Sorogan, Metode Pembelajaran di Pesantren Salaf

pengajian-sorogan-ilustrasi-640x420Kamis, 10 Desember 2015

ISLAMNUSANTARA.COM – Salah satu ciri khas sistem pendidikan di pesantren salaf (tipe pondok pesantren tradisional di Indonesia) adalah pengajian sorogan. Disebut Sorogan, berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan.

Sistem pendidikan sorogan adalah metode pembelajaran di mana setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau ustadz yang menjadi asisten kyai.

Dalam buku sejarah pendididkan Islam dijelaskan, metode sorogan adalah “metode yang santrinya cukup men-sorog-kan (mengajukan) sebuah kitab kepada kyai untuk dibacakan di hadapannya.

Metode pembelajaran sorogan adalah Cara penyampaian bahan pelajaran dimana kyai atau ustazd mengajar santri seorang demi seorang secara bergilir dan bergantian, santri membawa kitab sendiri-sendiri.

Mula-mula kyai mebacakan kitab yang diajarkan kemudian menterjemahkan kata demi kata serta menerangkan maksudnya, setelah itu santri disuruh membaca dan mengulangi seperti apa yang tela dilakukan kyai, sehingga setiap santri menguasainya.

Metode sorogan terjadi interaksi saling mengenal di antara santri dengan kyainya. Di kalangan pesantren salaf, metode ini dinilai efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang alim.

Metode ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai bahasa berbagai macam keilmuan agama yang ditulis oleh penulis muslim era pertengahan dan dalam bahasa Arab klasik.

Dalam metode sorogan, murid membaca kitab kuning dan memberi makna sementara guru mendengarkan sambil memberi catatan, komentar, atau bimbingan bila diperlukan. Akan tetapi, dalam metode ini, dialog antara guru dengan murid belum atau tidak terjadi. Metode ini tepat bila diberikan kepada murid-murid seusia tingkat dasar (ibtidaiyah) dan tingkat menengah (tsanawiyah) yang segala sesuatunya masih perlu diberi atau dibekali.

Metode sorogan tidak saja dianut pesantren-pesantren salaf di Indonesia, metode ini juga diterapkan di Arab Saudi. Menurut penanggungjawab kegiatan di Masjid Nabawi, Sayyid Fariz, sebagaimana diwartakan NU Online 10 Oktober 2010, usai sholat maktubah di empat sayap bangunan Masjid Nabawi digelar pengajian.

“Para jamaah juga dapat mengaji kepada guru tertentu dengan enyodorkan kitabnya sendiri kepada seorang syeikh (sorogan) yang telah ditunjuk oleh pengelola Masjid Nabawi” kata Sayyid Fariz.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: