Seri Langgam Jawa: Tilawah Harus Disadari Hanya Sebagai Kebudayaan

Islamnusantara.com, JOGYAKARTA – Sebelum lapak perbincangan tentang tilawah langgam Jawa ini digelar, saya melihat ada sesuatu yang dilupakan di sana, yaitu bahwa tilawah adalah kebudayaan. Koentjaraningrat menuliskan bahwa ada 7 unsur yang disebut dengan kebudayaan; bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, sistem religi, dan kesenian.[1] Sedangkan kebudayaan itu merupakan sesuatu yang “murni” dibuat oleh manusia. Dengan kata lain, kebudayaan adalah karya manusia yang mencerminkan tujuh perkara tersebut di atas. Bagaimana logika tilawah itu disebut kebudayaan –dalam hal ini seni? Mari merenung sebentar.

Apakah tilawah itu seni? Sebelum menjawabnya, perlu dipertanyakan apakah seni itu? Seni, dalam Bahasa Indonesia (Melayu) mengarah pada arti tukang.[2] Raden Saleh, dalam Majalah Sin Po, 25 Juli 1931, disebut sebagai seorang tukang menggambar indonesier. Kamus Belanda-Melayu susunan Klinkert menyatakan seni alias kunst sebagai kata berpengertian; hikmat, ilmu, pengetahuan, kepandaian, ketukangan. Sesuai dengan pengertian art dalam Bahasa Inggris, yaitu skill in making or doing. Art dapat berarti keterampilan (skill), aktivitas manusia, karya (work of art), seni indah (fine art), dan seni rupa (visual art). Atas dasar beberapa pengertian itu, kiranya dapat dipahamilah kemunculan istilah; seni perang, seni memasak, seni berdagang, seni berdiplomasi, dan seni mempengaruhi orang lain. Bahkan hidup sebenarnya seni.

Keterampilan, kemampuan, dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi tukang (seniman), memungkinkan para calon ‘tukang’ untuk belajar dan mempelajari asas-asas penciptaan karya seni dan mempraktikkannya. Hubungan teori dan praktik ini pelan-pelan akan menyerasi, mengharmoni, dan menumbuhkan pohon rasa di dalam diri si calon tukang. Saat itulah, ia bersentuhan dengan keharusan untuk mencipta. Maksudnya, dalam olah-latih pertukangannya, seorang calon tukang akan teranugerahi bekal, yaitu daya-cipta.[3] Selain dibantu oleh eksperimentasi dan panduan seperangkat kaidah-kaidah teknikal dalam mencipta, rasa si tukang bekerja lebih jerih-keras lagi untuk memadukan eksperimentasi dan kaidah-kaidah teknikal itu. Sehingga apa yang ia tukangi menyembul sebagai “sesuatu yang baru”. “Sesuatu yang baru” itulah apa yang disebut sebagai “karya seni”, yaitu sesuatu yang lahir dari olah-rasa yang dipadu dengan ramuan teori dan praktek. Sehingga ia dapat dilihat, didengar, atau dilihat sekaligus didengar.[4]

Lalu bagaimana nasib ke-seni-an tilawah? Apakah ia dapat disebut sebagai seni? Sebelum itu, tilawah perlu dilihat sebagai karya kebudayaan Arab. Membaca al-Quran memang bukan amal khusus untuk orang Arab. Akan tetapi, mengingat Nabi Muhammad SAW hidup di Arab, jadi pelantunan al-Quran pertama kali dilakukan oleh orang Arab. Ruang sosial kehidupan al-Quran memang berada di sana. Tinjauan geneologis itu berlaku juga untuk melongok status ke-seni-an tilawah. Istilah seni dalam kebudayaan Arab harus ditengok terlebih dahulu.

Seni, dalam Bahasa Arab, disebut fann (فن). Asal katanya dari fanna atau fa-na-na (ف- ن- ن), yang artinya menghiasi. Terkadang, dalam konteks tertentu, kata fann dipakai untuk menyebut aktifitas menghalau binatang liar, menipu dalam konteks jual-beli, menunda-nunda pembayaran utang, mencampur, membuat/memberi variasi, mencipta/menemukan. Diskursus keilmuan masyarakat Arab mengartikan fann sebagai ilmu terapan atau ilmu kerja-mulia (علم عملي او صناعة شريفة/‘ilm ‘amaliy aw shina’ah syarifah). Fann juga berarti macam-macam sesuatu.[5] Ahmad at-Thowil bahkan menyebut tindakan membaca al-Quran dengan bermacam teknik dan persyaratannya sebagai fannut tartil.[6] Jadi, ke-seni-an tilawah tidak butuh bantahan.

Memang, pada awalnya, tilawatil quran adalah ibadah. Siapa yang mengerjakannya akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda; barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Quran, maka ia mendapatkan satu kebaikan, yang satu kebaikan itu sama dengan sepuluh kali lipat ganjarannya. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf. Alif itu satu huruf, Lam itu satu huruf, dan Mim itu satu huruf.[7] Ada banyak anjuran-anjuran lain dari sang Nabi SAW untuk membaca al-Quran. Baik dikaitkan pada aspek perolehan ganjaran, maupun pada peramuan sistem sosial berbasis pembacaan al-Quran. Bahkan, Nabi Muhammad SAW bertitah dalam sejumlah sabda yang berisi anjuran untuk mempercantik bunyi bacaan (baca: bertilawah). Di antaranya; Allah tidak memberi izin terhadap suatu perbuatan sebagaimana Nabi diizinkan membaguskan suara dalam melantunkan al-Quran;[8] bukan golongan kami orang yang tidak melantunkan al-Quran;[9] hiasilah al-Quran dengan suaramu.[10]

Mari merenung sekai lagi. Seperti disebut di atas, anjuran membaca al-Quran itu amat disukai bila diiringi dengan pembagusan suara. “Membaguskan suara” merupakan petunjuk tentang wujud kegigihan usaha untuk melahirkan sesuatu yang ber-nilai. Inilah pintu masuk ke-seni-an tilawah.[11] Pembagusan suara juga mendalilkan perlunya muslihat untuk menemukan dan menerapkan cara, teknik, dan metode tertentu. Suara bagus tidak dibutuhkan dalam membaca al-Quran. Akan tetapi pembagusan suara. Dalam pembagusan suara inilah, pembacaan al-Quran bersua dengan seperangkat kemampuan, hikmat, keterampilan, dan kreatifitas. Konsepsi ini bersuamuka dengan pengakuan dunia ilmiah Islam pada tilawah sebagai teknik suara atau handasatush showt (هندسة الصوت).[12] Handasat artinya teknik. Showt artinya suara. Jadi, tilawah itu teknik suara. Sekali lagi, di sini, tilawah benar-benar seni. Alhasil, karena tilawah itu seni, maka tilawah adalah kebudayaan. Sekali lagi: “yang kebudayaan” adalah tilawah-nya, bukan al-Qurannya. Saya kira tidak perlu mendefinisikan lagi apa itu kebudayaan. Agar ruang majelis ini tidak terlalu panjang. Hanya saja, perlu digarisbawahi bahwa apa yang diperbuat oleh manusia, itulah kebudayaan –dan, karenanya, itulah seni.[13]

Lazimnya kebudayaan, maka ia tak pernah lekang dari lingkaran ruang-waktu. Kebudayaan masyarakat padang pasir akan pasti berbeda dengan kebudayaan masyarakat bahari-petani. Apa yang indah menurut orang Arab, belum tentu indah menurut orang Jawa. Apa yang elok menurut orang Sumatera, belum tentu elok menurut orang Sulawesi. Meskipun ada sisi-sisi di mana kebudayaan “dari sana” bisa diterima “di sini”, dengan penyesuaian kreatif yang tak pernah terhenti. Kebudayaan memang memiliki sisi terbatas dan tak terbatasnya. Karena itu menjadi wajar bila ada orang Barat masuk Islam gara-gara ia mendengar azan. Menjadi wajar pula ada orang Barat betah tinggal di Jawa dan bahkan menjadi dalang. Itu artinya bahwa tilawah adalah produk kultural dari zaman, masa, ruang, serta kecendrungan estetik tertentu. Ia boleh berlaku di sini, tapi belum tentu berlaku di sana.

Konsekuensinya, dalam kasus tilawah langgam Jawa khususnya dan langgam nusantara lain umumnya, segala nada-irama “yang Arab” dalam pembacaan al-Quran tidak boleh dipaksakan untuk diterima oleh orang non-Arab. Begitu pula sebaliknya. Sekalipun bagi rezim politik-keagamaan tertentu, tilawah langgam Jawa dirasa tidak “pantas”, konyol, menjijikkan, ia tetap tidak boleh dibunuh atau diharamkan. Karena ia merupakan aspirasi kultural manusia dari ruang, waktu, kondisi, dan kecendrungan estetik yang khas. Dalam bahasa Pierre Bordieu, inilah yang disebut habitus. Dari sisi inilah sebaiknya kekisruhan diredam. Bahwa tilawah harus disadari hanya sebagai kebudayaan. Tidak lebih. (ISNA/Yaser Arafat)

[1] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: PT Rineka Cipta, Edisi Revisi, 2009), hlm. 165.

[2] Jakob Sumardjo, Filsafat Seni (Bandung: ITB Press, 2000), hlm. 41-42.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progressif, cet.xiv, 1997), hlm. 1074. Bandingkan dengan Ibnu Manzhur, Lisanul Arab (Cairo: Darul Maarif, tt.tp., jilid VI), hlm. 3475-3477.

[6] Ahmad at-Thowil, Fannut Tartil wa ‘Ulumuhu (Madinah: Majma’ Malikul Fahd, 1999).

[7]  HR.Tirmidzi. Lihat Syarafuddin an-Nawawi, Riyaadhush Shoolihiin (Beirut: Darul Fikr, 1978), hlm. 432.

[8] al-Bukhori, Shohih Bukhori (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 2006), hlm. 720.

[9] al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrok ‘alas Shohihayn (Cairo: Darul Haromayn, 1997), Juz I, hlm. 771-773.

[10] Ibid., hlm. 774-782.

[11] Jakob Sumardjo, op.cit., hal. 45.

[12] Ismail Raji al-Faruqi, Seni Tauhid; Esensi dan Ekspresi Estetika Islam (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999), hlm. 186-189.

[13] Dalam perspektif Cultural Studies, segala sesuatu adalah kebudayaan. Namun, di bawah nanti saya akan menetra pembicaraan tentang kebudayaan dalam derajat saya sebagai orang nusantara. Ditambah lagi, sebagai orang Nusantara, saya mengimani kebudayaan sebagai sesuatu yang dikerjakan manusia yang berakhlak-mulia atau berbudi. Sebagaimana ia bersumber dari kata: budhi dan daya. Dengan kata lain, dasar penciptaan kebudayaan adalah akhlak yang mulia.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: