Sejak Dulu, Khittah Pesantren Mendidik Masyarakat dari Semua Golongan

Rabu, 08 Maret 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Pati – Khittah pesantren adalah tempat tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama) dan mengurusi umat. Kenapa? Karena pesantren sudah memiliki semua perangkat dan komponen yang dibutuhkan untuk memberdayakan masyarakat. Demikian disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Entrepreneur al-Mawaddah Kudus, Jawa Tengah, KH Sofiyan Hadi.

“Dalam hal figur, pesantren memiliki kiai yang sangat dihormati dan dipercaya masyarakat. Selain itu, keikhlasan para kiai sudah diyakini oleh masyarakat dari generasi ke-generasi, dan inilah kekuatan yang harus terus dilestarikan di pesantren,” ujar pengusaha yang juga motivator kewirausahaan ini.

Sofiyan juga menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat bukan kerja sesaat. Membangun partisipasi masyarakat harus berkelanjutan. Berbeda dari program pemerintah yang umumnya bersifat temporer yang hanya berjalan jika ada anggaran, pesantren dari dulu sejak zaman Wali Songo sampai sekarang tetap eksis mendidik masyarakat dari semua golongan.

Ia menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber seminar bertema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren” yang digelar Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Ipmafa (Intitut Pesantren Mathali’ul Falah) Kajen, Pati, Jawa Tengah, Sabtu (4/3)

“Energi itulah yang dapat ditransfer untuk diarahkan ke pemberdayaan masyarakat. Dengan membawa spirit, hidup tidak bisa hanya spiritual saja, tetapi juga tidak bisa hanya bisnis saja, kedua-duanya harus berjalan beriringan agar nantinya tercipta masyarakat yang berdaya, ujarnya di depan ratusan mahasiswa PMI dan perwakilan dari santri-santri se-Kecamatan Margoyoso.

Kaprodi PMI IPMAFA Faiz Aminuddin menyampaikan, saat ini jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 27 juta lebih, hal itu bisa dilihat dari data BPS bulan September 2016. “Realitas ini harus menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, dan pesantren sebagai lembaga yang sudah mengakar di masyarakat harus ikut andil memberikan kontribusi untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia.”

Pengasuh Pesantren Shofa Azzahro Gembong ini berharap, pertama, sudah saatnya pesantren tidak hanya memfokuskan pada tafaqquh fiddin, tetapi juga mengajari para santri agar melek teknologi, melek bisnis, dan lain sebagainya, supaya saat para santri keluar dari pesantren mereka sudah siap untuk mandiri.

“Kedua, sudah saatnya pesantren untuk memberdayakan masyarakat sekitar, karena jihad kekinian yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah membuka lapangan pekerjaan,” tambahnya.

Sementara menurut narasumber pertama Sri Naharin, Dekan Fakultas Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Ipmafa, memaparkan tentang tujuan dakwah adalah untuk menyadarkan dan menyampaikan risalah, dan yang diubah adalah pola pikir dan perilaku masyarakat. Metodenya bisa dengan dakwah melalui lisan, dengan tulisan, dengan keteladanan, dan lain-lain.

Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, masyarakat adalah basis utama gerakannya, dengan melihat keadaan kehidupan masyarakat atau permasalahan-permasalahan umat, seperti pendidikan, sosial, ekonomi. Artinya pesantren tidak hanya masuk pada ranah spiritual saja tetapi juga masuk pada permasalahan yang kompleks di masyarakat, dan gerakan memberdayakan akan lebih kuat manakala melalui lembaga seperti pesantren. Mengingat masyarakat kita sampai detik ini masih yakin dengan kiai atau pesantren, sehingga itu adalah modal awal yang sangat baik karena dalam perberdayaan masyarakat “trust” adalah modal dasar yang harus dibangun.

Modal berikutnya yang harus dipersiapkan pesantren adalah memiliki kemampuan untuk mendesain program secara sistematis, terorganisasi, partisipatif, dan terencana agar masyarakat dapat hidup secara mandiri dan sejahtera secara berkesinambungan. Sederhananya, pesantren harus melakukan upaya nyata dan tindakan nyata, dengan alternatif-alternatif program pemberdayaan berbasis kebutuhan masyarakat.

Pada sesi terakhir, moderator Izzul Fahmi membuka termin tanya jawab, dan banyak sekali para peserta seminar yang mengajukan pertanyaan, tetapi karena keterbatasan waktu hanya dibatasi empat penanya. Acara terakhir ditutup dengan bacaan doa yang dipimpin oleh KH. Sofiyan Hadi. (ISNU)

Sumber: NU Online

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: