Sejarah Gerakan Nasional dan Kebangkitan Islam di Indonesia

Selasa, 23 Mei 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta  – Awal sejarah baru gerakan nasionalis di Hindia Belanda tepat pada  tanggal 20 Mei. Munculnya organisasi masyarakat baik yang berasal dari agama, media, maupun sosial menjadi symbol dari gerakan ini. Kemunculannya tidak lepas dari pengaruh politik Belanda yang pada saat itu menerapkan sistem politik etis untuk Hindia Belanda. Hal itu dikarenakan sebagai rasa terimakasih yang diberikan oleh Belanda kepada Hindia Belanda karena selama ini sudah membantu perekonomian Belanda. Sejarah telah mencatat bahwa antara tahun 1900 hingga 1916 organisasi di Hindia Belanda mulai muncul secara massif. Media Medan Priyayi, organisasi Budi Utomo, Syarikat Dagang Islam yang diganti menjadi Syarikat Islam (SI), dan masih banyak lagi.

Terbukti dengan terbentuknya organisasi tersebut mampu melahirkan pemikiran-pemikiran yang mengarah kepada perjuangan memerdekakan Hindia Belanda dari jajahan, serta melahirkan tokoh-tokoh nasionalis yang hingga kini menjadi tokoh pahlawan kita, seperti H.O.S Tjokroaminoto, Agus Salim, Tirto Adi Surjo, Ir. Soekarno, Tan Malaka, Bung Hatta, Ahmad Subardjo, dan sebagainya.

Untuk mengenang jasa perjuangan yang sudah dilakukan oleh para pejuang kita, usaha yang harus kita lakukan ialah mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam perjuangan mereka, terutama yang sudah diajarkan oleh H.O.S Tjokroaminoto bersama SI-nya. SI dalam perjalannya ingin menyatukan umat Islam untuk melawan para penjajah. Dengan menggunakan term agama yang dikolaborasikan dengan tradisi lokal diharapkan bisa mengambil simpati hati orang beragama Islam yang kemudian akan diakomodasi untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.

Poin penting dari perjuangan SI yang bisa kita aplikasikan di era saat ini ialah; Pertama, menjalin ukhuwah Islamiyah, menyatukan rasa persaudaraan kita sesama muslim. Ini didasari atas sentimen agama yang bertujuan untuk menyatukan umat. Menyatukan umat bukan berarti menyamakan atau berubah menjadi satu melainkan menyatukan dalam arti seluruh umat Islam yang merasa terjajah, apapun pemahaman tentang agama, di satukan untuk meraih kemerdekaan. Dalam perkembangan saat ini, persatuan umat harus didasari atas kesadaran empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Rasa persatuan umat juga menunjukkan bahwa perbedaan tafsiran agama bukan sebuah halangan. Perbedaan itu adalah sebuah rahmat yang harus dijaga guna keberlangsungan hidup yang harmonis. Orang akan beribadah dengan khusu’ dan mampu melaksanakan seluruh anjuran dari agama ketika kehidupan berbangsa dan bernegara harmonis, penuh perdamaian, dan keadilan.

Poin kedua dari semangat SI ialah persatuan dan kesatuan bangsa atau ukhuwah wathoniyah, menjalin persaudaraan sesama warga negara lain yang berbeda agama, suku, bahasa, dan etnis. Ketika rasa persaudaraan umat sudah terjalin dengan berlandaskan empat pilar kebangsaan, maka langkah selanjutnya menjalin persaudaraan dengan yang lain. Langkah ini penting sebab hidup di Indonesia bukan hanya orang beragama Islam saja melainkan bertetangga dengan agama, suku, dan etnis lainnya.

Menjalin persaudaraan dengan yang lain akan mengantarkan kita kepada keadilan dan perdamaian. Rasa persatuan antara semua golongan akan mendorong orang untuk gotong royong membangun bangsa dan negara. Sebuah bangsa akan besar jika rasa persatuan dan persaudaraan yang diaktualisasikan dalam bentuk gotong royong akan mampu membangun peradaban bangsa yang maju. Masyarakat yang hidup di dalamnya akan merasa aman, adil, dan sejahtera.

Oleh karenanya, tanggal 20 Mei kita jadikan untuk melihat sejarah yang di dalamnya terkandung berbagai makna yang salah satunya keinginan SI membangun bangsa ini. Membangun persatuan dan persaudaraan umat dirasa amat penting sebab umat Islam adalah terbesar di negara ini. Rasa ini didasari atas empat pilar kebangsaan sehingga kita tidak kehilangan ruh kehidupan bernegara. Membangun persaudaraan kepada sesama kelompok lain juga menjadi langkah penting sebab dengan itu kita bisa gotong royong membangun bangsa. Tujuannya untuk membangun peradaban kuat yang di dalamnya orang hidup merasa aman, sejahtera, dan damai. Wallahhu a’lam (ISNU)

Ditulis oleh Mujibuddin, pegiat aktif di Islami Institute dan Gusdurian Jogja.

Sumber:

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: