Seri 1, Hikayat Islam Nusantara Raden Kian Santang

Islamnusantara.com – (Hikayat ini adalah contoh sastra lisan di Banten dan Jawa Barat yang lebih bersifat kiasan, yang memaksudkan dirinya untuk bercerita tentang bagaimana peralihan kultural dan politik di Banten dan Jawa Barat dari Era Hindu ke Era Islam).

Di mana di kisahkan pada waktu itu yaitu abad ke 4 m atau tahun 450m pernah terdapat putra mahkota yang sakti mandraguna bernama GAGAK LUMAYUNG yang dalam ceritanya ”di tataran suda dan sekitarnya, tak ada yang mampu mengalahkan ilmu kesaktiannya .hingga suatu saat datang pasukan dari dinasti TANG yang hendak menaklukkan kerajaan tarumanegara. namun berkat Gagak Lumayung, pasukan TANG dapat di halau dan tunggang-langgang semenjak itu raden gagak lumayung di beri sebutan ”KI AN SAN TANG” atau ”penakluk pasukan tang”

Kian SantangPrabu Siliwangi memiliki beberapa putra dan putri, diantaranya adalah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang, yang keduanya adalah putra dan putri kesayangan sang Prabu. Raden Kian Santang terkenal dengan kesaktiannya yang luar biasa. Di dunia persilatan nama Raden Kian Santang sudah tak asing lagi sehingga seluruh Pulau Jawa bahkan Nusantara saat itu sangat mengenal siapa Raden Kian Santang. Tak ada yang sanggup mengalahkannya. Bahkan, Raden Kian Santang sendiri tak pernah melihat darahnya sendiri.

Suatu ketika, Raden Kian Santang yang adalah putra Prabu Siliwangi itu terkejut ketika di dalam mimpinya ada seorang kakek berjubah yang mengatakan bahwa ada seorang manusia yang sanggup mengalahkannya, dan kakek tersebut tersenyum. Mimpi itu terjadi beberapa kali hingga Raden Kian Santang bertanya-tanya siapa gerangan orang itu. Dalam mimpi selanjutnya sang kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata bahwa orang itu di sana.

Penasaran dengan mimpinya, Raden Kian Santang pun meminta ijin kepada ayahandanya, Prabu Siliwangi untuk pergi menuju seberang lautan, dan menceritakan semuanya. Prabu Siliwangi walaupun berat hati tetap mempersilahkan putranya itu pergi. Namun Ratu Rara Santang, adik perempuan Raden Kian Santang, ingin ikut kakaknya tersebut.

Meski dicegah, Ratu Rara Santang tetap bersikeras ikut kakaknya, yang akhirnya mereka berdua pergi menyeberangi lautan yang sangat luas menuju suatu tempat yang ditunjuk orang tua alias si kakek berjubah di dalam mimpi Raden Kian Santang itu.

Hari demi hari, minggu berganti minggu dan genap delapan bulan perjalanan sampailah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang ke sebuah dataran yang asing, tanahnya begitu kering dan tandus, padang pasir yang sangat luas serta terik matahari yang sangat menyengat mereka melabuhkan perahu yang mereka tumpangi.

Tiba-tiba datanglah seorang kakek yang begitu sangat dikenalnya. Yah, kakek yang pernah datang di dalam mimpinya itu. Kakek itu tersenyum dan berkata: “Selamat datang anak muda! Assalamu alaikum!” Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang hanya saling berpandangan dan hanya berkata: “Aku ingin bertemu dengan Ali, orang yang pernah kau katakan sanggup mengalahkanku.”

Dengan tersenyum kakek itu pun berkata: “Anak muda, kau bisa bertemu Ali jika sanggup mencabut tongkat ini!” Lalu si kakek itu menancapkan tongkat yang dipegangnya.

Kembali Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang saling berpandangan, dan Raden Kian Santang tertawa terbahak-bahak. “Hai orang tua! Di negeri kami adu kekuatan bukan seperti ini, tapi adu olah kanuragan dan kesaktian. Jika hanya mencabut tongkat itu buat apa aku jauh-jauh ke negeri tandus seperti ini?  Ujar Raden Kian Santang mengejek.

Kakek itu kembali tersenyum. “Anak muda, jika kau sanggup mencabut tongkat itu kau bisa mengalahkan Ali, jika tidak kembalilah kau ke negerimu anak sombong.” Kata orang tua itu.

Akhirnya Raden Kian Santang mendekati tongkat itu dan berusaha mencabutnya. Namun  upayanya tak berhasil. Semakin dia mencoba semakin kuat tongkat itu menghunjam.

Keringatnya bercucuran, sementara Ratu Rara Santang tampak khawatir dengan keadaan kakaknya, ketika tiba-tiba darah di tangan Raden Kian Santang menetes, dan menyadari bahwa orang tua yang di hadapan mereka bukan orang sembarangan.

Saat itu, lutut Raden Kian Santang bergetar dan dia merasa kalah. Ratu Rara Santang yang terus memperhatikan kakaknya segera membantunya, namun tongkat itu tetap tak bergeming, akhirnya mereka benar-benar mengaku kalah.

“Hai orang tua! Aku mengaku kalah dan aku tak mungkin sanggup melawan Ali. Melawan  dirimu pun aku tak bisa! Tapi ijinkan aku bertemu dengannya dan berguru kepadanya.” Ujar Raden Kian Santang.Kakek itu kembali tersenyum. “Anak muda! Jika Kau ingin bertemu Ali, maka akulah Ali.” Tiba-tiba mereka berdua bersujud kepada orang tua itu, namun tangan orang tua itu dengan cepat mencegah keduanya bersujud. “Jangan bersujud kepadaku anak muda! Bersujudlah kepada Zat yang menciptakanmu, yaitu Allah!”

Akhirnya mereka berdua mengikuti orang tua tersebut, yang ternyata Sayidina Ali ra, ke Baitullah dan memeluk agama Islam.

Begitulah, Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh. Dalam perjalanannya Raden Kian Santang kembali ke pulau Jawa dan menyebarkan Islam di daerah Garut hingga meninggalnya. Sedangkan Ratu Rara Santang dipersunting oleh salah satu pangeran dari tanah Arab yang bernama Syarif Husen. Perkawinan antara Ratu Rara Santang dan Syarif Husen itu menghasilkan dua putra, yaitu Syarif Nurullah dan Syarif Hidayatullah. Syarif Nurullah menjadi penguasa Makkah saat itu, sedangkan Syarif Hidayatullah pergi ke Jawa untuk bertemu dengan ayah dan kakeknya. (ISNA/SDJ)

Sumber: sindonews, Bandung.eu

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: