Siapapun yang Tolak Keberagaman Berarti Ingkari Fitrah Kemanusiaan

Selasa, 07 Juni 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – SUNGGUH mengharukan membaca berita utama harian ini kemarin yang mengabarkan betapa toleransi dan keberagaman berkecamuk menjelang Ramadan.

Dari musisi hingga akar rumput berbeda agama yang dulu pernah berkonflik bersatu merayakan keberagaman menjelang dan selama Ramadan.

Fenomena itu menandai bangkitnya kembali kesadaran akan fitrah, hukum alam, atau sunnatullah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa fitrah kehidupan di semesta raya ini beragam dan berbeda.

Siapapun yang menolak keberagaman berarti mengingkari fitrah kemanusiaan. Ia tidak jujur kepada diri sendiri bahwa kehidupan di semesta alam sesungguhnya beragam, tidak seragam.

Puasa merupakan wahana melatih kejujuran.

Tidak berlebihan bila kita katakan Ramadan saat sangat tepat untuk memulihkan kejujuran diri bahwa dunia ini penuh warna dan simultan, tidak satu warna dan monoton.

Tumbuh kembangnya toleransi dan keberagaman saat Ramadan jelas menjadi mata air di tengah gurun kekerasan atas nama agama yang masih membentang di negeri ini.

Kita mesti merawat oase keberagaman yang menyejukkan dan mendamaikan itu agar tak lekas kering.

Tak boleh ada kelompok yang mencoba mencederai dan mengoyak kesejukan dan kedamaian Ramadan.

Negara harus hadir untuk memastikan hal itu.

Terus terang setiap menjelang Ramadan kita senantiasa dihantui ancaman dan aksi sweeping oleh kelompok-kelompok intoleran.

Kelompok-kelompok itu beralasan sweeping mereka lakukan terhadap orang-orang yang mengganggu ketertiban dan kesucian Ramadan.

Para pelaku kekerasan itu tak paham bahwa puasa ialah wahana menahan diri, bukan cuma dari nafsu makan dan minum, melainkan juga dari syahwat kekerasan.

Kekerasan dalam konteks ini jelas sebuah keburukan.

Itu artinya melakukan kekerasan untuk menumpas keburukan tak ubahnya menumpas satu keburukan dengan keburukan berikutnya.

Satu keburukan mungkin hilang, tapi keburukan baru pasti muncul.

Tindakan mereka jelas menyerobot hak dan kewenangan aparat keamanan.

Tahan dirilah dan serahkan kepada aparat keamanan.

Tak ada jalan lain kecuali negara juga harus hadir menindak siapa pun yang melanggar ketertiban umum supaya kelompok-kelompok tadi tak punya alasan untuk melampiaskan aksi mereka.

Namun, bila kelompok-kelompok itu tetap melakukan kekerasan, aparat tak boleh ragu menindak mereka.

Bila Ramadan berlangsung penuh keberagaman tanpa tercederai kekerasan, ia menjadi bulan berkah buat semua.

Lebih hebat lagi, bila kita mampu mempertahankan keberagaman itu selama-lamanya, ia kelak mendatangkan berkah bagi bangsa dan negara.

Berulang kali kita katakan bahwa Indonesia sedang berada pada tahap transisi demokrasi.

Tahap transisi sangat menentukan perjalanan bangsa, apakah akan maju menjadi negara demokrasi sesungguhnya atau mundur kembali menjadi negara otoriter bahkan fasis.

Maraknya intoleransi yang merupakan wujud penolakan atas keberagaman menjadi sandungan bangsa ini untuk mencapai demokrasi sejati.

Intoleransi dan kekerasan atas nama agama justru memurukkan kita ke masa lalu yang tak berperadaban.

Ramadan yang penuh keberagaman menjadi momentum penting bagi bangsa ini untuk menapaki jalan kesungguhan menuju demokrasi sebenar-benarnya. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: