Selain Kerukunan, Gus Dur Juga Layak Jadi Bapak Keadilan Sosial

Minggu, 26 November 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Mataram  – Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi contoh dalam keberhasilan ekonomi nasional semasa memerintah. Hal itu disampaikan oleh Direktur Lingkar Survei Perjuangan Gede Sandra dalam diskusi bertajuk “Belajar dari Model Ekonomi Gus Dur” di Mataram, NTB, Sabtu (25/11).

Gede menyebutkan meski Pemerintahan Gus Dur relatif singkat selama 21 bulan, namun mampu menunjukkan indikator keberhasilan ekonomi dan menegakkan keadilan sosial.

Ini bisa dilihat dari peningkatan pertumbuhan ekonomi, utang berkurang, distribusi pendapatan merata, rasio gini rendah, dan kohesi sosial yang semakin kuat. Gede menjelaskan, Pemerintahan Gus Dur menerima warisan perekonomian dari pemerintahan sebelumnya dalam kondisi pertumbuhan yang masih minus 3 persen pada September 1999.

“Namun ketika diukur lagi pada akhir 1999 atau tiga bulan sejak tim ekonomi Gus Dur bekerja, pertumbuhan ekonomi sudah di level 0,7 persen atau melompat 3,7 persen. Wajar jika Gus Dur disebut sebagai bapak keadilan bangsa,” ujar Gede.

Sementara dalam kurun waktu setahun berikutnya, lanjut Gede, perekonomian Indonesia kembali berhasil tumbuh ke level 4,9 persen atau melompat 4,2 persen. Begitu juga pada 2001, saat pemakzulan terjadi, rata-rata pertumbuhan ekonomi di akhir tahun masih berada pada level 3,6 persen.

Gede menambahkan, kurang dari dua tahun menjabat, Gus Dur mampu membawa gini ratio Indonesia terendah sepanjang 50 tahun terakhir, yaitu sebesar 0,31.

Gede mengungkapkan kunci keberhasilan tim ekonomi Gus Dur sehingga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat ialah menolak resep IMF Bank Dunia yang menganjurkan dilakukannya pengetatan anggaran. Sebaliknya, yang ditawarkan tim ekonomi Gus Dur adalah strategi pertumbuhan.

Tim ekonomi Gus Dur juga piawai dalam melakukan optimum debt managament dan mampu menjaga harga beras stabil di level rendah sehingga mengakibatkan daya beli masyarakat bawah perkotaan terus terjaga.

“Kesejahteraan petani di pedesaan juga terjaga karena Bulog melakukan pembelian gabah, bukan membeli beras. Inilah alasan mengapa ketimpangan pendapatan paling rendah di era ini,” ungkap Gede. (ISNU)

Sumber: Republika

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: