Seri Langgam Jawa: Tilawah Arab dan Tilawah “Lokal” di Indonesia

Islamnusantara.com, JOGYAKARTA – Tilawah langgam Jawa masuk menjadi topik wicara. Sama halnya dengan tilawah yang model Arab, ia pun telah lama memang ada dalam jagad pembacaan al-Quran masyarakat Jawa. Pernah suatu ketika saya membacakan al-Quran Jawi di hadapan seorang kawan yang usianya limabelas tahun lebih tua daripada saya. Setelah saya selesai menunaikan bacaan, sontak ia bilang: persis kaya simbahku..mbiyen simbahku ya ngono maca qurane (persis seperti simbah saya..dulu simbah saya ya gitu membaca qurannya). Dan, hampir semua pendengar tilawah langgam Jawa yang saya perdengarkan, juga berujar serupa. Dalam video ceramahnya di alamat https://www.youtube.com/watch?v=xZAwAfDu_gE, yang diunggah oleh akun MTHSOfficial tanggal 20 Mei 2015, Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA mengatakan bahwa kakeknya juga membaca seperti itu. Saya sendiri menemukan banyak sekali kasus serupa. Di masjid dekat kontrakan saya di daerah Berbah, Sleman, Yogyakarta, ada pengisi ceramah Ramadhan tahun 2014 lalu yang mengimami sholat dengan menggunakan langgam Pocung laras Slendro. Di masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 1980-an, ada imam masjid yang juga mengimami dengan langgam Jawa sebagaimana diterangkan oleh Dr. Phil. Sahiron Syamsudin, yang juga dibenarkan oleh Prof. Dr. Machasin. Dengan kata lain, banyaknya kesaksian seperti ini, merupakan pertanda bahwa tilawah langgam Jawa benar-benar meng-ada dalam memori historis orang-orang Jawa.

Yasir Arafat

Yaser Arafat

Secara umum, sebelum tahun 1950, masyarakat nusantara membaca al-Quran dengan lagu lokal. Dalam buku hasil penelitian panjang nan tebalnya di indonesia, Perfection Makes Practice: Learning, Emotion, and the Recited Quran in Indonesia, Anna M Gade (2010) mengistilahkannya dengan “local lagu”.[1] Meskipun memang saat itu lagu-lagu Arab Makkawi -bukan Arab Mishri seperti yang berkembang sekarang- sudah masuk ke Indonesia karena dibawa oleh orang-orang yang pulang berhaji. Lagu Arab Mishri (Arab Mesir) pun, mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1960-an. Sebab di Mesir, qori yang memulainya seperti Syekh Musthafa Ismail baru merintisnya kira-kira pada tahun 1930-an. Saat karir tilawahnya menanjak, tepatnya pada tahun 1977, di Mesir terjadi kehebohan. Sebagian besar ulama, cendikiawan, dan ahli musik memperdebatkan status tilawah itu; apakah ia termasuk melagukan al-Quran atau tidak.[2] Itupun, waktu itu,  pada masa menjelang tahun 1950. Itupun tidak terstuktur seperti sekarang ini. Baru pada tahun 1977, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) mengesahkannya menjadi langgam yang wajib dibaca, yaitu langgam tujuh sebagaimana yang kita kenal saat ini yang terdiri dari langgam: Bayyati, Shoba, Hijaz, Nahawand, Sika, Rast, Jiharka, dan Bayyati Husaini.[3]

Tilawah langgam lokal akhirnya tergusur pelan-pelan. Seiring dengan massifnya perhelatan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) dan populernya langgam Arab –yang juga sebenarnya adalah langgam lokal di negeri padang pasir sana. Sebelum masa MTQ menjangkit, di Indonesia sudah ada banyak peristiwa-peristiwa perlombaan membaca al-Quran beraura lokal. Terutama di masjid-masjid di desa-desa. Perlombaan membaca al-Quran itu biasa disebut “sayembara” dan “perlombaan”, bukan musabaqoh. Entah untuk memeringati malam nuzulul quran pada bulan Ramadhan, dalam rangka peringatan mawlid Nabi Muhammad SAW, perlombaan antar kampung, dan semisalnya. Istilah sayembara ini sangat khas. Ia terlebih dahulu dipakai sebelum istilah “musabaqoh” populer digunakan untuk menyebut perlombaan membaca al-Quran. Usia sayembara membaca al-Quran ini lebih tua daripada usia MTQ. Seperti data yang dilansir oleh Anna M Gade, di Asahan, Sumatera Utara, telah ada perlombaan atau sayembara membaca al-Quran pada tahun 1946. Sebagian besar para pembaca al-Quran pada masa itu tidak disebut qori, tapi pelagu. Pada tahun 1920-an, mulai banyak organisasi yang mengurusi tilawah dan menyelenggarakan sayembara-sayembara tilawah. Pada tahun 1949, ada sayembara membaca al-Quran di Makassar yang disponsori oleh Panitia Pembangunan Masjid Raya. Juara sayembara membaca al-Quran dari seluruh Sulawesi dan dari Kalimantan diundang untuk mengikuti sayembara ini. Pemenang sayembara itu nantinya akan dipanggil sebagai imamul qurro atau pemimpinnya para qori.

Tilawah langgam Jawa yang saya baca merupakan hasil dari perjalanan ilmiah dan batiniah yang sangat panjang. Saat membacakannya, saya memiliki metodologi lahir-batin yang dalam tulisan ini, bila diungkapkan semua, tentu tulisan ini akan lebih baik menjadi buku. Karena itu, saya akan memaparkan beberapa saja. Terutama yang kira-kira menurut saya penting untuk disampaikan. (ISNA/Yaser Arafat)

[1] Perfection, hlm. 183.

[2] Nelson, 33.

[3] Ibid. Hlm. 187.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: