Saran Kiai Said Kepada Jokowi Dalam Menghadapi Radikalisme

Kamis, 12 Januari 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Presiden Joko Widodo menjamu makan siang Ketua Umum engurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj di istana Negara Jakarta, rabu 911/1). Sembari membicarakan kondisi terkini bangsa dan negara. Obrolan berlangsung santai dan penuh keakraban.

Ideologi transnasional yang bersifat ekstrim-radikal semakin menguat seiring perkembangan teknologi informasi lewat media sosial sebagai instrumen penyebarannya. Terbukti dengan tindakan intoleransi dan terorisme yang terjadi di beberapa waktu lalu di Indonesia.

Hal tersebut yang menjadi pembicaraan serius antara KH Said dan Presiden Jokowi.

Kepada Kiai Said, Jokowi mengemukakan beberapa persoalan terkait radikalisme dan intoleransi yang kerap kali dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan tujuan merapuhkan pondasi kebangsaan yang selama ini telah terjalin kuat.

“Presiden menyampaikan, bagaimana caranya untuk menangkal itu semua. Saya jawab, pertama faktor pemahaman agama yang kurang sempurna, dangkal, dan tidak mendalam” jelas Kiai Said kepada NU Online.

Maka, menurut Doktor lulusan Universitas Ummul Qurra Mekkah ini, langkah jangka panjang dalam sudut pandang pendidikan Islam yaitu dengan meneguhkan pendidikan pesantren. Lewat pemahaman kurikulum Islam ramah dan moderat, hal ini juga bisa diterapkan di sekolah dan madrasah.

“Kurikulum merupakan langkah jangka panjang untuk memahamkan generasi muda akan sejarah dan lahirnya NKRI ini. Juga menegakkan kembali pendidikan Pancasila,” terang Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

Sedangkan langkah jangka pendek, menurutnya, mengisi masjid dan musholla dengan pengajian-pengajian yang menyejukkan. Di sini dibutuhkan peran ulama, kiai maupun ustadz yang mempunyai komitmen terhadap Islam rahmatan lil alamin.

“Pendidikan dan pengajian yang dilakukan oleh kiai-kiai kampung selama ini menyejukkan. Mereka mengajarkan bagaimana hidup rukun, berbuat baik kepada tetangga, perilaku sopan santun dan ramah kepada siapa pun,” urai kiai asal Kempek Cirebon ini.

Kiai Said pun jengah terhadap orang atau kelompok tertentu yang menyampaikan Islam dengan marah-marah dan eksklusif (tertutup) sehingga membuat wajah Islam terkesan kaku dan garang.

Dia juga menyoroti eskalasi radikalisme di media sosial yang semakin meningkat. Bahkan medsos dijadikan alat untuk memfitnah dan menyebarkan berita bohong (hoax). Karena itu, mengampanyekan Islam ramah dan toleran di medsos merupakan langkah mendesak saat ini. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: