Soal Yerusalem, PBNU: Ada Potensi Konflik Antar Agama di Seluruh Dunia

Minggu, 10 Desember 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Pengurus Besar Nahdhatul Ulama ( PBNU) khawatir persoalan pengakuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Yerusalem, Palestina sebagai Ibu Kota Israel, menggantikan Tel Aviv yang notabene adalah persoalan politik menjadi isu konflik antar agama.

“Terus terang kami khawatir ada pergeseran isu (politik) ke konflik antar agama. Tak hanya terjadi di Palestina tapi bisa di seluruh dunia,” ujar Sekretaris Jenderal PBNU Helmi Faishal Zaini dalam diskusi “Kotak Pandora Itu Bernama Yerusalem” di Gado-gado Boplo?, Menteng, Jakarta, Sabtu (9/12/2017).

Menurut Helmi, pergeseran isu tersebut menjadi saangat berbahaya, karena berpotensi menimbulkan konflik horisontal yang lebih luas di banyak negara.

“Ini kalau polarisasi terjadi akan menimbulkan konflik horisontal, membuat ketidakstabilan regional misalnya,” ucap Helmi.

Karenanya kata lanjut dia, PBNU sejak awal telah menjelaskan bahwa dukungannya kepada Palestina tak lain adalah karena kemanusiaan dan bukan karena lainnya.

“Ini sesuatu yang berbahaya, makanya PBNU dari awal memberikan penjelasan bahwa ini pembelaan kemanusiaan,” ujar Helmi.

“Ini kekhawatiran luar biasa, ini sudah mencabik-cabik hak bangsa untuk merdeka,” tambahnya.

Helmi pun berharap, Indonesia bisa berperan lebih dalam menyelesaikan persoalan konflik abadi Palestina-Israel tersebut, di tengah tersanderanya negara-negara Timur Tengah oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

“Posisi Timur Tengah sedang krisis dan lemah. Maka kita berharap Indonesia, punya peran penting melalui OKI dan mengutus menteri luar negeri dan komunikasi dengan jaringan ulama dunia,” terang dia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu (6/12/2017) waktu setempat.

Pengakuan tersebut dianggap Trump sebagai sebuah fakta penting untuk mencapai perdamaian antara kedua belah negara yang selama ini berkonflik.

Pemerintah AS juga memulai memproses perpindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Aksi ini merupakan salah satu pemenuhan janji kampanyenya kepada para pemilihnya.

Trump menyatakan keputusannya menandai dimulainya pendekatan baru untuk menyelesaikan konflik Israel dan Palestina. Dia mengklaim pemerintas AS tetap bertekad mengejar kesepakatan damai terhadap wilayah itu.

Presiden Joko Widodo sebelumnya telah menegaskan bahwa Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Amerika serikat terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pemerintah Indonesia, meminta Amerika Serikat mempertimbangkan kembali langkah tersebut.

“Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan meminta AS mempertimbangkan kembali keputusan tersebut,” kata Jokowi dalam jumpa pers di Istana Bogor, Kamis (7/12/2017). (ISNU)

Sumber: Kompas

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: