Saran Budayawan dan Cendekiawan Kepada Jokowi

pertemuan-budayawan-dan-cendekiawan-dengan-presiden-jokowi-640x420

Pertemuan budayawan dan cendekiawan dengan Presiden Jokowi – Dok: Setpres

Rabu, 23 Desember 2015

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Selasa 22 Desember 2015 siang Presiden Joko Widodo mengundang belasan budayawan dan cendekiawan untuk makan bersama. Pertemuan itu berlangsung serius.

Para budayawan dan cendekiawan menyampaikan langsung kritik dan saran terhadap pemerintah. Jokowi mencatat setiap saran maupun kritikan dari budayawan dan cendekiawan.

Satu per satu mereka dipersilakan duduk di tempat yang sudah disediakan. Sembari menanti Presiden Jokowi yang baru saja menerima tamu, mereka berbincang-bincang.

Romo Magnis dipersilakan menyampaikan prolog sebelum makan. Sayangnya apa yang dia sampaikan kurang terdengar karena tak memakai pengeras suara. Setelah itu makan siang pun dimulai dan suasana berlangsung cair.

Para budayawan dan cendekiawan resah karena selama ini pembangunan di Indonesia seakan menjadikan politik sebagai panglima. Sementara nilai-nilai budaya bangsa dikesampingkan.

“Jadi tadi sambil makan siang kami bersepakat bahwa pembangunan mulai dari hari ini kalau bisa, dia dilandasi oleh pemahaman komprehensi dan hal-hal yang sangat penting dalam kebudayaan. Yaitu norma, nilai-nilai moralitas, etika dan lain-lain. Ya mudah-mudahan kita bisa bekerja sama,” ujar budayawan Radhar Panca Dahana usai makan siang.

“Tadi juga didiskusikan ada upaya-upaya dari kelompok masyarakat yang bersikap anti kebudayaan dan timbulkan ketakutan-ketakutan pengembangan budaya nasional. Jadi kita sampaikan bahwa persoalan ini harus ditangani pemerintah supaya bisa mengantisipasi  kelompok-kelompok yang anti toleran yang ingin membonsai kebudayaan kita,” ungkap Haidar Bagir.

Budayawan Muhammad Sobari lalu menambahkan mengenai revolusi mental yang semestinya berlandaskan budaya. Sebetulnya yang paling utama adalah untuk merevolusi mental birokrat.

Kemudian ada lagi seniman Sys NS yang mengkritik sikap Jokowi dalam mengambil keputusan. Dalam beberapa momen terlihat seakan Jokowi dinilai lama mengambil keputusan.

“Baru ketika kemarin ada Go-jek Go-jek itu, dia cepat tanggap. Walau pun telat beberapa jam, sih. Tapi masyarakat butuhnya yang seperti itu,” kata Sys.

Setelah itu Franz Magnis sedikit menyanggah dan meminta agar yang disampaikan sesuai dengan pembicaraan bersama Presiden saja. Hal-hal yang bersifat opini sebaiknya dikesampingkan dahulu.

“Saya lihat dengan mata saya sendiri, seorang Presiden sedang analisa. Dia tahu permasalahannya, dia tahu problemnya, dia katakan juga dia harus hati-hati untuk menetapkan kebijakan.

Ketika dia bisa menganalisa tadi dia akan mengundang lagi untuk membahas lebih konkret. Satu yang bahagiakan saya adalah dia katakan, ‘saya bebas dari kepentingan’. Itu modal utama bagi saya,” tutur musisi Jockie Suryo Prayogo.

Usai pertemuan, para budayawan dan cendekiawan menyatakan siap pasang badan untuk Presiden Jokowi. Mereka siap membela jika Jokowi melakukan hal-hal bersifat fundamental yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi negara. ‎

“Kita semua bersiap untuk mendukung dia dengan kapasitas dan kemampuan yang kita miliki bersama,” kata salah seorang budayawan, Radhar Panca Dahana ‎saat jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa 22 Desember 2015.

Dia mengharapkan adanya perubahan perubahan baru‎ dalam hidup bernegara serta menjalankan pembangunan. “Itu kira-kira yang bisa kami sampaikan,” tuturnya.

Kepada Jokowi, budayawan dan cendekiawan menginginkan pembangunan yang tidak bersifat materi. “Terlalu kering kalau pembangunan itu hanya diisi hanya pencapaian-pencapaian atau ambisi yang bersifat material,” ucapnya.

Dalam pertemuan tadi, Presiden Jokowi didampingi Kepala Staf Kepresidenan. 
Sementara para budayawan dan cendekiawan yang ikut makan siang di antaranya ‎Radhar Panca Dahana, Franz Magnis Suseno, Nungky Kusumastuti, Butet Kartarejasa, Mohammad Sobary, Nasirun, Sys Ns, Jockie Suryoprayogo, Haidar Bagir.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: