Seri Langgam Jawa: Lagu Arab dalam Tilawah di Indonesia

Islamnusantara.com, JOGYAKARTA – Lagu-lagu al-quran diterima oleh masyarakat Indonesia karena di Indonesia ada persepsi bahwa orang arab lebih “islami” ketimbang orang Indonesia. Sangat sulit untuk melacak data akurat mengenai lagu “yang bagaimana” yang dipakai oleh Rasulullah SAW dan kaum komunitas muslim awal membaca atau melantunkan al-Quran. Setidaknya, data yang sangat sedikit baru bisa dilacak oleh para sarjana muslim awal setelah abad ke-3 H atau setara abad ke-8 M. Ada sebuah buku berjudul Kitab al-Aghani karya Abu Faraj al-Isfahani yang dapat dirujuk. Namun, itu baru muncul di abad ke-9 M. Ada pemaparan tentang tradisi pelantunan al-Quran yang menyerupai tilawah sekarang ini, baru muncul di masa periode Dinasti Abbasiah. Saat itu ada banyak pembaca al-Quran yang menetapi al-Quran dengan melodi dari seni musik arab (maqamat al-arabiyyah). Secara khusus, filsuf muslim awal seperti al-Farabi (w. 950) dan Ibnu Sina (w.1037), dan secara khusus al-Kindi (w. 870) telah mengurai perkara pelik mengenai musik Arab tersebut dalam kitab yang mereka anggit. Baik dari sisi musik sebagai bebunyian hingga rahasia-rahasia ruhani yang terselip di baliknya.

Labib al-Sa’id menulis dalam karya ilmiahnya bahwa Ibnu Qutaibah mengatakan: pertama kali yang membaca al-Quran dengan lagu (Arab) adalah Abdullah bin Abi Bakrah. Ia membaca dengan bacaan yang menyentuh, yaitu dengan melembutkan suaranya sehingga bacaannya itu dapat dibedakan dari dendangan nyanyian pada umumnya. Kemudian, keindahan membaca al-Quran tersebut diwarisi oleh cucunya, Ubaydillah bin Umar bin Abdillah. Dari sang cucu tersebut pula al-Iyadhi mengambil cara membaca al-Quran dengan lagu Arab tersebut. Lalu Said al-‘Allaf dan saudara lelakinya mengambil bacaan indah Ibnu Umar tersebut dari al-‘Iyadhi. Bukan kebetulan, Raja Harun al-Rasyid sangat terkesan dengan bacaan al-Quran Said al-‘Allaf. Lalu sang khalifah tersebut memberikan penghormatan padanya dan memfasilitasinya. Sejak saat itu Said al-‘Allaf masyhur dikenal sebagai qori sang raja.[1]

Dalam perkembangannya, para qori di zaman itu, di antaranya; al-Haitsam, Aban, Ibnu A’yun, dan para qori lainnya memasukkan lenggak-lenggok nyanyian arab, Huda’ (الحداء) atau nyanyian untuk memacu unta yang dinyanyikan oleh para penunggangnya yang ritmenya seirama dengan langkah kaki unta, dan lagu-lagu para rahib. Di antara mereka bahkan ada yang mengkombinasikan beberapa irama itu secara sangat halus. Tapi ada juga yang jelas-jelas memakai lagu-lagu nyanyian itu. Seperti al-Haitsam, yang memakai irama bahr nyanyian syair Arab.

Seorang pengembara, Ibnu Jabir mencatat dalam perjalanannya bahwa ia melihat para qori sedang membacakan al-Quran di depan para penasehat raja. Saat itu mereka memakai irama nyanyian yang menyebabkan tumpahnya air mata karena kegembiraan dan puji-pujian, seolah-olah al-Quran itu adalah mazmur yang dibaca secara merdu oleh nabi Daud as.

Berkatalah al-Haitsam al-‘Allaf: aku membacakan al-Quran ke hadapan Raja al-Manshur. Lalu ia berkata: apakah kalian wahai penduduk Bashrah adalah negeri yang paling indah dalam membacakan al-Quran? Kemudian aku menjawab: orang Hijaz membaca al-Quran dengan nashb (النصب), yaitu nyanyian umum anak muda Badui dan para perempuan yang sedang membalap unta di tengah padang pasir.[2] Orang-orang Syam membaca al-Quran dengan irama para rahib. Orang-orang Kufah membaca dengan lagu padang pasir yang biasa dipakai untuk acara kematian, dan orang-orang Bashrah membaca al-Quran dengan lagu-lagu khas Persia. (322-324).

Melacak musik Arab sebelum Islam adalah pekerjaan sulit. Hampir-hampir tidak ada dokumen penelitian yang cukup akurat tentang itu. Hanya saja, Habib Hassan Touma menggariskan bahwa dari masa ribuan tahun sebelum Islam, musik Arab periode pertama dapat dibatasi sampai tahun 632 Masehi atau masa wafatnya? Nabi Muhammad SAW. Sebelum era Islam, zaman arab dikenal sebagai zaman jahiliyah, yang ciri utamanya dapat ditandai oleh perang antar suku. Dalam situasi perang antar suku itulah, musik Arab mengalun bersama puisi-puisi yang mereka dendangkan untuk menyulut semangat perang. Hanya saja, musik Arab –yang dari sanalah diturunkan nada-irama Arab- belum menemukan bentuk strukturnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa masa itu nada-irama hanya sekedar nada-irama.

Kehidupan musikal orang Arab pada masa itu dirumuskan oleh “mazhab” Qaynah, yaitu budak perempuan yang bertugas sebagai penyanyi sekaligus pelayan. Selain menyanyi dan tampil di panggung, kewajiban qaynah mencakup pekerjaan menuangkan anggur dan menyediakan jasa erotisme. Dalam bahasa sekarang, ini serupa dengan pekerja sex. Aktivitas para qaynah juga telah turut menyumbang perdagangan budak-budak yang cukup berjalan baik di pasar-pasar termasyhur Arab kala itu seperti di Madinah, Thaif, dan ‘Ukaz. Di pasar-pasar inilah para qaynah menegakkan kedaulatan dirinya. Karena di sanalah mereka dapat menjalin hubungan dengan para saudagar dan utusan perdagangan dari berbagai negeri. Tugas para qaynah itu adalah untuk menghibur tamu dengan nyanyian, anggur, dan erotisme. Di antara mereka akan menuangkan anggur saat yang lain sedang menyanyi. Dadanya dibiarkan terbuka untuk setiap mata yang memandang sambil melakukan penawaran kencan. Sebagaimana pula pada masa itu, ada banyak perempuan yang sengaja mengibarkan bendera di depan rumahnya sebagai tanda bahwa mereka sedang menunggu pelanggan.

Ada pula qaynah yang telah “dirawat” oleh para saudagar Arab seperti Harits dari Ghassan, Nu’man dan Mundzir dari Hirah atau oleh beberapa pemuka suku yang secara rutin akan menghibur mereka dan keluarga mereka dengan nyanyian dan musik. Di sana mereka tidak hanya membacakan puisi, akan tetapi juga menyertai pembacaan puisi itu dengan nyanyian. Barangkali saat ini, peristiwa itu dapat disebut musikalisasi puisi. Ada beberapa qaynah yang cukup masyhur kala itu yang tinggal di Madinah, Makkah, Yamamah, Yaman, dan Hadhramaut. Di antara mereka adalah Jaradah dari suku ‘Ad, Mulaykah, Binti ‘Afzar, Hurairah, dan masih banyak lagi.

Ada dua gaya nyanyian arab kala itu. Pertama gaya orang-orang Badui. Kedua, gaya orang-orang yang menetap (ahlul hadhr). Gaya orang Badui dapat digolongkan ke dalam dua macam; Huda’ dan Nashb. Keduanya sangat sederhana dan terkesan naif (tidak dibuat-buat). Padahal saat itu gaya menyanyi kaum hadhr yang diwakili oleh kaum qaynah telah cukup ahli dan luar biasa. Huda’ adalah nyanyian untuk memacu unta yang dinyanyikan oleh para penunggangnya yang ritmenya seirama dengan langkah kaki unta. Sedangkan nashb adalah nyanyian umum yang dinyanyikan oleh anak muda Badui yang sedang membalap unta di tengah padang pasir dan nyanyian yang didendangkan oleh perempuan.

Nada-irama ahli dan luarbiasa yang dimainkan oleh para qiyan itu dapat dibagi menjadi dua kategori: sinad dan hazaj. Sinad dinyanyikan untuk menunjukkan emosi keseriusan, martabat, kemasyhuran, kebanggaan, dan arogansi dari puisi-puisi yang dinyanyikan. Sedangkan hazaj adalah nyanyian sederhana yang ditujukan untuk menghibur dan menenangkan para pelanggan.

Produksi seni nyanyian para qiyan inilah yang membangun tradisi nada-irama dalam era Islam serta setelahnya, khususnya pada abad ke-9 M, saat Ishaq al-Mawshili hidup. Dari beberapa lagu yang dipilih untuk Khalifah Harun ar-Rasyid pada abad ke-8, paling tidak ada satu nyanyi-puisi yang dipersembahkan untuk jaradah Sisters, yaitu perkumpulan para qaynah yang hidup di era jahiliyah. Jadi, tak diragukan lagi bahwa nada-irama Arab pada periode Jahiliyah sampai tahun 632 M, dibentuk oleh daya bersuara kaum qiyan. Itupun tetap harus dicatat, bahwa dalam era hubungan perdagangan dari berbagai negeri, para qiyan –serta keterbentukan musik Arab- juga mendapat pengaruh dari berbagai peradaban. Apalagi, sebagai kelas budak, para qiyan saat itu juga banyak yang berkebangsaan Persia, Byzantium, Mesir, dan Etiopia. Seluruh area kebangsaan itu masing-masing dihidupi oleh kaum politeis, kristen, yahudi, dan kaum mistikus Persia. Semua bangsa itu memiliki himne, liturgi, dan nyanyian-nyanyian lain. Dalam hal ini, Touma melihat kemungkinan dipengaruhinya teknik vokal dan nyanyian para qaynah oleh tradisi persia dan etiopia yang memang punya tradisi musikal tinggi. Akan tetapi, para qaynah juga telah menyaring itu semua sehingga sesuai dengan karakter kebangsaan mereka, Arab.

Periode kedua adalah periode musik klasik Arab (632-850). Tradisi nada-irama kaum qaynah masih terus berpengaruh sampai tiga abad setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Ornag-orang Arab masih sering menyanyikan puisi cinta, himne, dan lagu-lagu perang dengan memakai teknik produksi suara ala kaum Qaynah. Perubahan besar di Arab terjadi ketika Makkah dan Madinah menjadi dua kota besar yang telah berperadaban akibat pengaruh Islam. Bersamaan dengan itu pula, hiduplah di sana masyarakat dari berbagai suku-bangsa yang membawa pengaruh musikal tersendiri ke dalam dunia nada-irama Arab. Bahkan, nantinya, umat Islam-Arab kala itu justru banyak memasukkan unsur-unsur kebudayaan tinggi dari Yunani, Romawi, Persia, Mesir, Assyirians, Babilonia, yang mana nantinya menjadikan kebudayaan Arab sebagai kebudayaan “baru” yang unik.

Orang-orang Arab di Hijaz, terutama di Madinah, telah terbiasa hidup dalam dunia musikal yang tumbuh dengan sangat rindang. Bernyanyi bagi mereka adalah tindakan seni profesional. Mereka menganggap bernyanyi sebagai benda kebudayaan yang sebelumnya belum pernah terlintas dalam alam pikiran mereka. Sehingga saat itu lahirlah kaum mukhannathun, yaitu para penyanyi lelaki. Tak ubahnya kaum qaynah. Mereka memakai busana khas perempuan dan karena itu kemungkinan memiliki naluri berhubungan seks sesama jenis. Tapi pada masa itu, semua penyanyi telah bisa lahir dari semua kasta. Baik lelaki maupun perempuan. Meskipun mereka tidak termasuk kaum qaynah ataupun mukhannathun. Penyanyi perempuan termasyhur kala itu adalah ‘Azzah al-Mayla’. Ia hidup di Madinah dan memiliki pengaruh kuat untuk mengendalikan repertoir yang akan dibawakan oleh para qaynah yang akan tampil sebelum era Islam.

Sebagian besar penyanyi besar di era Islam berasal dari persia, etiopia, dan Afrika hitam. Meskipun di antara mereka terlahir di Arab atau setidaknya tumbuh-besar di sana. Kecuali satu orang Persia, Nasyit, yang di Arab menjadi penyanyi terkenal setelah ia mendapatkan pelajaran cara bernyanyi yang baik dari orang Arab, Sa’ib Khathir.

Untuk beberapa abad setelah Islam, dan saat dinasti umayyah berkuasa sampai kira-kira 750 Masehi, Bahasa Arab dipakai untuk tidak hanya menyebut teks lagu Arab, akan tetapi juga alat-alat serta peristilahan musik. Di Madinah, ada seorang penyanyi bernama Yusuf al-Katib yang meninggal pada tahun 765 M. Ia menyanyi dengan mengambil karakteristik nada-irama Persia. Ia juga menulis beberapa risalah tentnag musik dan kehidupan musikal kota madinah. Yusuf pulalah yang menuliskan ritme, nada, serta nama pengarang lagu-puisi. Dalam dua risalah lainnya, ia menulis mengenai melodi dan kaum qaynah. Buku-buku musinya kelak menjadi inspirasi bagi dua orang ahli musik setelahnya, yaitu al-Mawshili dan al-Isfahani, dalam studi mereka tentang musik di Hijaz dan Madinah. (ISNA/Yaser Arafat)

[1] Labib al-Sa’id, al-Jam’us Showtiyyul Awwal lil Quranil Karim awil Mushhafil Murottal (Cairo: Darul Kitab al-‘Arabi lith Thiba’ah wan Nasyr, 1967), hlm. 321.

[2] Ada kemungkinan bahwa nashb adalah nyanyian persembahan korban di sebuah batu di daerah Thaif, Hijaz, kepada berhala-berhala. Lihat Henry Georg Farmer: hlm. 8

One Response

  1. Madumoelagu18 Agustus 2016 at 8:45 amReply

    Biar lagu Arab tapi enak juga itu gan dinyanyikan dalam irama Langgam Jawa, heheee.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: