

Menurutnya, istilah Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara yang disebutnya “dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras.”

“Islam Nusantara ini didakwahkan dengan cara merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya,” katanya.

Dari pijakan sejarah itulah, menurutnya, NU akan terus mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu “Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran.”

Said Aqil menegaskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”

 

Presiden Jokowi Dukung Islam Nusantara

Ketika awal mula dikampanyekan, muncul dukungan terhadap model Islam Nusantara yang disuarakan kelompok atau tokoh perorangan Islam yang berpaham moderat.

Presiden Joko Widodo terang-terangan menyatakan dukungannya secara terbuka atas model Islam Nusantara.

“Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,” kata Presiden Jokowi.

Selain Presiden Jokowi, suara senada sebelumnya juga disuarakan sejumlah pejabat Indonesia lainnya, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla yang lebih sering memakai istilah Islam Indonesia.

Tetapi secara hampir bersamaan lahir pula kritikan dan penolakan terhadap istilah Islam Nusantara, yang diwarnai perdebatan keras terutama melalui media sosial atau dalam diskusi terbuka.

Secara garis besar, penolakan pada istilah Islam Nusantara karena istilah itu seolah-olah mencerminkan bahwa ajaran Islam itu tidak tunggal.

Kelompok Pro-Khilafah HTI Menyoal Islam Nusantara

Di lain pihak ormas HTI mempertanyakan sikap yang memperhadapkan konsep Islam Nusantara dengan Islam di Timur Tengah yang dianggap salah kaprah.

“Agak kurang fair kalau membandingkan Timur Tengah sekarang dengan Indonesia pada tahun 2015,” imbuhnya. “Yang terjadi saat ini di sejumlah negara di wilayah Timur Tengah, misalnya Suriah, adalah proses perlawanan melawan penguasa lalim. Ini minus persoalan ISIS yang mencoreng peradaban Islam” Protes Ismail Yusanto.

Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia

Dunia Butuh Model Islam Nusantara

Bertolak belakang dengan Kelompok pro-jihadis takfiri (HTI) ini, pemikir Islam Azyumardi Azra mengatakan model Islam Nusantara atau Islam Nusantara dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat ini, karena ciri khasnya yang mengedepankan “jalan tengah”.

“Dunia membutuhkan Islam Nusanta karena sifat-nya yang tawasut (moderat), jalan tengah, tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik,” kata Azyumardi Azra.

Menurutnya, memang ada perbedaan antara Islam Indonesia dengan ‘Islam Timur Tengah’ dalam realisasi sosio-kultural-politik.

“Sektarian di Indonesia itu jauh… jauh lebih kurang dibandingkan dengan sektarianisme yang mengakibatkan kekerasan terus-menerus di negara-negara Arab,” jelasnya.

Mengomentari atas pernyataan yang menyebut Islam itu tunggal, Azyumardi menyebutnya sebagai “pemikiran normatif yang melihat Islam secara idealistis.”

“(Mereka) tidak melihat kenyataannya, bagaimana Islam itu menjadi berbeda-beda, terutama aspek sosial budaya dan politiknya. Bahkan dalam tingkat agama juga berbeda-beda.”

Berbeda dengan ‘Islam Arab’

Doktor lulusan Columbia University, Amerika Serikat, ini juga menyebut cara pandang “normatif dan idealistis atas Islam” itu sebagai “tidak historis”.

“Kalau kita lihat dari dulu hingga sekarang, memang ada perbedaan-perbedaan yang tidak bisa kita hindari,” ujar penulis buku Islam Nusantara (2002) dan Islam Subtantif (2000) ini.

Lebih lanjut Azyumardi menjelaskan, model Islam Nusantara itu bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke wilayah Nusantara yang disebutnya melalui proses vernakularisasi.

Kedatangan Islam ke wilayah Nusantara melalui proses pembahasaan dan pribumisasi sehingga Islam menjadi tertanam dalam budaya Indonesia.

“Vernakularisasi itu adalah pembahasaan kata-kata atau konsep kunci dari Bahasa Arab ke bahasa lokal di Nusantara, yaitu bahasa Melayu, Jawa, Sunda dan tentu saja bahasa Indonesia,” katanya.

Kemudian proses ini diikuti pribumisasi (indigenisasi), sehingga menurutnya, Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya Indonesia.

“Jadi, tidak lagi menjadi sesuatu yang asing. Karena itu, dalam penampilan budayanya, Islam Indonesia jauh berbeda dengan Islam Arab… Telah terjadi proses akulturasi, proses adopsi budaya-budaya lokal, sehingga kemudian terjadi Islam embedded di Indonesia,” pungkas mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini. (IslamNusantara/BBC)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: